
Setelah tepat di hadapan Sasya, Raymond baru membuka mulutnya. " Nungguin kamu, lah. "
" Siapa juga yang minta ditungguin? " protes Sasya sambil melangkahkan kaki jenjangnya. Raymond yang sadar ditinggal begitu saja segera melangkahkan kakinya mengejar Sasya.
" Dasar tidak tahu berterimakasih! " maki Raymond. " Udah capek- capek nungguin malah ditinggal gitu aja. Bilang makasih kek."
Sasya terkekeh mendengar cowok di sampingnya menggerutu sebal. " Aku nggak minta ditungguin tuh, "ucap Sasya sambil menerbitkan senyum tipisnya yang terkesan mengejek.
Namun senyum itu dengan cepatnya memudar setelah sepasang netra Sasya mendapati seorang yang ingin disusulnya telah berjalan memasuki kelas mereka.
Raymond seketika ikut menghentikan langkahnya saat menyadari gadis di sebelahnya berhenti dengan tiba-tiba. Bahkan keceriaan yang selalu dia lihat menghiasi wajah cantik itu kini menghilang berganti mendung.
Tanpa berpikir panjang Raymond menarik lengan Sasya dan mengajaknya meneruskan perjalanan dengan tujuan ke kantin.
" Udah, ayo ikut sekalian ada hal penting yang harus aku bicarakan, " tukas Raymond memaksa Sasya menggerakkan kedua kakinya ke depan.
Sasya yang saat itu sedang galau hanya mengikuti saja. Dia bahkan sedang menyesali karena tak jadi membicarakan sesuatu pada sahabatnya yang entah mengapa Sasya merasa sedang dihindari olehnya secara tidak langsung.
Mereka berdua akhirnya sampai di kantin yang sudah sepi. Hanya tinggal beberapa saja yang terlihat mengisi ruang kotak yang cukup luas tersebut membuat mereka bebas memilih tempat untuk mereka menikmati menu yang dipesan.
Raymond memilih tempat biasanya yang sudah menjadi tempat favorit mereka. Pria tampan itu langsung menuju mbak Ine, sang penguasa kantin untuk memesan sesuatu lalu kembali menghampiri Sasya.
Sasya masih terdiam. Ekspresi wajahnya datar. Pandangannya kosong. Namun Raymond hanya bisa bertanya- tanya dalam hati. Sebab dia tak mungkin bertanya langsung karena dia yakin dia pun tak akan mendapatkan jawaban malah dia akan menjadi sasaran pelototan mata sipit itu.
Dua gelas es jeruk dan dua mangkok bakso sapi sudah memenuhi meja. Raymond segera menyeruput es jeruknya karena memang dia merasa kerongkongannya sudah sedari tadi mengering.
Raymond menatap gadis di depannya yang mulai menyuapkan bakso ke mulut mungilnya yang kemerah-merahan. Merasa ada yang mengawasi Sasya buru-buru mendongakkan kepalanya. " Ngapain ngelihatin aku kayak gitu? " ucap Sasya saat mendapati sepasang manik hitam di depannya sedang menatap intens dirinya.
Raymond gelagapan seperti maling yang tertangkap basah oleh empunya rumah. " Iya emang aku udah cantik begini dari lahir, tapi nggak perlu sebegitunya juga kali menatapnya. "
Raymond justru tertawa saat mendengar Sasya melanjutkan bicaranya. " Kenapa tertawa? Ada yang lucu? " Sasya mulai kesal merasa jadi bahan tertawaan pria tampan itu.
Raymond tak menyahut. Sepertinya dia masih asyik dengan tawanya. Sasya mengerucutkan bibirnya kesal namun justru tampak menggemaskan bagi Raymond. " Sepertinya kamu terlalu percaya diri, Sya. "
Akhirnya Raymond tersenyum sumrik. Seperti orang yang menginginkan sesuatu dan dia berhasil mendapatkannya. " Aku akui kamu cantik apalagi kalau sudah ngambek begini, " tawa Raymond kembali terdengar. Sasya sampai menggigit bibir bawahnya menahan emosi yang serasa ingin segera meledak di dadanya. Ada rasa sesal di hatinya. Seharusnya dia tadi ke kelas saja menyusul Vega.
Raymond menyadari candaannya membuat gadis ayu di hadapannya semakin kesal. " Aku hanya bercanda Sya, hanya ingin melihatmu tersenyum, Maaf jika malah membuatmu kesal. " Sasya terbelalak kaget. Matanya menatap tajam.Bukan karena perkataan Raymond tapi karena barusan Raymond mengusap puncak kepalanya. Hal yang tak pernah dialami Sasya sebelumnya karena Sasya memang selalu menjaga dirinya dalam pergaulan dengan teman laki-lakinya.
Melihat Sasya melotot tajam Raymond mengerti dia melakukan kesalahan pergerakan. Raymond sendiri tak menyadari kelancangangannya itu. Reflek saja dia melakukan kebiasaannya itu dulu saat masih bersama Lia.
"Sorry, Sya. " Sasya mendengus halus. Dia mencoba menguasai dirinya agar tidak meledak saat ini yang akhirnya akan mempermalukan dirinya sendiri.
" It's okay but don't again. " Raymond mengangguk mantap. Dia tersenyum kagum. Sepertinya gadis di depannya ini sangat menjaga diri dalam pergaulan terutama dengan lawan jenis. Setelah Raymond ingat-ingat dia memang tak pernah melihat ada kontak fisik antara Sasya dan teman laki-laki manapun walau Sasya akrab dengan banyak teman laki-laki. Hal itu mengingatkan Raymond dengan seseorang yang saat ini sangat dirindukannya. Karena kemiripan sifat dan sikap mereka. Siapa lagi kalau bukan Lia. Satu-satunya wanita yang sampai saat ini masih menempati hatinya. Sayangnya mungkin mereka memang tak berjodoh karena nyatanya hubungan mereka kandas di tengah jalan walau secara sepihak dan itu membuahkan penyesalan yang sampai saat ini masih sangat menyiksa batin Raymond. Rasa bersalah yang begitu besar terhadap orang terpenting dalam hatinya membuat dia seakan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Lagi-lagi Sasya menghembuskan nafas kasar. Dia mencoba berdamai dengan hatinya. " Tadi katanya ada yang ingin dibicarakan? " tanya Sasya dengan nada datar. Hal itu membuat Raymond bernafas lega. Setidaknya gadis bermata sipit itu tidak dalam mode marah lagi.
" Oh iya. Ini soal permintaan bu Indri, " Raymond tampak ragu melanjutkan perkataannya.
" Kenapa? " sambar Sasya santai sambil menyesap sisa es jeruk dalam gelasnya.
Mendengar nada bicara santai keluar dari mulut mungil itu seakan membuat keraguan Raymond sirna seketika. " Kamu tidak perlu memaksakan jika memang tidak ingin melakukannya. Aku sama sekali tidak keberatan. "
" Memangnya kenapa? Kamu meragukan ku? "
" Bukan begitu, Sasya. Kamu jangan salah paham. Aku sama sekali tidak meragukan kemampuanmu. Hanya saja aku tidak mau kamu melakukannya dengan terpaksa. "
Sasya hanya tersenyum menyeringai. " Kamu tidak perlu khawatir. Jika aku sudah memutuskan sesuatu maka itu bukanlah sebuah keterpaksaan. Aku akan meminta izin pada bunda dulu setelah mendapatkannya aku akan mengabarimu. "
Raymond mengembangkan senyum lebarnya yang menambah aura ketampanannya. Dalam sekejap gadis bermata sipit itu takjub akan ketampanan pria di depannya. Namun secepatnya dialihkannya pandangan mata sipitnya itu. Dia tidak mau terhanyut lebih dalam.
Tak dapat dipungkiri rasa kagum Raymond terhadap gadis cantik di hadapannya semakin bertambah. Apalagi perkataan yang barusan dilontarkan oleh bibir merahnya itu menandakan kedewasaannya sudah berkembang dengan baik.
Tanpa disadari oleh keduanya ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi mereka. Dia adalah Marissa teman sekelas Sasya dan Raymond. Gadis cantik dengan sapuan tipis make up di wajah putihnya itu sempat tak percaya dengan apa yang sedari tadi dilihatnya. Marissa memang tak terlalu dekat dengan keduanya. Tapi tentu saja mereka bertiga saling mengenal satu sama lain. Hanya saja ada kenangan tidak mengenakkan hati yang dialami antara Marissa dan Raymond. Lebih tepatnya untuk Marissa karena bagi Raymond sama sekali tak diingatnya pertemuan mereka kala itu.
Bersambung...