
Hari terus berganti. Kini semangat Sasya mulai pudar. Belajar bersama Raymond pun dilakukannya dengan setengah hati. Semua itu hanya gara-gara perubahan sikap sahabat perempuan satu-satunya di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Vega Milla Santoso. Sasya sudah berusaha mengajak bicara dari hati ke hati tapi selalu gagal. Terasa jelas Vega selalu menghindar. Gadis berambut ikal sebahu itu sekarang menjadi pribadi yang dingin dan irit sekali berbicara.
" Sepertinya kamu lagi banyak fikiran ya, Sya? " ucap Raymond saat melihat Sasya tengah melamun usai memberinya beberapa soal. "Dari kemarin- kemarin kamu terlihat tidak fokus menyampaikan materi. Bahkan aku selalu melihat kamu melamun, " lanjut Raymond.
Sasya sudah tak bisa berkilah lagi tapi tetap saja dia enggan menceritakan apa yang mengganggu fikirannya. Sasya tersenyum kaku. Menghela nafas kasar. " Maaf Ray sepertinya hari ini sampai di sini aja ya, aku memang sedang tidak fokus. Aku mau pulang sekarang. Kita bisa lanjut besok. Aku janji besok aku akan lebih fokus lagi. "
Sasya kemudian mengemasi alat tulisnya. Raymond pun demikian. " Biar aku antar kamu pulang. " Raymond menawarkan seperti biasanya
Saya mengangguk malas. Karena menolak pun juga percuma. Seperti biasanya Raymond memang tak menerima penolakan. Apalagi memang arah rumah Raymond melewati rumah Sasya.
Dalam perjalanan pulang tak ada yang bersuara. Hening. Sasya sendiri tengah asyik dalam dunia lamunannya. Raymond pun memang tak ingin memaksa gadis di sebelahnya ini untuk bercerita tentang masalahnya.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya Sasya masih sama seperti itu. Lebih banyak diam dan melamun. Dia berusaha mengajak bicara Vega. Tapi lagi-lagi Vega hanya diam dan menggeleng. " Kamu ini sebenarnya kenapa, Ve? Kalau aku ada salah tolong tunjukkan dimana salahku. Jangan diam begini terus, Aku mohon, " Sasya terus berusaha.
Vega tersenyum getir. " Kalau begitu pulang sekolah ini temani aku nonton. "
Deg!
Jujur saja dia ingin mengiyakan ajakan sahabatnya ini tapi di sisi lain dia tidak enak hati pada Raymond karena kemarin dia sudah membatalkan jadwal belajarnya dan berjanji untuk fokus hari ini.
Vega tersenyum sinis melihat sahabatnya hanya diam. Akhirnya dia berspekulasi sendiri. " Sudahlah tidak apa kalo kamu nggak bisa. Aku pulang. "
" Tapi, Ve," Sasya sampai menggigit bibir bawahnya sendiri karena bingung harus bagaimana menyikapi keadaan ini. Seandainya dia belum terlanjur berjanji pada Raymond pasti dengan senang hati dia mengiyakan ajakan Vega. Sasya selalu ingat pesan Bunda untuk menepati janji yang sudah terucap dari mulutnya.
Sasya memulai jam tambahan nya untuk Raymond. " Emm, Ray. Besok boleh ya aku libur dulu. Aku lagi kangen Vega. Mau jalan bareng. " Sasya menyampaikan keinginannya sebelum mulai menyampaikan materi.
Raymond tersenyum renyah. " It's no problem, Sasya ". Sasya tersenyum lega. Dia jadi lebih tenang. Berharap besok dia dan Vega bisa kembali dekat. Dia mulai fokus dalam penyampaian materi.
Raymond tersenyum lega melihat Sasya hari ini fokus sebagaimana Sasya yang dulu. Raymond berharap masalah gadis bermata sipit itu sudah selesai.
" Ini soalnya kamu kerjain ya, aku mau ke toilet. " Sasya beranjak kemudian berlalu.
Seorang gadis berambut hitam sebahu keluar dari toilet. Mata sipit nya nanar memandang ke segala arah. Terlihat di beberapa kelas dipenuhi siswa yang ikut ekstrakurikuler tertentu. Ada juga yang masih asyik bersenda gurau di kantin. Terlihat juga mushola yang penuh dengan kegiatan rohis. Tiba-tiba pandangan Sasya terhenti pada satu sosok yang duduk di taman belakang sekolah. Gadis itu duduk dengan posisi membelakangi Sasya. Namun entah mengapa dia yakin sekali sosok itu adalah Vega. Sasya bergegas berlari menuju taman belakang.
Bersambung...