
Wajah putih dengan hidung mancung itu terlihat lebih sempurna saat ada seulas senyum yang menghiasi. Hanya saja jarang sekali senyuman itu terlihat.
Raymond memang bukan typikal orang yang murah senyum seperti Sasya. Jadi Sasya menyempatkan waktu untuk menikmati pesona wajah tampan itu saat ini. Ya, saat ada seulas senyum mampir di bibir seksi nya. Jarang- jarang kan dia bisa menikmatinya. Haha... Begitulah yang ada di pikiran Sasya.
Sedang Raymond yang tak menyadari sedang dinikmati oleh Sasya terus berjalan menuju kelas kebanggaannya. Sialnya pemandangan itu tak luput dari pandangan seseorang yang hendak menghampiri mereka tapi segera mengurungkan niatnya saat melihat Sasya yang menatap intens cowok di sampingnya.
Akhirnya mereka sampai di depan kelas 1A. Mereka melangkah melewati pintu bersamaan. Mereka menuju kursi masing-masing dan meletakkan tas mereka.
" Vega dan Arvin kog belum nyampe, Sya? " tanya Raymond saat duduk di kursinya.
" Bentar lagi kali, " balas Sasya santai sambil menyiapkan buku pelajaran pertamanya.
" Oh ya, Silvy nanyain kamu melulu. Katanya kangen kakak cantik. Kenapa nggak main lagi? "
Sasya meringis. Sasya memutar badannya sehingga berhadapan dengan Raymond. " Bilangin peri kecil ya, kakak cantik lagi sibuk les tambahan buat persiapan ujian bulan depan. "
" Baiklah, " ucap Raymond datar. Ya, wajah Raymond sudah kembali ke setelan awal. Wajah yang dingin dan datar.
Sasya segera memutar badannya kembali. Sasya menjadi sebal sendiri saat wajah tampan Raymond kembali ke mode es batu. ' Kog ada ya orang kayak dia. Wajah tampannya jadi menyebalkan karena mode es batu. Padahal tadi wajahnya terlihat sangat tampan saat tersenyum. Kalau udah berubah gini kan jadi horor. Serem. Mubadzir kan jadinya punya wajah tampan. ' Kecamuk Sasya dalam hati.
" Vega, ngagetin aja kamu, " keluh Sasya namun tak mendapat respon dari yang bersangkutan. Sasya terbelalak kaget karena ini adalah hal yang tidak biasa bagi cewek berambut ikal sebahu itu.
Sasya segera mendaratkan punggung tangannya di kening Vega. " Kamu nggak sakit kan, Ve? " Sasya tetap tidak mendapat jawaban dari yang ditanya. " Aman, " gumamnya lirih saat mendapati suhu tubuh sang sahabat dalam batas normal.
" Ni anak kenapa sih? Tumben kalem amat, " gumam Sasya lirih namun Vega masih bisa mendengarnya. Itu memang disengaja oleh Sasya dengan harapan kali ini mendapat respon dari sahabatnya.
Namun sayangnya Vega tetap membisu. Hal itu tentu membuat Sasya bingung sendiri. Sasya menepuk lembut lengan Vega. " Kamu ada masalah, Ve? " tanya Sasya memberanikan diri.
Kali ini Sasya akhirnya mendapat gelengan kepala dari yang ditanya. Sasya senang karena akhirnya sang sahabat meresponnya.
Bel pulang telah berkumandang. Suara nyaringnya menggema di seluruh penjuru SMA XX. Disusul riuh ramai tawa riang dari seisi sekolah terkecuali satu warga kelas 1A yang sedang membereskan alat tulisnya dengan malas. Siapa lagi kalau bukan Vega gadis berambut ikal hitam sebahu itu.
Entah mengapa sikapnya aneh sekali hari ini. Seperti bukan Vega yang Sasya kenal. Sangat bertolak belakang. Bahkan seharian mereka tak saling bicara. Vega hanya diam, mengangguk atau menggeleng jika diajak bicara.
Sasya juga sudah berulang kali membujuk Vega untuk bercerita jika ada masalah tapi tak berhasil membuat cewek cantik itu menguak apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuatnya berubah menjadi pribadi yang lain.
Bersambung...