Miss My Sister

Miss My Sister
Aku Benci Tama



Hari sudah berganti. Tepat seminggu Sasya tak berangkat sekolah.Kegalauan Raymond semakin menjadi. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Kabar terakhir yang dia dapat dari pak Yossep, supir keluarga Setyawan saat Raymond mengunjungi kediaman Setyawan bahwa semua anggota keluarga Setyawan pergi ke luar kota karena ada urusan penting.


Entah mengapa belakangan ini di kepala Raymond selalu hadir bayangan gadis berambut sebahu itu. Ditambah banyaknya pertanyaan yang dilontarkan oleh adik tersayangnya." Kak Raymond tidak datang bersama kakak cantik ya?"


" Kakak cantik gak dateng jenguk Silvy kah? "


"Mana kakak cantik?


" Kenapa kakak cantik nggak datang nemui Silvy lagi kak? "


"Besok ajak kakak cantik kerumah ya, Kak? "


Ya seperti itulah pertanyaan yang setiap pulang sekolah beberapa hari ini dilontarkan yang berhasil membuat Raymond kalang kabut untuk menjawabnya.


"Semoga kamu cepat kembali, Sya. " Gumam Raymond lirih.


Sedangkan di seberang sana


Sasya tampak menyuapi Chika dengan segala upaya. Semenjak sadar, Chika sangat susah makan. Hanya dengan Sasya makanan itu berhasil masuk ke mulut Chika walau tak banyak.


Kondisi mental Chika masih labil. Kadang tertawa sendiri kadang menangis sendiri. Sasya miris melihatnya. Dia tak sampai hati menanyakan perihal penyebab kejadian sebenarnya. Dia takut membuat Chika histeris lagi.


Kemarin saat Sasya memberanikan diri bertanya Chika justru bersikap memprihatinkan. Ya bahkan sudah seperti orang gila. Menangis, tertawa, memaki sampai berteriak histeris. Sasya tak sampai hati melihat sosok tegar yang selama ini dia kagumi justru menjadi serapuh ini. Tama. Ya semua ini gara-gara dia. Dasar pengecut! umpat Sasya dalam hatinya.


Hari ini Chika keluar dari rumah sakit. Diluar kondisi psikisnya, kondisi kesehatan fisik Chika semakin membaik. Oleh karena itu dokter memberikan ijin untuk pulang. Dokter hanya menyarankan jika emosional Chika terus seperti itu lebih baik di bawa ke psikiater. Sungguh miris hati ini mendengarnya.


Bersamaan dengan keluarnya Chika dari rumah sakit, bunda Nayla, ayah Riko dan Mel memutuskan untuk pulang ke kota S. Namun Sasya memutuskan untuk tetap tinggal selama beberapa waktu. Ayah Riko pun tidak melarang Sasya, toh dari seminggu yang lalu Mel dan Sasya melakukan home schooling jadi ayah Riko tak perlu mengkhawatirkan mengenai sekolah anak- anak.


Setidaknya beliau berharap dengan adanya Sasya bisa sedikit menguatkan Chika.


"Jujur aja aku seneng banget kamu tetap tinggal, Sya, " ucap Chika saat mereka duduk di taman belakang rumah Chika.


Sasya tersenyum. Sejuknya udara pagi membuat hatinya merasa sedikit lebih tenang. " Tapi... "Saya menggantung kalimatnya membuat Chika menoleh penuh.


" Tapi apa Sya? "tanya Chika yang tak sabar menunggu Sasya melanjutkan kalimatnya.


" Tapi aku gak akan mau nemenin kamu lagi kalo k


amu terus-terusan jadi anak cengeng. " Sasya memberanikan diri untuk berkata sedikit tegas terhadap sepupu yang amat disayanginya. Dia tahu waktunya tidak banyak lagi. Dia juga harus ke sekolah lagi, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Chik dalam keadaan seperti ini.


Air muka Chika seketika berubah masam.Dan Sasya tahu itu pasti akan terjadi. Namun tidak bisa ditunda lagi. Dia harus secepatnya mengembalikan Chika menjadi Chika yang dulu. Chika yang kuat dan tegar walau Sasya tahu itu bukan hal yang mudah.


Sasya menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Chika. "Let's Go Chika! Aku tahu kamu cewek yang kuat. Lawan semua ini Chika, aku tahu ini berat tapi aku yakin kamu pasti bisa! "


Chika tak bergeming. Hanya butiran bening yang menyeruak keluar. Lama-lama isak tangis pun mulai terdengar.


Sasya membiarkan keadaan ini beberapa waktu. Di berharap Chika bisa melampiaskan emosinya terlebih dahulu. Harapannya setelah emosinya terkuras habis, Sasya bisa berbicara dengan hati Chika yang sudah tenang.


"Kamu tidak tahu Sya seberapa sakit yang aku rasakan saat ini, "yang ditunggu Sasya akhirnya terjadi. Chika kini mulai menyuarakan hatinya.


Sasya tak merespon apa-apa karena dia ingin saat ini Chika bisa meluapkan semua isi hatinya.


" Tegarnya aku ada batasnya Sya. Jika aku disuruh memilih mending aku di maki di depan aku. Diputuskan pun tak apa. Mungkin aku akan jauh lebih kuat dan tak akan sampai bertindak bodoh seperti ini. "


"Maksudnya? Jadi apa maksud kamu Tama tidak memutuskan kamu? " Sasya terpaksa merespon kali ini karena jujur dia sangat kaget dengan ucapan Chika barusan. Kalo tebakannya benar berarti kami semua salah mengira. Karena kami pikir Chika mencoba bunuh diri sebab tak bisa menerima diputusin oleh Tama.


Chika menggeleng pelan dan itu sudah cukup menjawab. "Bahkan aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba dia menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada satupun pesan yang ditinggalkan untukku. Nomor HP pun sudah tak aktif. Aku berusaha mencari ke semua temannya tapi hasilnya nihil. Mereka juga tak percaya Tama tiba-tiba menghilang seperti ini.Mereka bilang sebelumnya pun semua baik- baik saja. "


"Apa sebelumnya kalian bertengkar?"


Chika menghela nafas panjang. "Tidak sama sekali. Kami bahkan habis berkencan. Tidak ada satupun yang mencurigakan. Sama sekali tak ada tanda- tanda dia akan pergi. Semuanya masih seperti biasanya, Sya. Dia masih seperti Tama yang sebelumnya. Sama sekali tidak ada kejanggalan, Sya. Lantas apa yang membuatnya pergi, Sya?Apa salahku, Sya? " Chika menangis tersedu-sedu. Emosinya mulai naik. "Kalo emang aku berbuat salah kenapa dia tidak bilang padaku, Sya? Aku pasti akan memperbaikinya. Tapi kenapa dia malah pergi meninggalkan seribu tanya seperti ini! " nada suara Chika meninggi, naik tiga oktaf sekaligus.


Sasya hanya merengkuh erat sahabat sekaligus sepupunya itu. Mengelus punggungnya dengan lembut. Berharap bisa membuatnya lebih tenang.


"Apa salahku, Sya sampai dia meninggalkan aku seperti ini? Hiks..." suara Chika bergetar. Kali ini suaranya merendah hampir seperti berbisik bersamaan isak tangis yang masih terdengar.


"Sabarlah Chik," nasihat Sasya sambil terus mengelus punggung Chika. "Kita memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi aku ykin Tama punya alasan atas semua ini. Kalo emang dia memutuskan untuk pergi dari kamu apapun alasannya, entah berniat baik atau tidak maka kamu harus bisa melupakan dia. Kamu harus bangkit Chik! Buktikan kalo tanpa dia kamu tetap baik- baik saja. Hanya dengan membuktikan itu kamu bisa membalas sakit hatimu saat ini suatu saat nanti.Apa kamu mengerti?"


"Ini tidak semudah itu. "


"Ya, aku tahu Chik kalo semua ini pasti berat untuk kamu. Tapi kamu harus ingat hanya dengan menjadi lebih kuat akan menjadikan kamu menang saat kalian bertemu lagi suatu waktu nanti. Kamu harus menunjukkan kalo dia tak berarti apa-apa. Dan kamu tetap baik-baik saja meskipun tanpa dia. "


"Tapi kenyataannya aku tidak baik-baik saja tanpa dia, Sya. Aku tidak bisa. Hiks... hiks... " Chika menangkupkan kedua tangannya menutup wajah cantik naturalnya.Tangisnya semakin menjadi.


Sasya membuka paksa tangkupan di wajah Chika. "Kamu bisa Chik! Hei, lihat aku Chik! Aku tahu kmu bisa! " Sasya menegaskan ucapannya mencoba memberi semangat untuk sahabatnya.


Chika hanya menggeleng lemas. Dan itu justru memicu amarah gadis di depannya.


"Jadi kamu mau saat bertemu dengan Tama nanti kamu menjadi sosok yang lemah dan tak bisa apa-apa karena telah ditinggalkannya! Lalu di akan meremehkan kamu. Tertawa penuh kemenangan melihat betapa lemahnya kmu tanpa dia! " Sasya mulai berapi-api.


Sebenarnya kemarahannya tertuju untuk seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya. Sasya sangat benci dengan sikapnya yang tidak bertanggungjawab. Pengecut. Memang benar apa yang Chika bilang bahwa akan lebih baik mendengar semua caci maki bahkan hal yang menyakitkan sekalipun. Daripada digantung seperti ini. Tak tau letak kesalahannya namun harus menanggung hukuman yang amat menyakitkan.


'Aku benci kamu, Tama. Walau kita tak saling mengenal. Walau sebelumnya banyak cerita yang baik-baik tentang dirimu dari Chika, tapi sungguh aku benci kamu karena kamu terlalu pengecut dalam menghadapi masalah kamu dengan Chika. Apapun alasannya kamu sudah membuat Chika sengsara. Menjadikan dia pribadi yang rapuh, serapuh-rapuhnya. Bahkan nyawanya hampir saja tak terselamatkan.Jika suatu saat aku bertemu denganmu aku pastikan akan membuat perhitungan denganmu,'tegas Sasya dalam hatinya.