Miss My Sister

Miss My Sister
Pewaris Setyawan Group



Seminggu telah berlalu dan sikap Nayla masih sama. Hal itu pastinya membuat Sasya jauh dari kata nyaman. Biasanya dialah yang lebih dekat dengan bundanya.


Sasya memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Nayla. Dia sudah bersikeras memberanikan diri untuk membicarakan perubahan sikap bundanya.


Tok...


Tok...


Tok...


" Masuk, " sahut Nayla mempersilahkan. Nayla terhenyak saat menyadari anak sulungnya yang bertamu ke ruang kerjanya.


" Maaf jika mengganggu bun, Sasya ada yang mau dibicarakan. "


Nayla mengangguk datar. " Duduklah. "


Sasya duduk di depan Nayla di kursi yang sama saat seminggu yang lalu bunda Nayla mengadakan sidang untuknya.


" Apa yang ingin kamu sampaikan? Bunda sedang banyak pekerjaan ini."


Sasya menghela nafas kasar. ' Belum belum udah bilang gini sih, bun. Bikin Sasya ciut aja, ' protes Sasya dalam hati.


" Bun, " Sasya menghembuskan nafas panjangnya. " Sasya benar-benar minta maaf atas ketidakjujuran Sasya kemarin. Sasya tahu Sasya salah dan Sasya sudah berjanji akan lebih hati- hati lagi di kemudian hari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. "


Nayla tersenyum tipis tapi sayang Sasya tak melihatnya karena dia dalam posisi menunduk. " Kamu kan sudah minta maaf kemarin dan bunda juga udah bilang maafin kamu, kan? "


" Sasya tahu, tapi Sasya merasa masih ada yang mengganjal. "


" Maksud kamu? "


" Sasya merasa sikap bunda berbeda semenjak hari itu. Sasya sangat sedih dengan sikap bunda yang dingin itu. "


Nayla tersenyum kemudian beranjak mendekati anak sulung yang sangat dia banggakan. Ya sebelum perkara kebohongan itu. Namun bagaimanapun setiap orang pasti bisa saja berbuat kesalahan dan yang terpenting adalah itikad baik orang tersebut untuk memperbaikinya.


Jantung Sasya berdetak lebih cepat saat melihat bundanya berjalan ke arahnya.


Nayla mengusap puncak kepala anak gadisnya yang cantik itu. " Sya, bunda udah maafin kamu kok. Kamu hanya harus membuktikan ucapan kamu tadi untuk tidak mengulanginya lagi. "


Sasya tersenyum lega saat bunda Nayla merengkuhnya dari belakang. " Terimakasih, bun. "


Tes.


Tes.


Tes.


Tak terasa butiran hangat menetes ke pipi Sasya yang putih mulus kemerah-merahan. Betapa bahagianya dia. Dia merasa sangat rindu pelukan itu. Pelukan hangat yang seminggu ini tak dia dapat sama sekali.


" Malah nangis. Dasar cengeng! " Ejek Nayla saat menyadari anak gadisnya menangis. Dia memang sengaja bersikap dingin beberapa hari ini karena dia memang ingin tahu seberapa dewasanya anak pertamanya ini. Dan Nayla sudah bisa memastikan kedewasaan anak gadisnya ini sudah mulai terbentuk.


" Sudah sudah jangan nangis terus, bunda mau lanjut kerja ini. " Sasya dan Nayla terkekeh bersama. Mereka saling mendekap penuh kasih sayang. Lega sudah ganjalan hati yang seminggu ini bersemayam mengganggu ketentramannya.


" Terimakasih ya, bun. Sasya sayang bunda, " Sasya melepas dekapannya lalu mengecup pipi Nayla yang masih sangat terasa kencang diusianya yang sudah tak muda itu.


" Semangat! " ucap Sasya saat hendak menutup pintu ruang kerja Nayla. Nayla tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


🍀🍀🍀


" Kamu belum selesai, sayang? " Riko mendekap Nayla dari belakang masih dalam posisi Nayla duduk di kursinya.


" Bentar lagi ayah, " ucap Nayla menjawab pertanyaan sabg suami.


" Aku kan udah bilang jangan terlalu berat bekerja. Biar aku saja yang meng-handle semuanya. Kamu memang paling susah disuruh nganggur. "


Nayla terkekeh. Dia menyadari dia memang sudah diminta oleh suaminya untuk tidak ikut serta mengelola perusahaan Setyawan tapi dia tidak pernah mau mengabulkan permintaan suami tercintanya itu. Dia lebih memilih ikut terjun membantu suaminya. Apalagi anak- anaknya sudah besar, kilahnya.


Dari muda Nayla memang tidak suka menganggur. Dia bukan salah satu tipe perempuan yang suka duduk manis di rumah atau bahkan berbelanja seperti umumnya banyak dilakukan para wanita di luar sana. Apalagi dia dibekali intelegensi yang cukup cerdas sehingga dia tak akan menemui banyak kesulitan di setiap pekerjaan yang dia lakukan. Sikap ramah dan berwibawa membuatnya dihormati semua karyawannya.


" Tadi aku lihat, Sasya dari sini, sayang. Apa kau menyuruhnya mulai belajar bisnis? " tanya Riko sambil mengecup puncak kepala istrinya.


Nayla terkekeh. " Emang boleh? Bukankah kamu yang selalu wanti- wanti agar aku bersabar sampai dia lulus SMA? "


" Baguslah kalau kamu mengerti, sayang. Sebenarnya aku tak tega jika memaksanya menjadi pewaris Setyawan Group kelak. Tapi mau gimana lagi kita tak ada pilihan lain. Anak kita gadis semua. Dan kandidat yang memenuhi kriteria juga jatuh padanya. Sayang sekali aku juga tak punya saudara. Setidaknya jika ada mungkin anak mereka saja yang meneruskan usaha keluarga ini. "


Nayla tersenyum mendengar keluh kesah ayah dari anak-anaknya ini. " Sudahlah jangan terlalu khawatir, sayang. Karena aku sangat yakin Sasya bisa menjadi yang terbaik nantinya. Apa kamu lupa dia mewarisi semua yang ada pada diriku. Bukankah kamu selalu berkata aku adalah pemimpin yang ideal. Lalu apa yang kamu khawatirkan dengan Sasya? "


" Aku tahu itu, Sayang. Hanya saja dia harusnya... "


" Laki-laki maksud kamu? " Nayla cepat menyambar perkataan suaminya. " Apa salahnya jika dia seorang wanita, ayah? "


" Aku tidak pernah mempermasalahkan penerus Setyawan Group adalah laki-laki atau perempuan. Aku hanya tidak tega melimpahkan semua tanggungjawab ini kepadanya kelak. "


" Sudahlah, percaya sama aku. Suatu saat nanti jika saatnya tiba kamu akan tersenyum sangat bangga kepadanya. Karena aku sangat yakin Sasya memang orang yang tepat, Sayang. "


Riko menghembuskan nafas panjang. Berusaha memantapkan hati akan pilihan yang memang sudah diputuskannya jauh- jauh hari sebelumnya bersama istrinya.


" Sudah malam, ayo kita istirahat, " ajak Nayla saat memandang jam dinding di ruang kerjanya yang tak berhenti berputar walau sedetikpun.


Riko mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan keluar dari ruang kerja Nayla menuju kamar utama, kamar sepasang suami-istri itu.


Di kamar Sasya


" Udah malam, Melisya Ananda Setyawan. Cepat pindah ke kamar kamu, aku mau tidur. " Sasya melotot ke arah adiknya.


" Bentar kakakku sayang, tinggal lima halaman lagi ini udah end, " protes Mel yang kedua matanya masih saja fokus pada novel yang dia baca.


" Bawa aja sana ke kamar kamu. Mbak mau tidur, Mel. "


" Iya- iya, Mbak Sasya bawel amet sih. "


Mel berdiri dan menuju pintu kamar untuk keluar.


Dug!!!


" Auw!" rintih Mel saat merasakan sakitnya kening mulusnya mencium daun pintu kamar kakaknya.


Sasya cekikikan. " Makanya jalan pake mata, non. Jangan mata buat baca novel terus. Hihihi... "


Mel mengerucutkan bibir seksinya. Tangannya mengelus keningnya yang masih sakit. Dia segera meninggalkan kakaknya atau kakaknya akan meneruskan ejekannya.


Sampai di kamar Mel merebahkan tubuhnya posisi tengkurap. Rasa penasaran akan ending cerita novel yang dipinjamnya dari kakaknya seakan membuatnya lupa akan rasa sakit di keningnya.


Bersambung...