
Salma memperhatikan kedua anak kesayangannya yang sedang bercanda di taman belakang. Seulas senyum manis mengembang menghiasi bibir tipisnya yang merah.
Akhirnya Salma mendekati mereka mencoba masuk dalam keakraban kedua anaknya. " Asyik bener nih. Mama boleh gabung nggak? "
Raymong dan Silvy sama-sama menoleh ke arah sumber suara. " Boleh dong, ma, " jawab keduanya serempak tanpa dikomando.
" Lagi ngobrolin apa sih, sayang? Kayaknya asyik banget." Salma ikut duduk di kursi sebelah Silvy.
" Campur -campur ma, " jawab Silvy membuat kakak dan Mamanya tertawa.
" Emang es campur apa dek, kog campur - campur? " timpal Raymond.
" Hahaha... " Silvy malah tertawa menyadari betapa konyolnya jawabannya tadi.
" Jadi pingin es campur nih mama. Kayaknya seger nih minum es campur, " celetuk Salma.
" Kita bikin sendiri aja, ma. Pasti lebih sehat dan higienis. Mama kan jagonya buat es campur dan sup buah, " lanjut Raymond.
" Iya, ma. Silvy masih keinget deh rasa es campur buatan mama. Seger dan mak nyus banget ,"timpal Silvy.
" Ok deh kalo gitu nanti mama akan belanja untuk keperluannya. Tapi nanti kalian bantuin mama, ya. "
" Siap! " jawab Raymond dan Silvy kompak.
Salma akhirnya belanja ke supermarket ditemani oleh Silvy. Raymond menawarkan diri untuk ikut belanja tapi Salma langsung menolaknya dengan alasan tidak boleh kecapean.
Sepeninggal mama dan adiknya, Raymond termenung di kamarnya. Dia merasa tersinggung dengan penolakan sang mama. Sekarang dia merasa menjadi seseorang yang tak bisa melakukan apapun. Sedikit - sedikit tidak boleh nanti kecapean lah. Kamu belum sembuh betul lah. Kamu harus ini lah itulah tidak boleh ini tidak boleh itu. Semua itu membuat Raymond merasa tak berguna sama sekali.
' Andai ada Lia di sini. Dia pasti tidak melakukan hal yang sama dengan yang orang-orang lakukan. Dia pasti bisa mengerti yang aku rasakan. Dia pasti bisa memahami apa yang ku mau. Lia, di mana kamu, sayang? Kenapa kamu harus pergi? Padahal aku ingin meminta maaf padamu. Berkata jujur atas apa yang terjadi hingga aku terpaksa meninggalkan kamu begitu saja. Pasti kamu sangat terluka karena aku. Mungkin ini adalah hukuman yang harus aku bayar karena menelantarkan kamu, ' batin Raymond.
"Akh!"teriak Raymond sambil menjambak rambutnya prustasi. Hidupnya sekarang memang terasa hampa tak sebahagia saat ada Lia di sampingnya. Raymond tahu walaupun dia bertemu lagi dengan Lia, mereka tak akan mungkin bisa bersama lagi walau jujur sebenarnya Raymond sangat menginginkan itu. Hanya saja Raymond selalu berharap bisa bertemu lagi dengan Lia hanya sekedar untuk meminta maaf atas kesalahan besar yang ia lakukan. Dia juga sudah berusaha melupakan perasaan cintanya pada Lia sedikit demi sedikit. Walaupun sebenarnya dia tidak mau tapi dia benar-benar harus mau. Semua itu demi kebaikan Lia dan kebahagiaan Lia.
Tok.
Tok.
Tok.
Raymond tidak mungkin menemui mamanya dalam keadaan frustasi seperti ini. Akhirnya Raymond membaringkan tubuh kekarnya di ranjang. Rupanya dia memutuskan berpura-pura tidur.
Ceklek!
Salma membuka pintu kamar anak laki-lakinya yang tak menyahut sama sekali. Salma harus memastikan anaknya dalam keadaan baik- baik saja.
Dilihatnya Raymond tertidur. Salma berjalan mendekat lalu mengusap lembut puncak kepala Raymond. Di letakkannya telapak tangannya Di kening Raymond untuk memastikan Raymond tidak sedang demam. Salma bernafas lega. Salma menyunggingkan senyum tipis kemudian berjalan keluar dari area privasi anak sulungnya.
Sepeninggal Salma Raymond membuka matanya." Untung nggak ketahuan mama aku cuma pura-pura tidur, " gumam Raymond.
Sementara itu di dapur keluarga Pratama, Salma dan Silvy dengan semangatnya meracik bahan untuk membuat es campur.
" Kak Raymond gimana sih, ma. " Silvy tampak menggerutu kesal. " Katanya mau bantuin malah enak- enak tidur. "
Salma tersenyum mengelus puncak kepala Silvy. " Jangan begitu, sayang. Kak Raymond pasti tak sengaja ketiduran karena menunggu kita belanja tadi. " Salma mencoba memberi pengertian.
" Kalau begitu dibangunin aja dong, ma. "
" Memangnya Silvy keberatan kalau mbantu mama sendirian? "
" Nggak lah, ma. "
" Bagus. Kalau gitu mari kita buat es campurnya berdua aja. Biar kak Raymond istirahat. Biar kak Raymond cepet sembuh maksimal, ok sayang."
" Ok. " Silvy kembali bersemangat.
Keduanya kini telah menyelesaikan es campur ala mama dan Silvy. Mama sudah menyiapkan dua mangkok untuknya dan Silvy mencicipi.
Silvy menyerutup sendok pertamanya. Matanya membulat sempurna. " Muantap, ma. " Silvy mengacungkan kedua jempolnya. " Suegernya pol. Ngalahin bapak penjual es campur ni. "
Salma tersenyum mendengar celoteh anak bungsunya. Dia sangat bersyukur kesehatan Silvy sudah lebih baik akhir- akhir ini.
Bersambung...