Miss My Sister

Miss My Sister
Pilihan Terakhir



Sasya memutar cepat otaknya. Nampak ragu dipaksakan bibirnya menerbitkan seulas senyum. "Aku akan menemuinya nanti. " tukas Sasya kemudian berlalu sambil menarik tangan sahabatnya bergegas menuju kantin.


"Kamu sebenarnya mau menemui siapa sih, Sya? " tanya Vega yang sudah tak tahan dengan jiwa keponya yang meronta-ronta sedari tadi.


Sasya hanya mengaduk-aduk baksonya. Perutnya lapar sebenarnya tapi entah mengapa selera makannya menjadi hilang. "Dia adiknya Raymond,"jawab Sasya singkat. Sebenarnya dia malas membahas apapun. Tapi dia juga tidak mau Vega salah paham menganggap Sasya menyembunyikan sesuatu nantinya.


Vega melongo karena kaget bukan main. " A-adik Raymond? K-kog bisa? "Vega sampai tergagap terlihat masih syok. 'Bagaimana bisa mereka berdua membicarakan soal adik Raymond? Apa mereka saling kenal sebelumnya? Atau masih kerabat? Tapi kenapa Sasya tidak bercerita apapun? 'Vega masih bingung berspekulasi.


" Seminggu sebelum Raymond datang ke sekolah ini aku pernah bertemu dengannya sekali. " Sasya mulai bercerita. Dia tidak mau sampai sahabatnya berspekulasi aneh-aneh. "Saat itu aku pergi ke cafe dan aq melihat seorang anak kecil menangis di pojok taman cafe. Entah kenapa aku merasa tersentuh. Aku ajak dia makan walaupun sebelumnya mendapatkan penolakan tapi akhirnya setelah aku bujuk dia bersedia.Kami makan bersama sambil bercanda riang. Raut kesedihannya menghilang berganti kebahagiaan tapi... "Sasya menghentikan ceritanya. Menghela nafas panjang. Sekilas teringat kenangan buruk pertemuan pertama nya dengan Raymond. Yang membuat Sasya sampai sekarang mengejudge Raymond adalah sosok kakak terburuk di dunia ini.


Vega menepuk lengan Sasya. " Gimana sihSya, orang ditunggu ceritanya malah asyik ngelamun, " gerutu Vega sambil mencomot bakso terakhirnya.


"Aku baru nginget-inget Vega,"kilah Sasya berbohong. Padahal dia masih benar-benar ingat seingat- ingatnya akan kejadian malam itu. " Jadi tiba-tiba ada seseorang yang mirip monster datang dan berteriak marahin Silvy. Aku sampai gak tega liat wajah Silvy begitu ketakutan. "


”Biar ku tebak apa yang selanjutnya terjadi, "potong Vega sok tahu. " Kamu adu mulut kan sama Raymond? "


"Kamu memang paling tahu. " Sasya berdiri menepuk bahu sahabat nya beberapa kali kemudian melenggang pergi."Jangan lupa bayar.Aku sekalian ya, "Sasya terkekeh. Vega yang ditinggal memanyunkan bibir tipisnya yang kemerah-merahan.


Vega berusaha mengejar langkah Sasya. Walaupun tertinggal agak jauh akhirnya Vega berhasil menjajari Sasya. "Payah kamu Sya, main tinggal aja. Nggak bayar juga lagi, " Vega terus nerocos sepanjang perjalanan.


Sasya tertawa penuh kemenangan. "Kan ada kamu Vega... "


"Ich.... Dasar Sasya." Cubitan kecil mendarat di hidung mancung gadis ayu berambut sebahu itu. "Nggak ada ngangenin, kalo ada ngeselin. "


"Berarti milih yang mana kamu, Ve?Aku ada atau tak? "


"Ya ada lah. Kalo kamu gak ada, bagai sayur tanpa garam. Hambar guys. "


Disaat asyiknya mereka bercanda tiba-tiba Arvin menghadang mereka.


"Eh ngapain kamu berdiri di situ Vin? Kamu nyadar nggak ngehalangin jalan kita tahu, " Vega asal ngejeplak.


"Kamu ditunggu Raymond di taman belakang Sya. Katanya penting. " Setelah mengucapkan dua


kalimat itu Arvin langsung msmbalikkan badan meninggalkan Sasya dan Vega yang diliputi banyak tanda tanya dalam benak masing-masing.


"Ada apa nih, Sya? " pandangan tajam Vega penuh selidik.


Sasya hanya mengedikkan bahu. Karena memang Sasya tidak tahu apa maksud Raymond sebenarnya. "Kamu duluan aja ke kelas, ntar aku nyusul. " Sasya langsung membalikkan badan melangkahkan kaki jenjangnya menuju taman belakang.


Sasya berhasil. Raymond menoleh ke belakang. Di wajah tampan sempurnany terlukis senyum yang indah. Baru kali ini Sasya melihat senyum seindah itu tercipta di wajah super tampan milik Raymond.


"Aku senang akhirnya kamu datang juga. " Raymond sudah kembali menatap ke arah depan. Sasya duduk di sebelah Raymond. Entah kenapa kali ini Sasya menjadi canggung dibuatnya.


"Apa semua berjalan baik-baik saja? " pertanyaan Raymond kali ini justru membuat Sasya menggaruk lehernya yang tak gatal. Sasya tak dapat menerka sedikitpun arah pembicaraan sosok tampan di sebelahnya.


"Katanya ada masalah serius dengan sepupumu kan? " Raymond menyempitkan makna pertanyaannya seakan mengerti kebingungan melanda pikiran gadis cantik disebelahnya. "Apa sekarang dia sudah baik-baik saja, makanya kamu sudah kembali ke sekolah? "


"Oh... " Sasya seakan menemukan titik terang. "Alhamdulillah sepupu aku udah baik makanya aku udah pulang. " Sasya menjawab sekenanya. Dia benar-benar merasa canggung.


"Syukurlah kalau begitu. Aku turut gembira mendengarnya. " Tatapan Raymond sama sekali tak beralih. Masih lurus ke depan.


Justru hal itu menguntungkan bagi Sasya. Kecanggungannya berangsur berkurang. "Thanks."


"Aku tahu kamu capek, butuh istirahat juga. Jadi tidak perlu hari ini kamu memaksakan diri menemui Silvy."


Raymond menegakkan tubuhnya. "Ayo ke kelas, belum akan segera berbunyi. "


Belum juga Sasya merespon kaki Raymond sudah melangkah pergi. Sasya yang ditinggalkan malah termangu. 'Ini maksudnya apa sih? 'Sasya dibuat kebingungan oleh sikap Raymond yang tak bisa ditebak.


πŸ€πŸ€πŸ€


Semenjak pembicaraan di taman belakang Raymond dn Sasya tak pernah terlibat pembicaraan lagi. Dan ini sudah berlalu selama dua minggu. Dan ini justru membuat Sasya sangat tidak nyaman.


Dia bingung sendiri. 'Apa ada kata-kata ku yang salah? Atu menyinggung dia? Tapi kalau aku tak salah ingat, harusnya tak ada omongan ataupun sikap aku yang menyinggungnya. Salahku di mana coba? ' Sasya terus mencari- cari jawaban atas banyaknya pertanyaan di otaknya. Tapi tak di temukannya juga.


Hari ini Raymond tidak berangkat sekolah. Tanpa keterangan. Dan hal itulah yang membuat Sasya tidak tenang. Berbagai spekulasi memenuhi otaknya. Saking penuhnya sampai tak ada satu materi pelajaran pun yang berhasil nyangkut dalam otaknya.


Dia justru sibuk menganalisa sikap Raymond akhir- akhir ini. Jujur saja melihat sikap Raymond yang tak bersahabat dua minggu belakangan ini membuat Sasya tak berani mengajak bicara bahkan untuk sekedar menyapa pun atau menanyakan kabar Silvy.


Bel pulang berkumandang.Semua warga SMA X menyambutnya dengan penuh keceriaan terkecuali gadis bermata sipit yang terlihat enggan mengemas buku- bukunya itu. Ajakan pulang dari Vega pun hanya ditanggapinya dengan malas.


Sasya memasuki mobil yang dikemudikan pak Yo. Akhirnya pilihan terakhir dia ambil juga. Entah mengapa fikirannya kini sangat terusik. Membuatnya sangat tidak tenang. 'Tak ada jalan lain. Sepertinya memang aku harus memastikan semua baik-baik saja.'Gumamnya memantapkan hati.


Sasya mengucapkan sebuah alamat pada pak Yo. Pak Yo mengangguk patuh lalu menjalankan mobilnya memecah keramaian jalan yang memang saat itu tak selamat biasanya.