
" Sya, aku lihat- lihat hari ini wajah kamu berseri amat, " ucap Vega saat mereka berdua asyik menyantap bakso di kantin.
Sasya tersenyum lebar. " Kamu emang selalu tahu isi hatiku, Ve. Jangan-jangan kamu emang bisa baca isi hari orang ya? " Sasya memang sangat bersemangat hari ini. Itu dikarenakan masalah besarnya dengan ibunda sudah benar-benar clear.
Vega terkekeh mendengar candaan sahabatnya. " Kamu tu, ya suka sembarangan kalo ngomong. Oh ya, Sya itu si Raymond apa emang belum sembuh? "
Sasya melotot. " Lhah kok tanya aku, emang aku emaknya apa? "
" Kamu kan deket sama dia. Apa kalian nggak kontek- kontekan gitu? "
" Deket dari hongkong? " protes Sasya nyengir. " Aku aja nggak punya nomor ponselnya Raymond, mana bisa kontek. "
Vega melotot saking tak percaya. Dikiranya hubungan Sasya dan Raymond itu semakin dekat setelah Sasya memberi semangat sembuh kepada Raymond atas permintaan tante Salma, mamanya Raymond. Itu yang dia tahu dari cerita Sasya kala itu. Tak disangka dugaannya salah besar, kedekatan mereka tak terjalin sedikitpun. Tak punya nomor ponsel satu sama lain cukup membuktikan tak ada kedekatan antara keduanya.
" Vega, " panggil Sasya yang melihat gadis supel di depannya itu melamun. " Malah ngalamun, tuh baksonya cepet diabisin. Keburu bel lho, " Sasya mengingatkan.
Vega meringis dan segera melanjutkan makan siangnya. Keduanya melanjutkan makan dengan lahap . Setelah membayar mereka mampir ke toilet baru kemudian menuju kelas kebanggaan mereka.
Jam pelajaran terakhir kosong karena ada rapat dadakan yang digelar tertutup oleh kepala sekolah. Suara gaduh memenuhi seluruh kelas SMA XX. Semua warga sekolah berceloteh ria di semua penjuru. Tak terkecuali dua gadis cantik itu.
" Kamu udah selesai belum ngerjain tugasnya, Sya? " Vega menutup bukunya. Itu menandakan dia telah menyelesaikan tugas matematika dari Pak Dismas.
" Udah dong, " jawab Sasya.
" Bagus dong. Berarti waktunya buat ngerumpi ni, " Vega cengar- cengir.
" Dasar emak - emak kamu. "
" Biarin. Ngerumpi itu enak tahu. "
" Dikira makan es krim apa enak? "
" Lebih enak dari makan eskrim, Sasya... "
" Terserah kamu aja deh. "
Sasya sedang malas meladeni perdebatan sahabatnya yang tak bermutu itu. Dia merasa kangen dengan Chika. Walau seringkali Sasya menyempatkan kontak lewat WA bahkan lewat panggilan video tapi rasa rindunya serasa tak kunjung sirna. Dia ingin sekali bertemu langsung dan bercanda bersama.
Sasya yakin Chika benar-benar sudah move on dari Tama. Sasya juga beberapa kali memastikannya dengan bertanya kepada tante Maya lewat panggilan suara. Dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sasya sebagai sepupu sekaligus sahabatnya.
Sasya tersentak kaget. " Iya ada apa, Vin? "
" Aku mau ngajak kalian berdua tengok si Raymond. Yah, aku khawatir aja kok dia masih home schooling gitu. "
' Nggak nyangka ni anak care banget sama teman. Aku pikir selama ini tak banyak bicara karena tak ingin mau tau keadaan sekitar. Lagi-lagi aku salah menilai Arvin, ' ucap Sasya dalam hati.
" Kalo aku sih ayuk aja, Vin. " Vega menimpali.
" Kalo kamu, Sya gimana ? " tanya Arvin yang menunggu respon Sasya yang tak kunjung diutarakan.
" E... aku sudah ada janji sama Mel, " tolak Sasya bohong. Dia sebenarnya hanya takut terjebak lagi seperti dulu. " Kalian duluan aja nggak papa kok. "
" Nggak asyik kalo nggak ada kamu, Sya." balas Vega cemberut." Kalo kamu nggak bisa kita besok aja jenguknya. Gimana, Vin? "
" Besok aku juga ok kok Ve."
' Aduh mati aku! ' jerit Sasya dalam hatinya. Sasya jadi bingung sendiri. Ingin menolak tidak ikut secara langsung pasti akan menjadi pertanyaan yang tidak mungkin akan dia jawab jujur. Mau beralasan apalagi coba. Dia hanya tidak mau jika terjebak dalam situasi yang sama seperti saat di rumah sakit. Jika tante Salma meminta bantuannya lagi dia tidak yakin tega menolaknya. Sungguh bingung Sasya di buatnya.
" Besok aku ada janji sama bunda mau keluar bareng sekeluarga, " akhirnya Sasya berbohong lagi untuk beralasan.
" Tumben kamu sibuk banget banyak janji keluarga, Sya? " tanya Vega mulai curiga.
" Iya Ve, kebetulan banget. " Sasya berusaha menyembunyikan kegugupannya.
" Gimana ini, Vin? "
" Kalau aku sih terserah kamu aja, Ve. "
" Sebenarnya aku males kalau Sasya tidak ikut, tapi lusa aku juga ada acara ma keluarga. "
" Kalau begitu kalian duluan aja, " timpal Sasya bersemangat.
" Ya udah deh, ntar aja pulang skul kita gas ke rumah Raymond, Vin. " Akhirnya Vega memberi keputusan.
" Okeh, " jawab Arvin setuju. Sasya tersenyum lega.
Bersambung...