Miss My Sister

Miss My Sister
Dua Permintaan



Sasya memilih diam mendengarkan Raymond berbincang dengan Arvin dan Vega. Dia sengaja tidak ingin masuk dalam perbincangan teman- temannya.


" Udah sore ini kita pulang yuk, " tukas Vega tiba-tiba setelah melihat arloji yang tergelang di tangan mungilnya.


Arvin pun melihat jam tangannya. Tak terasa ternyata mereka sudah lama di rumah sakit. " Iya ni ternyata udah sore. Kita pamit ya, Ray. Cepet sembuh n cepet skul lagi ya, " Arvin dan Raymond kembali ber- toast.


Vega hanya melambaikan tangannya ke arah Raymond. " Bay- bay Raymond cepet sembuh ya. "


Berbeda dengan kedua temannya yang berpamitan, Sasya hanya melenggang pergi. Raymond yang di tinggalkan hanya berdecak kesal.


Ketiga remaja yang masih mengenakan seragam khas SMA XX itu keluar dari ruang VIP dan langsung menghampiri tante Salma yang duduk di ruang tunggu hendak berpamitan.


" Terima kasih ya anak- anak baik, hati-hati di jalan ya, " pesan tante Salma melepas kepergian teman- teman Raymond.


"Sasya! " tiba-tiba suara nyaring menggema di area ruang VIP di Rumah Sakit SS. Ketiga remaja itu serempak membalikkan badan. Terlihat tante Salma berjalan setengah berlari mendekat.


" Maaf Sya, tante ada yang mau dibicarakan. "


Sasya tak langsung menjawab. Dia malah mengarahkan pandangan ke Arvin dan Vega. Melihat anggukan kedua temannya membuat Sasya mantap mengambil keputusan mengiyakan permintaan wanita paruh baya di depannya.


" Bisa tante, " seketika tante Salma menarik kedua ujung bibir merahnya membentuk senyum lebar yang manis. "Kalian pulang duluan aja guys, nanti aku biar dijemput pak Yo. "


" Ok, " balas Arvin dan Vega bersamaan kemudian melanjutkan langkah yang sempat tertunda.


Tante Salma membimbing Sasya berjalan menuju ruang tunggu. Mereka duduk dan terlihat tante Salma menghembuskan nafas panjang sebelum mulai berbicara.


" Tante minta maaf sebelumnya ya, Sya. Jika nanti tante akan membuatmu sedikit repot. "


Sasya terhenyak. Dia dibuat berspekulasi aneh- aneh mendengar kalimat pembukaan dari tante Salma. " Maksudnya apa ya, Tante? "


" Sebenarnya tante mau minta tolong sama Sasya dan tante sangat berharap Sasya mau memenuhinya. "


" InsyaAllah tante, selagi Sasya bisa membantu pasti Sasya bersedia. "


"Syukurlah, tante lega mendengarnya. "


" Ada dua hal, Sya. " Tante Salma menjeda bicaranya. " Dan keduanya sangat berharga untuk tante. "


" Apa tant? "


" Yang pertama tante minta tolong sama kamu untuk menemui Silvy dan menghibur dia. Dia sangat gelisah karena tidak bisa menjenguk kakaknya. "


Sasya tersenyum lega. " Kalau soal itu tante nggak perlu khawatir, besok kan hari minggu jadi Sasya akan ajak Silvy jalan- jalan Tante. "


Kesediaan Sasya yang terlihat begitu antusias membuat kelegaan di hati tante Salma. " Terima kasih banyak ya, Sayang. "


Sasya mengangguk sembari menarik kedua ujung bibirnya. " Sama-sama tante. Terus yang kedua apa tant? "


" Yang ini mungkin akan sedikit berat. "


Deg.


Kalimat yang diucapkan kali ini membuat jantung Sasya seakan berhenti berdetak.


Tante Salma menggenggam tangan mungil Sasya. " Tolong tante untuk memberi semangat sembuh untuk Raymond. "


Mendengar perkataan tante Salma barusan membuat jantung Sasya benar-benar keras berdetak. Sasya jadi benar-benar kelimpungan. Otaknya saja sampai tak bisa diajak berfikir saking syoknya.


Melihat perubahan air muka Sasya membuat tante Salma sadar permintaan keduanya ini benar-benar memberatkan gadis ayu di sebelah nya. Namun dia tak punya pilihan lain. Menurutnya Sasya lah orang yang cocok dan mampu menolongnya.


"Raymond sakit typus yang sudah akut. Sejak kecil dia sudah harus berjuang melawan penyakit itu. Dan ini pertama kalinya kambuh lagi setelah hampir setahun tidak kambuh. Semua itu tante akui berkat Lia. Sebelumnya Raymond sering keluar masuk rumah sakit karena typusnya. "


"Lia? "


Tante Salma tak bergeming, dia terlarut dalam pikirannya sendiri. Sasya yang tak kunjung mendapat jawaban menjadi berspekulasi sendiri. ' Apa mungkin Lia adalah pacarnya Raymond? Dari kata- kata tante Salma kayaknya Lia adalah orang yang sangat berharga untuk Raymond. ' Benak Sasya berkecamuk.


Bersambung...