
Sasya sudah berada di
depan pagar besi yang menjulang tinggi. Ada seorang mengenakan seragam satpam mendekatinya. "Maaf nona ada perlu apa? " seorang yang bertubuh kekar dan berkumis hitam tebal membuat dai terlihat sedikit mengerikan.
"Maaf Pak, bisakah saya bertemu dengan peri kecil eh, maksud saya Silvy. "
Satpam yang bertuliskan nama Alex di baju seragam putihnya itu memandang Sasya dari atas sampai bawah. Sasya menjadi risih sendiri. "Anda siapanya Nona Muda? " tanya Pak Alex penuh selidik.
Sasya tersenyum kaku. " Sampaikan saja Pak, kalo kakak cantik ingin bertemu. "
Satpam itu manggut-manggut lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia berjalan menjauh dari Sasya. Terik panas matahari begitu menyengat tubuh Sasya. Dia berharap segera di ijin kan masuk agar segera terlepas dari panas sang surya yang serasa membakar kulit putihnya.
Akhirnya satpam itu kembali kemudian membukakan pintu tinggi itu dan mempersilahkan Sasya masuk. Satpam itu berjalan didepan Sasya. Memandu Sasya memasuki rumah besar itu. Walaupun Sasya sudah hafal jalan masuk ke sana tapi Sasya hanya menurut berjalan mengekori pak Alex.
Sasya sampai diruang tamu. Ada seorang wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan bundanya duduk di sofa tersenyum kearah Sasya. Sasya balas tersenyum walau sebenarnya dia ragu apa senyum wanita yang masih terlihat cantik dan anggun itu ditujukan untuknya atau pada pak Alex.
"Terimakasih Pak Alex, silahkan kembali ke depan, " senyum yang membuat wanita itu semakin mempesona tak beringsut sedikitpun kemudian menyuruh pak Alex kembali bekerja.
"Silakan duduk, Nona. "Pandangan ramah itu tertuju untuk Sasya. Sasya membalasnya dengan senyuman yang tak kalah ramah sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
" Perkenalkan saya Salma,mamanya Raymond dan Silvy. " Wanita cantik yang mengaku namanya Salma itu mengulurkan tangannya.
Sasya segera menjabat tangan tante Salma. Terasa sekali kulit telapak tangannya halus dan lembut. Sepertinya wanita ini memang sangat menjaga tubuhnya. "Sasya, tante. Saya teman sekelasnya Raymond. "
Sasya mengedarkan pandangan ke beberapa arah yang bisa dia jangkau dengan mata sipitnya. Tak ditemukan baik Raymond ataupun Silvy. Rumah itu tampak sepi sama seperti saat pertama kali dia ke sini.
"Kamu sebenarnya mau bertemu dengan Silvy atau Raymond?"
" Sebelumnya saya minta maaf tante, jika kedatangan saya mengganggu. Tujuan saya memang untuk bertemu Silvy. Kemarin Raymond sempat bilang kalau Silvy menanyakan saya. Tapi sekaligus saya juga ingin menanyakan keadaan Raymond tante, kenapa hari ini Raymond tidak berangkat sekolah ya? "
Lagi- lagi wanita yang berwajah cantik dengan make up tipisnya itu tersenyum. "Saya sudah banyak sekali mendengar cerita tentang kamu dari Silvy. Padahal kalau menurut cerita Raymond kalian baru bertemu dua kali. Tapi entah mengapa dari sekian cerita yang Silvy ceritakan sepertinya kalian udah kenal lama dan dekat. "
"Saya dan Silvy memang baru dua kali bertemu, Tante. Tapi nggak tau juga keriangan nya membuat saya nyaman. Dia lucu dan menggemaskan. Apa Silvy sedang tidur, Tant? "
"Saya ingin mengucapkan banyak terimakasih pada kamu Sasya, karena kehadiran kamu bisa membantu Silvy sembuh dari sakitnya kemarin."
"Tapi saya tidak melakukan apa-apa Tante, jadi tidak perlu berterimakasih. "
Tante Salma manggut-manggut." Sayang sekali Silvy sedang pergi dengan papanya. Tadi merajuk minta boneka. "
"Oh, begitu ya Tant? Kalau begitu lain kali saja saya main lagi ya Tant. Saya permisi. " Sasya berdiri ingin berpamitan.
Tante Salma langsung ikut berdiri. "Lho kok buru- buru sekali. Katanya juga mau bertemu Raymond? "
Deg!
Jantung Sasya seperti berhenti berdetak. Rasa gugup segera menggerayapinya. Bukankah ini adalah tujuan utamanya sehingga memutuskan datang ke rumah ini. Tapi kenapa dia malah merasa gugup.
Deg.
Lagi-lagi lagi ucapan tante Salma membuat jantung Sasya berdetak tidak normal. 'Ini kenapa aku malah mau diantar ke kamar si Raymond ya, ih kenapa nggak si galak itu yang disuruh turun ke sini. 'Batin Sasya terus berkecamuk. Kakinya terus melangkah menuju lantai dua.
Tante Salma menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar bercat biru. Tante Salma mengetuk pintu beberapa kali barulah terdengar sahutan. "Mungkin tadi dia tidur.Tante memang menyuruhnya istirahat tadi. Kamu masuk aja Sya, tante tinggal ya, biar kalian nyaman ngobrolnya. "
"**-tapi tante,"Sasya berusaha menolak tapi apa boleh buat sudah terlambat. Tante Salma melangkahkan kaki jenjangnya tak menghiraukan apa yang akan Sasya katakan.
Sasya memukul jidatnya berkali-kali. " Aduh gimana ini.? Iya memang aku ingin memastikan semua baik-baik saja tapi kan ya nggak harus di kamar juga kali. Hush, mampus ni. Mana aku jadi gugup banget gini. "Sasya tak kunjung masuk malah menggerutu tak habis- habis.
" Kenapa nggak jadi masuk, Ma? " suara serak khas orang bangun tidur terdengar dari dalam membuat Sasya mengakhiri tepukan jidatnya sendiri.
Sasya menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya pelan- pelan. Berharap mengurangi kegugupan yang memenuhi dirinya.
Sasya perlahan memutar knop pintu. Dibukanya daun pintu sedikit demi sedikit. Sasya melihat seseorang terlentang dibawah selimut dengan mata terpejam. Sasya membuka pintu selebar- lebarnya. Ini kali pertamanya dia masuk ke kamar seorang cowok. Ada rasa gugup, takut, was-was bercampur jadi satu.
Sasya berjalan mendekat ke arah sisi ranjang. "Ada apa, Ma. Bukannya tadi Mama nyuruh Raymond istirahat biar cepet sembuh? " Raymond seperti tahu ada seseorang disebelah kirinya. Dia memang mendengar langkah berhenti di sisi ranjangnya.
Raymond masih belum membuka matanya yang masih dihinggapi rasa kantuk yang teramat. Pasalnya baru sejam yang lalu mama dari kamarnya menyuruh keras dia untuk beristirahat. Dan mungkin baru sepuluh menit yang lalu dia berhasil terlelap malah dibangunkan.
Raymond merasa aneh karena tak ada sahutan dari mama tercinta. Dia terpaksa membuka mata dan "Kamu?! " dengan setengah berteriak Raymond saking kagetnya.
Rasa kantuk lenyap sudah. Raymond memperbaiki duduknya sambil bersandar pada headboard. "Kenapa kamu ke sini? Tidak sopan seorang gadis memasuki kamar seorang pria. " tukas Raymond sok padahal dia sedang menyembunyikan kegugupannya. Dia tidak mau terlihat salah tingkah si depan Sasya.
Sasya merasa kata-kata Raymond begitu menyerang hatinya. 'Apa maksud dia berkata seperti itu? Apa dia pikir aku ingin masuk ke kamar nya? Dasar!' Hati Sasya memberontak.
Baru saja Raymond ingin membuka mulutnya tapi Sasya cepat menyambar nya. Sasya tidak mau Raymond meneruskan kata-kata yang mungkin akan menyudutkannya.
"Cukup! " helaan nafas lembut Sasya terdengar. "Kamu jangan pernah berfikir macam- macam tentang aku. Jadi biar aku ceritakan bagaimana bisa saat ini aku ada dikamar cowok nyebelin kayak kamu! " Sasya sengaja menegaskan empat kata terakhirnya. Dan itu sangat mengena sesuai tujuan.
"Aku hanya ingin bertemu Silvy tapi dia sedang pergi. Lalu aku hanya menanyakan kenapa kamu tidak sekolah hari ini sekedar basa- basi. Tapi malah mama kamu mengantar aku dan menyuruh aku masuk ke kamar cowok galak kayak kamu! "
Lagi-lagi Sasya menegaskan kata-kata terakhirnya. " Kamu pikir aku mau apa terjebak di kamar kamu yang pengap ini. " Sasya melengos membuang muka. Amarahnya mulai tersulut.
"Apa tadi kamu bilang? Kamarku pengap? Apa kamu tidak bisa melihat kamar aku yang segede ini masih di bilang pengap? "
Sasya menyeringai. "Penghuni kamar nya yang membuat kamar segede ini masih pengap. " Sasya langsung membalikkan badan berniat meninggalkan Raymond.
Raymond tidak terima dengan perkataan Sasya yang jelas mengatainya. Dia langsung melompat dari ranjang hendak mengejar Sasya dan membalasnya. Namun naas. Tubuh lemasnya tak kuasa berdiri lama. "Bruk! "
Sasya menoleh kebelakang dan melihat tubuh Raymond sudah tergeletak di lantai. Sasya berlari dan mencoba berbaik hati membantu Raymond kembali ke pembaringan. Alangkah kagetnya Sasya saat kulit mereka bersentuhan. "Astagfirullah!Badan kamu panas banget Ray. "
Tak ada sahutan dari Raymond. Tubuhnya kian melemas. Pandangan matanya mulai kabur. Tiba-tiba Sasya merasa tubuh Raymond bertambah berat. Dilirik nya sejenak barulah dia sadar cowok galak itu sudah tak sadarkan diri.
Bersambung...