
Justin baru saja menyelesaikan mandinya. Ketika dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat kemeja berwarna biru muda dan juga pasangan tuksedo dengan celana bahan berwarna hitam berada di atas ranjangnya. Tak lupa juga sebuah dasi milik almarhum Papanya berada di sana, membuatnya sadar kalau hari ini dia akan menjadi Direktur Utama di perusahaan yang sudah Papa bangun sejak muda.
“Tuan,” panggil Keira yang membuka pintu kamar tiba-tiba membuat Justin langsung menutup dadanya.
“Kau gila! Jika ingin masuk, ketuk pintu lebih dulu!” bentak Justin pada Keira. Keiran pun menyesal. Dia menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“Maaf, tapi Nyonya sudah memanggil Tuan,” ucap Keira membuat Justin mendengus pelan. Mereka memang sama saja. Dua wanita ini membuatnya sangat kesal seharian kemarin.
“Iya, iya, aku akan segera ke bawah!”
“Baik Tuan,” ucap Keira lalu kembali menundukkan kepalanya menghormati Justin yang kini menghela nafasnya setelah Keira menutup pintu kamarnya.
“Wanita itu! Dia pasti sudah dipengaruhi oleh Mama. Jangan bilang, dia akan menyerangku kalau aku sedang tidur.” Kata Justin menggidik ngeri, tapi dia segera membuyarkan lamunan bodoh itu. Dia harus cepat-cepat bersiap karena Safira sudah menunggunya di meja makan.
Namun sekali lagi Justin memandangi pakaian miliknya yang sudah siap di atas ranjang. “Apakah pakaian ini yang menyiapkannya wanita tadi?”
Oh ya, Justin mengingat sesuatu. Dia saja tidak tahu siapa nama wanita itu.
…………………………………………………………
“Keira,” panggil Safira.
Namanya Keira, batin Justin.
“Tolong rapikan dasi Justin, Sayang,” kata Safira dengan lembut pada Keira, tapi membuat Justin langsung melotot.
“Ma, aku bisa sendiri!”
Keira pun hanya menahan tawanya. Dia juga setuju dengan apa yang dikatakan Safira. Dia saja yang berumur 18 tahun tidak akan menyangka kalau Justin ini sudah sangat tua karena dari sikap Justin sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan kalau dia berumur 30 tahun. Meski Keira sendiri mengakui, Justin ini sangat tampan dan selalu terlihat muda, tapi Keira tidak berpikir kalau pria ini berumur 30 tahun.
“Maaf Tuan,” kata Keira mengulurkan tangannya ke arah leher Justin seraya merapikannya.
Justin pun merengut, kesal. Dia tidak suka Keira terlalu banyak mengurusnya, tapi Justin yakin sekali kalau ini semua rencana Safira.
“Sudah, Nyonya.” Ucap Keira.
“Baiklah, tolong siapakan makan untuk Justin dan kamu bisa bergabung dengan kami,” kata Safira dan Keira pun menganggukkan kepalanya.
Justin hanya mampu melongo melihat apa yang Safira perintahkan pada Keira. Kenapa Justin kembali berpikir kalau Keira ini boneka atau mungkin tepatnya sebuah robot. Kenapa wanita ini sangat menurut dengan Mamanya?
“Sekalian Mama ingin kamu mengenali Keira lebih dalam. Keira ini keponokannya teman Mama. Orangtuanya sudah meninggal dan Keira hidup dengan tidak tenang di rumah Tantenya. Mama sangat suka dengan Keira lalu membawanya ke rumah untuk menemani Mama kalau sedang sepi, tapi Keira masih muda. Dia baru 18 tahun.”
“Apa?!!” teriak Justin. Dia tidak percaya dengan apa yang Safira katakan. Kenapa Justin merasa sepeti pedofil.
“Mama rasa, dia cocok sama kamu. Dia dewasa dan pasti bisa menghadapi sikap kamu yang terkadang kekanak-kanakan.”
“Ma!”
.......................
Btw, ini tulisan udah lama banget jadi maap kalau banyak TYPO, EYD berantakan dll. Makasih yang udah baca ^^ jangan lupa like dan komennya^^