Marry Me!

Marry Me!
Episode 10



Keira mengenyitkan alisnya tak mengerti.


“Panggil Mama aja. Memang kamu bekerja di sini, tapi jangan panggil saya Nyonya. Panggil saja Mama supaya Justin juga bisa menerima kamu.”


Keira pun meremas tangannya. Sebenarnya, hari ini dia sangat nyaman dengan sikap Safira yang tidak begitu kaku seperti pertama kali mereka bertemu, tapi entah kenapa Keira agak canggung jika harus melakukan ini.


“Tapi Nyonya…,”


“Tidak ada tapi-tapian. Cukup panggil Mama saja,” kata Safira, “dan jangan lupa panggil Justin, Mas.”


“Mas?” kata Keira agak kaget. Panggilan macam apa itu? Kenapa dia terdengar seperti orang yang sedang menggoda pria tua.


“Iya, apa kamu mau manggil dengan panggilan lain? Sayang gitu?” Safira malah menggoda Keira membuat wajah Keira memerah.


Keira memegangi wajahnya dan Safira merasa gemas dengan gadis di sebelahnya. “Kamu ini lucu banget,” kata Safira mencubit pipi Keira.


“Terserah kamu mau manggil dia apa, tapi yang jelas Mama gak mau dengar kamu manggil dia Tuan. Kamu bukan pembantu dia, ingat itu!”


Keira pun menghela nafasnya. Nyatanya, Justin menganggapnya pembantu di rumah ini. Semalam saja, Keira tidak benar-benar tidur di atas ranjang melainkan di sofa. Itu pun Justin mengancam Keira dengan kata-kata yang tidak mengenakkan hatinya.


………………………………………………………………


Justin menatap Erik yang sejak pagi tadi sedang menjelaskan semua tugas seorang Direktur Utama.


“Baik Tante,” kata Erik di akhir kalimatnya dan Justin seolah tahu siapa yang menelepon Erik barusan.


“Pasti Mama,” kata Justin pada Erik dan Erik pun terkekeh mendengarnya.


“Ada apa sih? Kayanya lagi berperang. Aura lo gak enak banget.”


“Ck, nyokap bilang apa?”


“Dia nanyain gimana pekerjaan lo karena HP lo gak bisa dihubungin. Jadi, nyokap lo nelepon gue dan ngasih tahu kalau makan siang bakal diantar ke kantor sama Keira. Nyokap lo sebenarnya sekalian nanya Keira udah sampe atau belum,”


“Apa?!”


“Jangan-jangan…,”


Tok, tok, tok,


Justin menatap horor pintu kerjanya. Kenapa Mamanya memutuskan semuanya dengan sendiri?!


“Permisi, K-kak Justin,” ucap Keira menyembulkan kepalanya dengan tangan yang menahan pintu kerja Justin.


“K-Kak??” bisik Justin pada dirinya sendiri. Dia juga mengangkat sebuah alisnya sebelah.


“Maaf ini sudah waktunya makan siang,” kata Keira seraya perlahan masuk ke dalam ruangan Justin dengan tatapan mata Erik yang tak pernah lepas memandangi wanita seperti boneka ini.


Erik terpana. Bagaimana mungkin bisa ada wanita secantik ini, tapi bukan itu poin utamanya.


“D-dia siapa lo?” tanya Erik kepada Justin.


Justin pun menelan salivanya sendiri. Dia tidak tahu harus jawab apa, tapi dia gak mungkin mengatakan kalau Keira ini calonnya karena Erik pasti akan menganggap Justin pedofil. Lagipula Justin belum mengatakan kalau dia mau menikah dengan Keira. Jadi, Keira memang bukan calonnya.


“D-dia, dia adik angkat gue. Iya, adik.”


“Adik?” kata Erik heran.


“Iya, Mama bosen di rumah sendirian. Jadi, Mama nyari orang lain yang bisa nemenin Mama di rumah,” kata Justin dan Erik pun tersenyum. Kalau memang wanita itu adik Justin. Mungkinkah dia bia mendekati gadis ini dengan bantuan Justin.


Erik pun berjalan ke arah Keira. Dia tersenyum sangat bersahabat dan mengulurkan tangannya. “Erik,” ucap Erik pada Keira.


Keira pun awalnya ragu menerima uluran itu, tapi dia melirik ke arah Justin yang melotot padanya. “K-Keira, adiknya Kak Justin.”


......................................


Awas Justin, Keira di embat sama Erick wkwkwkwkw. Jangan lupa like dan komennya geys!!