
“Kak,” panggil Keira pada Justin yang terlihat sangat sibuk di depan laptopnya. Keira yang sudah bosan belajar pun menutup bukunya dan memeluk tangan Justin yang sedang mengetik sesuatu.
“Hemmm,” sahut Justin.
Keira mencemberutkan bibirnya karena Justin tidak sama sekali melirik ke arahnya. Keira pun mendekatkan posisi duduknya agar semakin dekat dengan Justin. Kaki Keira dan Justin yang berada di bawah selimut pun kini bersentuhan membuat Justin menolehkan kepalanya.
“Aku tidak bisa mengetik kalau kau seperti ini,” ucap Justin pada Keira yang menempel padanya.
Keira pun tersenyum. “Aku mau tidur.” Ucapnya memanja membuat Justin sungguh gemas ingin mencubitnya, tapi saat ini dia sedang ada pekerjaan. Bukan waktunya dia menanggapi Keira.
“Yasudah tidur saja. Jangan menempel seperti ini,” kata Justin menggerakkan lengannya agar Keira bisa menjauh darinya, tapi Keira semakin merapatkan tubuhnya.
“Ehmmm, besok lagi aja ya. Besok Keira bangun pagi-pagi kok untuk lanjut belajar lagi. Tidur yuk, Ka.” Bujuk Keira pada Justin.
Justin pun menghela nafasnya sejenak. Dia bisa apa selain menuruti kemauan Keira, tapi akhirnya Justin mau mengalah. Dia pun menutup laptopnya dan menaruhnya di atas nakas.
Keira pun nampak senang. Ketika Justin menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut. Keira langsung memeluk tubuh Justin. Justin pun tidak menolaknya. Dia malah tersenyum dan menepuk pelan kepala Keira yang kini sudah berada di atas dadanya.
“Tinggal menghitung hari kita akan menikah. Rasanya sungguh seperti mimpi bisa bertemu dengan Mama dan Kakak. Tuhan pasti sudah berbaik hati mengirimkan kalian. Orangtuaku pun pasti bahagia melihat aku akan menikah.”
Justin jadi mengingat orangtua Keira. Apakah besok sebaiknya dia ke pemakaman orangtua calon istrinya?
Keira terdiam sejenak. Dia tidak pernah kesana kecuali pada saat pemakaman berlangsung. Keira benar-benar belum siap melihat makam orangtuanya karena setiap dia mengingat orangtuanya. Hanya lukalah yang menyayat hati dan nadinya.
Keira pun menenggelamkan wajahnya ke leher Justin. “Aku belum siap. Mungkin nanti, tapi tidak besok.”
Mendengar itu. Justin tahu kalau luka milik Keira belum sembuh. Maka dari itu, Justin akan mencoba mengerti hati Keira. Apapun yang terjadi nanti di antara mereka. Justin berjanji akan mencoba melaluinya dengan dewasa karena sekarang dia bukan lagi pria berumur 20 tahunan. Dia sungguh sudah dewasa.
“Tidurlah,” ucap Justin mengusap pelan punggung Keira lalu mengecup pelan kepala Keira dari samping karena wanitanya sudah mulai menemukan tempat nyamannya.
………………………………………………………………………
Hari minggu. Akhirnya hari ini datang juga untuk mereka berdua, tapi Erik benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia kira, Keira benar-benar adik angkatnya. Namun ternyata mereka menikah dengan bahagia.
Bahkan setelah mereka dinyatakan sah sebagai suami istri. Mereka berciuman di depan semua keluarga Justin yang melihatnya. Erik benar-benar ingin memukul Justin, tapi dia tidak mungkin menghancurkan acara yang berharga untuk sepupunya. Bagaimanapun juga, Erik memang harus mengakui kalau Keira nampak bahagia menikah dengan Justin, begitupun sebaliknya.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Keira dan Justin menyalami satu persatu orang yang duduk di atas meja besar di rumahnya. Biasanya hanya mereka ber-tigalah yang duduk di meja ini, tapi hari ini rumah sungguh ramai. Kebahagiaan mereka sungguh membuat keluarga Justin ikut bahagia.
“Istrimu terlihat sangat cantik,” puji Tante Sisi pada Justin.