
Ketika Keira kembali lagi ke kamar. Dia melihat Justin sedang tidur di atas sofa. Keira sendiri jadi tidak tega dengan Justin. Pria itu padahal sudah bekerja seharian dan harus bertemu dengan masa lalunya. Namun malam ini Justin malah memutuskan untuk memberikan ranjangnya pada Keira.
Daripada Keira merasa tidak enak dan malah merasa seperti orang jahat. Keira akhirnya memutuskan untuk tidak tidur di ranjang. Dia bergabung dengan Justin di atas sofa lalu mengangkat sedikit kepala Justin dan memasukkan lengannya ke bawah leher Justin yang memakai bantal nan empuk.
Keira mengingat kata-kata Justin tadi pagi. Justin bilang tidurnya tidak pernah merasa senyenyak kemarin malam. Kalau begitu malam ini Keira pun akan tidur bersama Justin. Memeluk pria ini hingga mereka benar-benar terbuai dengan mimpi indah mereka.
Sebelum Keira benar-benar memejamkan matanya. Keira pun menatap wajah Justin dengan asyik. Dia membayangkan kalau Justin benar-benar mau menikahinya. Apakah mereka akan bahagia? Tapi untuk apa Keira memikirkan bahagia. Bukankah sekarang ini yang lebih penting adalah nyawanya. Dia harus memenuhi janjinya dengan Safira dan Justin akan melindunginya dari nenek sihir itu.
Keira mendekatkan wajahnya ke arah Justin. Dia mengecup pipi Justin lalu memeluk Justin erat. Biarkan saja perasaannya ini bertepuk sebelah tangan. Setidaknya, Keira bisa memiliki pria ini seutuhnya ketika Justin tertidur.
Baru saja Keira mau memejamkan matanya. Dia merasakan tubuh Justin bergerak. Keira pun segera melepas pelukannya dan berpura-pura tidur.
“Hemm,” Keira mendengar suara gumaman Justin.
“Kenapa dia ada di sini?” kata Justin dan Keira mengintip sedikit dari celah kelopak matanya.
Keira rasa Justin mengangkat kepalanya sedikit dan memperhatikan tangan Keira yang menjadi bantalannya. Justin mendengus pelan dan bangun dari tidurnya.
“Anak ini! Sudah diberi kesempatan untuk tidur di atas ranjang malah sengaja ingin menggodaku,” dengusnya seraya mengangkat tubuh Keira.
Keira tidak mau menjadi orang jahat. Dia bangun dan menarik tangan Justin. “Kau sudah bekerja seharian. Tidurlah di sini bersamaku. Aku tidak mau menjadi orang jahat karena membuatmu harus tidur di sofa.”
Terlihat Justin yang sedang menimbang tawaran Keira. Justin memikirkan betapa baiknya Keira ketika dia menyuruh Keira tidur di sofa. Dia malah tidak memikirkan kalau Keira pun sudah kelelahan seharian bekerja. Bahkan dia tidak berinisiatif mengajak Keira untuk bergabung di atas ranjang.
Tak mau berpikir lain lagi. Justin pun bergabung ke atas ranjang dengan Keira. Terlihat Keira yang tersenyum semringah. Gadis itu menarik tangan Justin agar bisa menjadi bantalannya. Justin pun sedikit kaku ketika Keira menatap wajahnya, tapi Justin akhirnya menikmatinya karena Keira perlahan membuatnya nyaman.
“Selamat tidur, future husband,” ucap Keira seraya memejamkan matanya perlahan dan memeluk tubuh Justin seolah dia mengatakan kalau Justin memang harus menjadi miliknya.
Apapun yang terjadi. Keira akan menepati janjinya dengan Safira. Diam-diam, Keira juga mulai khawatir jika Justin kesepian karena Keira sudah pernah merasakan bagaimana ditinggal dan tidak tahu harus bicara dengan siapa untuk mendengarkan kesedihannya.
……………………………………
Kalau pas baca tulisannya susah dimengerti, komen aja di bawah ya, nanti aku benerin, karena enggak tahu kenapa ini suka kaya ke translate ke inggris abis itu ke indonesia, ahh entahlah susah dijelasinnya. kata tiba-tiba gitu aja. Jadi komen aja nanti aku benerin. Btw, judulnya aku ganti wkwkw
Jangan lupa like dan komennya. Next>>