Marry Me!

Marry Me!
Episode 27



Justin membuka matanya perlahan. Pertama kali yang dia lihat adalah gadis dengan wajah bonekanya sedang memejamkan mata.


“Oh shit!!!” teriak Justin dalam hati. Dia bisa apa selain ingin mencium gadis cantik ini. Dia benar-benar gemas melihatnya.


“Mmmm Kakak sudah bangun? Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?” tanya Keira dengan posisi mereka yang sangat dekat.


Dia bukan laki-laki murahan yang mudah jatuh cinta! Ingat itu!


“Tidak usah!” kata Justin langsung menarik lengannya dari leher Keira membuat Keira meringis kesakitan karena lehernya terasa seperti tertarik.


“Aww sakit, Kak.” Keluh Keira. Justin pun jadi khawatir.


“Maaf, maaf. Coba biar aku lihat,” ucap Justin dan Keira membalikkan tubuhnya. Dia membiarkan Justin memeriksanya.


“Sakit?” tanya Justin ketika menekan bagian leher Keira.


“Iya itu agak sakit, tapi tidak apa-apa. Nanti juga baikan.” Kata Keira segera bangun dan membiarkan rambutnya ke arah belakang.


“Kakak mau baju kemeja apa? Biar aku siapkan.”


“Sudah ku katakan tidak usah! Kau masak saja sana! Aku lapar,” ucap Justin dan Keira hanya mampu mencemberutkan bibirnya melihat Justin melengos masuk ke dalam kamar mandi.


………………………………………………………………


“Terima kasih atas infonya. Uangmu, sisanya akan saya kirim ke rekening siang ini.” ucap Justin di telepon seraya meremas kertas yang dia dapat sebagai hasil laboratorium milik Safira.


“Jadi ini alasan Mama memintaku menikah dengan gadis itu,” ucap Justin pada dirinya sendiri. Kalau dia tahu tentang ini sejak awal. Maka dia akan melakukannya sejak pertama kali dia datang ke Indonesia. Dia akan menikahi Keira demi melihat Mamanya bahagia.


“Mama pasti ingin melihat aku menikah dengan wanita pilihannya,” kata Justin dan tidak terasa air matanya jatuh juga. Katakan saja dia cengeng, tapi anak mana yang tidak sedih ketika mengetahui Ibunya sakit keras dan divonis kalau hidupnya tidak lama lagi.


Menurut Justin ini sangat menyeramkan. Lebih menyeramkan kehilangan orang yang melahirkan kita dibanding orang yang menafkahi kita. Ketika dia kehilanga Ayahnya, dia masih bisa tegar, tapi Justin tidak bisa membayangkan kalau Safira meninggalkannya. Bagi Justin, perjuangan seorang Ibu benar-benar melebihi seorang Ayah. Ibu selalu membela anaknya, melindungi anaknya, menafkahi anaknya ketika sang ayah tidak lagi menjalani fungsinya dan Ibu adalah segalanya bagi Justin.


Mulai dari hari ini. Justin akan melakukan apapun yang Safira ingikan. Dia sungguh ingin mengabulkan semua permintaan Safira agar Safira tenang di sana ketika nanti dia meninggalkan Justin.


“Tunggu Ma, Justin akan melakukan apapun yang Mama inginkan. Apapun itu, Justin akan melakukannya.” Ikrar Justin.


Kali ini, dia benar-benar akan melakukan apapun agar Mamanya bisa tertawa bahagia.


……………………


Rachel tahu sebuah penyesalan tidak pernah datang di awal. Karena itu, dia berharap Justin sungguh mau memaafkan dirinya. Setidaknya hubungan dia dan Justin tidak serenggang ini.


“Maaf Mbak. Mbak tidak bisa masuk lagi.” ucap seorang satpam yang kemarin menarik Rachel untuk keluar.


Rachel melepas kacamata hitamnya dan menatap ganas pada sang satpam. “Saya ini sepupu Justin. Anda tidak berhak melarang saya.” Ucap Rachel lalu berjalan bak model dengan sepatu heels-nya.