Marry Me!

Marry Me!
Episode 5



Sudah Justin pikirkan berkali-kali. Nampak ada sesuatu yang aneh dari Mamanya. Dia benar-benar tidak pernah melihat Safira sesedih seperti tadi.


Namun Justin segera menggelengkan kepalanya. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Justin pun beranjak dari kasur miliknya yang sudah tak pernah dia tiduri lagi. Terakhir kali dia tidur di sini sebelum dia kehilangan sesosok Ayah yang sangat hebat untuk keluarga ini. Saat itu Justin baru 1 tahun di Australia. Dia belum memutuskan akan kuliah di mana dan setelah Ayahnya meninggal dan Ibunya menjadi Direktur Utama menggantikan Ayahnya.


 Akhirnya Justin memutuskan mengambil manajemen bisnis di University Nasional Australia. Memang siap tidak siap, dia harus menjadi pengganti Ibunya dan akhirnya kabar burung ini datang padanya.


Safira meminta Justin kembali ke Indonesia untuk menggantikannya. Sebelum Justin memutuskan untuk stay di Australia. Justin sendiri pernah menjadi CEO di perusahan Ayahnya. Waktu itu umurnya 24 tahun. Justin sempat dua tahun menjadi CEO dan kejadian yang membuatnya merasa mati akhirnya merenggut semua keinginannya untuk hidup berlama-lama di Indonesia. Sekarang, umur Justin 30 tahun dan jelas saja Safira takut jika nanti Justin sendiri di usianya yang berkepala 3. Safira benar-benar tidak bisa membayangkan itu.


Justin beranjak dari ranjang yang baru saja dia tiduri. Dia ingin berendam air hangat dan menenangkan pikirannya yang entah kenapa. Ingatan masa lalunya terus saja terngiang di kepalanya. Namun, baru saja Justin masuk ke dalam kamar mandi. Dia malah melihat seperti ada seseorang yang mengisi bath-up kamar mandinya.


Begitu penasaran. Justin pun segera memghampirinya. Pria itu melotot. Dia kaget ada orang lain di dalam kamar mandinya. Cepat, Justin keluar dari kamar mandi dan segera memanggil Mamanya.


“Ma!!” teriak Justin.


Safira yang sedang menelepon seseorang pun segera menolehkan kepalanya ke arah lantai atas, di mana Justin memanggilnya.


“Ada apa?” tanya Safira.


“Ma, kenapa ada orang lain di kamarku?!”


“Hah? Maksud kamu?”


“Itu di kamar mandi siapa?!”


Safira pun langsung mengingat Keira. Ya Tuhan, apa yang sudah dia lakukan?


“Kamu kenapa tidak mengetuk dulu kalau mau ke kamar mandi. Mama baru saja menyuruh calonmu untuk tinggal di sini.”


“Apa? Siapa? Dia? Calon?”


 


 


Justin menghela napasnya sejenak. Dia merasa seperti sedang dijebak oleh Safira.


“Aku akan kembali ke Australia malam ini juga,” kata Justin, tapi Safira hanya tersenyum.


“Kamu punya uang? Uang dari mana? Kamu mau hidup sebagai seorang pengecut terus-terusan?” tanya Safira.


“Tapi, Ma, kenapa Mama memutuskan semuanya sendiri?”


“Karena Mama berhak atas hidup kamu, Justin!” teriak Safira merybah senyumnya dengan bentakan yang cukup keras. “Mama capek mendengar bantahan kamu terus! Berhenti untuk mengingat masa lalu dan mulai semuanya dari awal! Ini permintaan terakhir Mama sebelum Mama benar-benar ninggalin kamu.”


“Mama gak akan ninggalin aku!”


“Justin! Kamu bukan anak kecil lagi! Sekarang berapa umur kamu?! Kanmu sudah berkepala tiga dan kamu masih mau terus begini?!”


“Maksud Mama?”


“Mama tahu kamu anak yang dewasa, tapi kamu selalu berlaku kekanak-kanakan di depan Mama dan Papa. Mama tahu kamu itu anak yang bisa diandalakan. Buktinya, kamu pernah menjadi CEO dan Papa bangga sama kamu. Mama sudah bilang sejak tadi kamu datang. Mama ingin kamu bahagia Justin karena pada akhirnya…, semua manusia yang hidup akan kembali juga menghadap Tuhan. Mama tidak ingin meninggalkanmu sendiri dan keinginan Mama sebelum meninggal Cuma melihat kamu menikah lalu bahagia dengan orang yang Mama pilihkan untuk kamu.” Sejujurnya, niat Safira untuk mendekatkan Justin dan Keyra tidak seperti ini, tapi nampaknya rencananya tak berjalan mulus. Safira bisa berbuat apa.


.......................................


Jangan lupa like dan komennya^^