Marry Me!

Marry Me!
Episode 20



Keira mengangguk mengerti. Sebenarnya, tadi malam sebelum dia ingin tidur. Dia sempat berpikir seperti itu. Bahkan sampai sekarang, dia masih benar-benar mencari rencana itu.


Ting…, nong…,


“Tuh teman kamu kayanya sudah datang.”


“Yaudah Ma, Keira belajar dulu ya. Kalau Mama butuh apa-apa langsung panggil Keira ya.”


Safira mengangguk lagi menepuk punggung tangan Keira dan melepasnya perlahan. Keira pun segera berdiri lalu keluar dari kamar Safira untuk membuka pintu rumah.


………………………………


Justin mengingat kejadian semalam setelah dia menemani Keira makan. Dia memeluk Keira lalu setelah itu kembali membiarkan Keira melanjutkan makannya.


Justin benar-benar mengantuk saat itu. Ketika Keira selesai. Keira pun membangunkannya dan menyuruh Justin untuk tidur ke kamar karena dia ketiduran di atas meja makan. Lalu Justin bangun, tapi ia malah mengikuti Keira ke ruang TV.


Waktu itu Justin benar-benar seperti bermimpi. Dia langsung bergabung dengan Keira di atas sofa dan memeluknya. Bahkan Justin menarik selimut sebatas dada mereka agar mereka tidak kedinginan.


“Ahh sial!!” Justin menarik rambutnya sendiri. Hal itu terus saja membuatnya kepikiran.


Apalagi ketika pagi tadi dia melihat Keira berada di sampingnya. Wanita berwajah boneka itu ternyata tetap cantik meskipun bangun tidur.


“Sial!!” teriak Justin lagi merasa dirinya sudah terperdaya oleh wanita satu itu.


Dia rasa, dia benar-benar akan menjadi pedofil. Padahal selama ini dia sudah banyak melihat wanita yang lebih cantik dari Keira, tapi dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Lalu kenapa gadis kecil itu sudah berani membuatnya gila.


“Ini laporan bulan lalu,” kata Erik yang baru saja datang membuat Justin langsung


merapikan rambutnya.


Erik pun duduk di atas sofa dan menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain.


“Semalam aku bermimpi kau memeluk Keira?”


“Eu, oh apa? Aku tidak dengar,” kata Justin pura-pura sibuk dengan berkasnya.


“Mimpi kau! Semalam aku tidak bertemu dengan Keira. Dia sudah tidur dan pagi-paginya kita bertemu di meja makan. Iya kan?” kata Justin berbohong.


Erik pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Aku tidak yakin juga sih karena itu terasa benaran. Kau memeluknya sangat erat sekali dan Keira tersenyum di pelukanmu.”


Keira tersenyum? Keira tersenyum? Keira tersenyummmmmm.


“Ah aku bisa gila!!” teriak Justin dalam hati. Kenapa juga Keira yang tersenyum membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Tidak mungkin kan dia suka gadis kecil itu.


“Ahh yasudahlah. Nanti malam aku boleh menginap lagi gak?” tanya Erik dengan alis yang dia naik-turunkan. “Aku ingin ngobrol dengannya.”


“Ngobrol apa?” tanya Justin tidak begitu suka.


“Ya…, apa saja. Sepertinya dia orang yang asyik. Dia juga bukan seperti gadis umur 18 tahun. Dia benar-benar dewasa. Bisa masak, menyenangkan orangtua dan dia juga sangat sopan dengan aku. Dia sangat cocok sebagai calonnku,” kata Erik mengangkat kepalanya bersandar di kepala sofa dan memperhatikan langit-langit kantor Justin. Dia mulai tersenyum dan pastinya membayangi wajah Keira.


“Tidak, tidak, ranjangku bau badanmu. Aku baru meminta Keira mengganti spreinya tadi pagi.”


“Ck, pelit sekali. Lagi pula aku bau karena habis kerja tidak mandi lebih dulu. Semalam aku benar-benar ngantuk berat,” kata Erik membela dirinya.


“Oh ya, ngomong-ngomong kenapa Keira yang melakukan pekerjaan rumah. Kau kan kaya raya dan Tante biasanya punya pembantu rumah tangga.”


“Sebenarnya Mama membawanya untuk menjadi pembantu dan setelah diliat-liat, Mama jadi tertarik mengangkat Keira jadi anak karena dia anak yang baik,” ungkap Justin mengarang cerita. Daripada dia harus bilang kalau Mamanya punya maksud lain membawa Keira ke rumahnya.


“Ohh gitu, jadi sekarang dia merangkap menjadi pembantu dan anak angkat Tante?”


“Yahhh begitulah,” ucap Justin dan dia mulai merasa kesal karena pekerjaannya jadi terganggu. Padahal dia tidak ingin pulang malam lagi hari ini.


“Sudah ahh! Sana keluar! Tidak lihat berkas-berkas ini harus diperiksa!” kata Justin merasa kesal dengan Erik.


Erik pun terkekeh. “Iya maaf. Nihh keluar, nih,” kata Erik akhirnya keluar dari kantor Justin.


………………………