Marry Me!

Marry Me!
Episode 33



Begitu Keira keluar. Justin  yang sedang duduk di atas ranjang pun tersenyum seraya melambaikan tangannya agar Keira menghampirinya. Keira pun menghampiri Justin dan duduk di hadapan Justin. Justin mengusap rambut Keira dengan handuk yang Keira belitkan di atas kepalanya.


“Bagaimana tadi tesnya?” tanya Justin.


“Sangat lancar. Aku bisa menjawabnya,” kata Keira tersenyum.


Justin pun ikut tersenyum lalu meminta Keira untuk duduk di atas pangkuannya. Keira pun menurutinya dan melingkarkan pula tangannya di leher Justin.


Justin memeluk Keira dan menikmati harumnya gadis ini. Keira pun terkekeh seraya mengelus pelan rambut Justin. “Tadi Kakak kenapa seperti itu sama Brandon. Dia kan baik sama aku.”


“Kakak gak suka lihat kamu sama cowok lain. Besok Pak Aryo pulang dari kampung. Kamu akan diantar sama Pak Aryo kalau mau kemana-mana.” Nada Justin begitu terdengar posesif tapi Keira sangat suka.


Keira pun menganggukkan kepalanya. Dia memeluk kepala Justin lalu melepasnya lagi. Justin pun menangkup wajah Keira dan memangutnya dengan sangat lembut.


“Justin,” suara Safira seraya membuka kamar Justin membuat Keira langsung turun dari pangkuan Justin dan harus melepas ciuman mereka.


“Hahaha maaf mama ganggu ya,” kata Safira menahan tawanya. Dia sungguh bahagia melihat anaknya akhirnya mau menerima Keira.


“Ohh eng-enggak kok Ma. Mama butuh sesuatu?” tanya Keira.


“Iya Sayang, Mama lapar. Tadi Mama minta pesankan makanan sama Justin, tapi kok gak datang-datang.”


“Masih di jalan kali Ma,” kata Justin yang sudah sangat memerah wajahnya. Dia malu karena ketahuan sedang mesum dengan Keira.


“Masa sih kok lama banget.”


“Keira masakkan sesuatu aja ya, Ma.”


“Kamu pasti capek, Sayang. Kita udah pesan makanan kok.”


Ting nong, Ting nong,


“Nahh itu mah kayanya pesanan kita,” kata Justin seraya turun dari ranjang dan membawa dompetnya.


Justin, Keira maupun Safira pun segera turun dari lantai dua untuk menjemput makanan mereka.


……………………………………………………


Setelah mereka makan bersama. Keira pun merapikan semua bekas makanan yang tadi mereka makan. Sedangkan Justin mengantarkan Ibunya menuju kamar.


“Mama lihat kalian semakin dekat saja. Apa kamu udah mulai mencintai Keira?” tanya Safira seraya duduk di sisi ranjangnya.


Justin pun mengangkat senyumnya. Dia mengangguk cepat membuat Safira sangat lega dengan jawaban anaknya ini. Setidaknya memang inilah jawaban yang sangat dia tunggu-tunggu.


Obat? Obat apa? Batinnya. Kenapa Justin menanyakan obatnya.


“Obat apa?” tanya Safira pada Justin.


Justin pun terdiam sejenak. Lalu dia meraih tangan ibunya dan menciumnya dengan tulus, hal yang sudah tidak dia lakukan karena Justin sibuk dengan dunianya sendiri.


“Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Mama saat Papa pergi. Aku juga minta maaf karena sebagai anak. Aku tidak sama sekali tidak peka dengan apa yang Mama rasakan. Justin minta maaf, Ma karena Justin belum bisa menjadi anak yang berbakti ke Mama dan Papa.”


Tidak terassa Safira meneteskan air matanya. Nampakya Justin sudah mengetahui penyakitnya, tapi sepertinya bukan Keira yang memberitahunya karena jelas Keira tidak akan mengingkari janjinya.


“Suttt, sudah,” Safira mengelus pelan kepala anak laki-lakinya. Lalu Safira mencoba menampilkan senyum terbaiknya. Dia mencium puncak kepala Justin yang menangis.


“Kalau nanti Mama pergi. Mama Cuma mau ingin kamu bahagia dan bersama dengan orang yang tepat. Menurut Mama, hanya Keiralah yang mampu membuat Mama merasa tidak khawatir. Dia muda, cantik, pintar, bisa urus rumah dan bisa menyenangkan orang lain. Dia selalu melakukan hal yang terbaik untuk semua orang yang dia sayang. Mama sangat tahu karena Keira sangat mirip dengan Mama ketika muda. Karena itu, Mama yakin Keira pasti bisa membuat Mama tenang di alam sana. Mama sudah menitipkan anak Mama satu-satunya ini ke wanita yang baik.”


Justin menganggukkan kepalanya. “Aku akan berusaha semakin mencintai Keira, Ma.”


Safira menganggukkan kepalanya. Dia percaya itu karena anaknya sudah terlihat jatuh cinta pada Barbie satu itu. “Kapan kamu akan menikahinya? Jujur aja Mama pengen banget melihat cucu Mama lahir sebelum Mama meninggal.”


“Ma, apa kita tidak lebih baik berobat dulu ke luar?” tanya Justin.


Safira menggelengkan kepalanya. Dia menepuk punggung tangan Justin perlahan. “Setiap makhluk hidup pasti akan mati, Sayang. Mungkin memang sudah waktunya Mama beristirahat dan bertemu dengan Papamu.”


Mata Justin berkaca-kaca. Siapa juga yang siap mendengar kata-kata itu. Tidak ada anak yang tidak akan menangis ketika Ibunya mengatakan itu di hadapannya.


“Aku akan menikahi Keira minggu ini juga, Ma.”


Keira yang baru saja akan masuk kamar pun mendengar kata-kata Justin.


“Kamu yang serius Justin!” kata Safira menegaskan.


“Aku serius. Benar-benar serius.”


Safira menarik Justin ke pelukannya dan Keira pun masuk ke dalam kamar Safira. Keira nampak seperti patung setelah mendengar apa yang Justin katakan tadi.


“Keira,” ucap Justin.


“Sayang, Justin akan segera menikahi kamu. Besok kita cari gaun yang cantik.” Ucap Safira nampak semangat dan Justin sangat lega melihat Mamanya begitu bahagia setelah dia mengatakan akan menikahi Keira minggu ini juga.


………………………………


Jangan lupa like! like! komennya juga^^