Marry Me!

Marry Me!
Episode 34



Keira sangat semangat ingin segera pulang. Dia ingin mengatakan pada Safira kalau kedekatannya dengan Justin semakin intens.


“Keira!” panggil seseorang membuat Keira membalikkan tubuhnya dan menemukan pria yang dia kenal.


“Brandon kau belum pulang?” tanya Keira karena mereka berbeda ruangan jadi Keira tidak tahu kalau Brandon masih ada di kampus.


“Aku menunggumu. Bagaimana ujiannya?”


“Yaaa lumayan. Kau?”


“Ya, lumayan memusingkan, tapi aku bisa karena sudah kau ajarkan,” kata Brandon seraya tersenyum. “Ohhh ya ayo aku antarkan pulang. Ini sudah lumayan gelap sepertinya akan hujan juga.” Kata Brandon ketika mendengar suara petir di telinganya. “Angkutan umum di sini sangat susah didapat loh!”


Keira tidak mau banyak berpikir. Dia pun menganggukkan kepalanya. Lagipula, uangnya bisa dia irit untuk membeli sesuatu.


“Sudah siap?” tanya Brandon. Keira pun menganggukkan kepalanya. Dia mencengkram jaket Brandon dan tiba-tiba gerimis turun ke bumi.


……………………………………………………………


Sesampainya di depan rumah. Keira pun melepas helmnya. Tubuh mereka sedikit basah tapi bersyukur buku Keira tidak kebasahan karena mereka tadi sempat menuduh sebentar untuk memakai jas hujan.


Keira sedang melepas jas hujannya, tapi dia mendengar suara deheman dari seseorang. Keira membalikkan tubuhnya dan menemukan Justin berada di belakang tubuhnya. “Kakak sudah pulang?” tanya Keira begitu senang karena Justin sudah pulang.


Namun Justin tidak menanggapinya dan malah tertarik melihat pria lain di depannya. “Kau siapa?” tanya Justin pada Brandon. Akhirnya Justin bisa melihat pria ini juga.


“Oh saya temannya Keira, Kak,” kata Brandon mengulurkan tangannya ke arah Justin, tapi Justin tidak menanggapinya. Justin malah menarik tangan Keira hingga menubruk tubuhnya.


“Sudah tidak hujan. Terima kasih sudah mengantarnya dan jangan antar atau jemput dia lagi. Kau paham?!” ucap Justin lalu menarik jas hujan yang Keira pegang dan dia berikan pada Brandon.


Brandon ternganga hebat dan Keira langsung Justin bawa masuk ke dalam.


“Kakak! Apa sih! Kok gitu sama teman aku,” kata Keira melepas dekapan Justin ketika mereka sudah di dalam dan mendengar suara motor Brandon meninggalkan rumah mereka.


Justin pun tidak mau mendengar gerutuan Keira. Dia malah berjalan masuk ke dalam lalu menaiki tangga menuju kamarnya. Keira pun mengikutinya dan masuk ke dalam kamar.


“Kakak! Kenapa seperti itu? Dia kan baik sama Keira,” kata Keira lagi, tapi Justin tidak menjawabnya. Pria itu malah mengambil handuk dan lagi-lagi menarik Keira. Kali ini Justin menarik Keira ke dalam kamar mandi.


“Aku sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi. Bersihkan dirimu dulu lalu kita bicara,” ucap Justin dan Keira pun terdiam ketika Justin mengatakan dirinya menyiapkan air hangat untuknya.


Justin sungguh sudah bisa memperlakukannya dengan baik. Jadi, rasanya tidak mungkin kalau Justin tidak menyukainya.


Keira menganggukkan kepalanya menurut.


……………………………………………………………………


“Sangat cantik,” ucap Justin terlebih pada Keira yang tidak terbiasa memakai gaun seperti ini.


“Ma apa ini tidak terlalu mewah? Bukannya acaranya cuma di rumah ya?” tanya Keira. Setelah dia setuju dengan pernikahan mendadak ini.


Siang ini juga Safira membantu Keira memilih gaun yang sederhana “baginya” tapi terlalu mewah menurut Keira. Justin yang mendapatkan telepon dari Safira untuk segera menjemput mereka di butik pun tak berpikir panjang dengan pekerjaannya yang menumpuk. Dia ingin melihat calon istrinya yang cantik ini.


“Tidak, Sayang. Lagi pula ini kan sekali seumur hidup. Apa kamu gak mau terlihat cantik?” mendengar itu, wajah Keira langsung memerah. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi karena apa yang Safira katakan memang benar.


“Yasudah, kita ambil ini aja,” kata Safira pada sang pemilik butik.


“Oke Bu. Ayo Mbak ikut saya untuk mengganti bajunya kembali,” kata wanita itu seraya memegangi tangan Keira agar tidak jatuh.


Justin yang masih memandangi Keira pun membuat Safira terkekeh. Dia tahu, anaknya itu pasti sangat suka.


“Cantik?” tanya Safira pada Justin yang masih memandangi tubuh Keira yang meninggalkan mereka.


“Sangat cantik,” ucap Justin dengan menggelengkan kepalanya. Safira pun terkekeh dan memukul punggung belakang Justin.


“Sudah ayo, kita bayar dulu gaunnya.” Ucap Safira, tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


Justin pun langsung memegang bahu Safira. “Ma, Mama gak papa?” tanya Justin.


Safira memegang kepalanya sejenak. Lalu dia berusaha menurunkan tangan Justin dari bahunya. “Gak apa-apa, Justin. Sudah gih kamu bayar dulu di kasir. Mama tunggu di mobil saja ya.” Kata Safira seraya memegangi kepalanya dan meninggalkan Justin.


Justin pun menatap kepergian Safira. Dia tahu ingin sampai kapan pun itu. Safira pasti akan berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan bahwa dirinya sakit di hadapannya dan itulah yang membuat Justin sangat khawatir.


Justin segera berjalan ke arah kasir untuk membayar gaun dan juga tuksedo yang tadi sudah Mamanya pilihkan untuknya dan Keira. Begitu Keira keluar membawa dua handbag berisikan gaun dan tuksedonya. Wajah Justin kembali semringah. Dia hampir lupa kalau tadi, dia baru saja mengkhawatirkan Ibunya.


“Heii cantik,” kata Justin mengedipkan matanya membuat Keira langsung terkekeh. Melihat Justin yang menggodanya. Sungguh jauh dari kata Justin yang menyebalkan ketika dulu.


“Mama mana Kak?”


“Udah di mobil. Oh ya tadi gimana ujiannya?”


“Lumayan mudah kok. Besok udah yang terakhir. Kakak yang antar ya,” kata Keira seraya menggenggam tangan Justin manja.


Justin pun mengacak rambut Keira. Dia menganggukkan kepalanya setuju karena tadi pagi dia harus meeting dan tidak bisa mengantar Keira ke kampus. Meskipun Justin tidak bisa mengantar Keira. Justin pun tidak lupa untuk mengancam Keira tidak berangkat bersama Brandon. Keira pun menurutinya karena tepat sekali Pak Aryo pulang dari kampung dan tadi pun Pak Aryo yang mengantar Keira ke butik bersama Safira. Sekarang Pak Aryo sudah lebih dulu pulang karena Justin yang akan mengantar mereka ke rumah.


“Iya, Sayang.” Ucap Justin seraya mencubit pipi Keira. “Ini ya Pak. Terima kasih sudah berbelanja di sini. Semoga pernikahan kalian berjalan lancar.”


“Terima kasih,” ucap Justin dan Keira bersamaan. Lalu mereka segera menyusul Safira yang sudah di dalam mobil.