
Keira nampak sedang merapikan meja makan untuk makan malam. Namun Keira seperti mendengar sesuatu dari lantai atas. Dia mendengar seseorang terus menerus batuk dan siapa lagi kalau bukan Safira karena di rumah ini hanya ada mereka berdua.
Keira pun menunda pekerjaannya. Dia segera berlari ke lantai atas lalu menuju kamar Safira. Perlahan, Keira mengetuk pintu ruangan Nyonyanya dan membuka pintu itu sebelum Safira menjawabnya.
“Nyonya ada a-“ belum Keira menyelesaikan kalimatnya. Safira malah tumbang.
Keira langsung masuk ke dalam kamar dan menghampiri Safira. “Nyonya, nyonya kenapa?” ucap Keira menggoyangkan tubuh Safira, tapi Safira sungguh tidak sadarkan diri.
Keira pun segera keluar kamar dan turun kembali ke lantai bawah. Dia harus segera menghubungi Justin karena dia tidak tahu harus bagaimana. Keira lihat di buku kecil dekat telepon rumah ada nomer-nomer penting.
Dalam urutan tersebut pun dia bisa menemukan nomer Justin. Keira pun menekan beberapa nomer yang ada dan menunggu nada sambung itu berganti dengan suara berat yang dia kenal.
“Halo, Ma. Kenapa sih nelepon terus? Justin udah mau pulang kok,” kata Justin di ujung sana.
Namun Keira langsung menyangkalnya. “Ini aku, Nyonya pingsan Tuan. Saya ha-“
“Apa?! Saya akan segera pulang. Tolong jaga Mama saya,” ucap Justin lalu sambungan telepon pun mati.
Keira langsung kembali ke lantai atas. Begitu dia sampai di sana. Dia malah melihat seorang Safira sudah berada di sisi ranjang dengan wajah pucatnya.
“Nyonya?”
“Keira, kemarilah,” ucap Safira yang tengah duduk di pinggir ranjang. Dia menepuk sisinya agar Keira duduk dekatnya.
Keira pun menurut. Dia menghampiri Safira dan duduk di sebelahnya.
“Apa Nyonya baik-baik saja?”
“Iya Nyonya saya janji,” ucap Keira tidak kuat dengan tatapan sedih dari wanita yang ada di hadapannya. Keira nampak mendapatkan tatapan hangat dari seorang ibu yang menyayangi seorang anak seutuhnya.
“Sebenarnya…,” Safira menarik nafasnya sejenak. “Sebenarnya setengah tahun terakhir ini saya mengidap penyakit kanker paru-paru. Semakin lama, saya semakin merasa tidak baik dan sering memimpikan mendiang Ayah Justin. Sepertinya saya sangat merindukan suami saya dan rasanya…, hidup saya sudah tidak lama lagi,” ucap Safira dan perlahan sebuah air mata pun jatuh ke atas pipi Safira.
Kini Keira tahu apa alasan Safira sangat ingin melihat Justin menikah dengannya. Bahkan Safira berusaha menyatukan kamar mereka agar Justin terbiasa hidup dengan orang lain. Ternyata, memang sebesar ini alasan Safira ingin mempersiapkan semuanya sebelum dia pergi.
“Tolong jangan katakan pada Justin kalau saya sakit. Biarkan ini jadi rahasia kita berdua. Saya ingin dia menikahi kamu dengan rasa cintanya. Saya tidak ingin dia menikahi kamu hanya karena dia melihat keadaan saya seperti ini.”
Keira terdiam, apakah dia sungguh bisa mendapatkan cinta Justin. Pria itu saja mengakui dirinya hanya sebatas adik. Bagaimana mungkin pria dewasa seperti Justin memilih wanita berumur 18 tahun sepertinya. Justin pasti punya bayangan wanita yang sangat seksi di dalam pikirannya.
“Saya berjanji tidak akan mengatakannya pasa Tuan Justin dan saya…, saya akan berusaha agar dia jatuh cinta pada saya.” Ucap Keira dan Safira pun mengangguk perlahan seraya tersenyum.
“Saya mau istirahat saja. Kamu bisa kan antar makan ke kamar saya?”
“Iya Nyo-“
“Mama,” sela Safira. “Saya tidak mau mendengar kamu memanggil saya Nyonya lagi.”
Keira pun mengangguk pelan.
***
Jangan lupa like dan komennya^^