Marry Me!

Marry Me!
Episode 18



Justin terbangun dalam tidurnya. Dia merasa sangat haus, tapi air di gelasnya sudah habis. Terpaksa dengan mata mengantuk. Justin pun menurunkan kakinya satu persatu dan memakai sandalnya.


Dia keluar dari kamar dan perlahan menuruni anak tangga, tapi sebelum dia benar-benar berada di bawah. Dia melihat seseorang tidur di atas sofa depan ruang TV. Justin rasa dia tahu siapa dia. Justin kembali ke atas dan mengambil sebuah selimut baru miliknya.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari. Justin kembali turun dan menghampiri wanita berwajah boneka itu. Justin menghela napasnya sendiri. Mamanya mmang cukup keterlaluan! Ambisi-ambisinya itu sungguh membuat Keira justru cukup terlihat tidak nyaman. Meski Justin mendengar dari mulut Keira sendiri kalau wanita in tidak keberatan dengan ini, tapi Justin merasa Keira tidak perlu melakukan ini. Seolah-olah Justin hanya memikirkan sesuatu yang di bawah saja tanpa memikirkan perasaan yang tumbuh di antara ke duanya.


Justin menutupi tubuh Keira yang meringkuk kedinginan. Nampak Justin tersenyum mengingat pertama kali mereka bertemu. Waktu itu dia tak sengaja masuk kamar mandi ketika Keira tertidur di bath up.


“Kak…,” Keira terbangun. Wanita itu mengangkat kepalanya dari sofa lalu berusaha bangun dari ringkukannya.


“Kakak butuh sesuatu?” tanya Keira pada Justin yang nampak salah tingkah.


“Tidak,” kata Justin langsung berdiri lalu berjalan menuju dapur.


Keira pun melihat kepergian Justin. Lalu matanya beralih pada selimut yang dia pakai. Lagi-lagi Justin cukup peduli dengannya. Dia memang tidak secuek itu.


Keira pun turun dari sofa. Dia menyusul Justin ke dapur dan melihat pria itu sedang minum.


“Kakak lapar?”


“Tidak,” kata Justin kembali mengisi gelasnya dengan air mineral. Dia merasa tiba-tiba tubuhnya panas dan butuh banyak air untuk medinginkannya. Apa perlu dia mandi lagi malam ini?


“Aku lapar. Aku mau masak nasi goreng, tapi aku tidak suka makan sendiri,” kata Keira.


Justin yang akan meminum airnya pun tertahan.


“Kakak mau ya temani aku. Sebentarrrr saja.”


Justin terdiam. Dia tidak sama sekali menjawabnya, tapi Keira masih menunggu jawaban Justin.


“Ya?” tanya Keira lagi kali ini dia mendekat ke arah Justin dan melihat ekspresi Justin yang kaku.


“Baiklah,” kata Justin lalu meminum air miliknya sampai habis membuat Keira tersenyum.


…………………………………………………


“Aku takut tidak ada lagi ada orang yang bisa kuajak bicara.” Kata Keira seraya mengunyah nasi goreng buatannya. Dia sudah menawari Justin, tapi lagi-lagi Justin menolaknya. Dia bilang tidak mau, tapi tidak bilang kalau dia sudah kenyang. Bisa jadi pria itu memang tidak mau makan malam. Dasar penggila diet. Dia pasti senang menjaga tubuhnya yang bagus itu. “Aku takut sendiri.”


Justin mendapatkan aura kesedihan ketika Keira mengatakan itu. Dia tahu Keira memang tidak bohong kalau dia takut sendirian. Nampaknya Keira memang sangat kesepian sejak sekian lama.


Justin pun menarik kursinya agar lebih dekat dengan Keira. Lalu dia menarik pelan bagian pinggir leher gaun Keira hingga Keira kaget.


“Aku tidak akan memperkosamu.” Kekehnya seolah-olah dia berkata ‘padahal kau yang menggodaku, tapi kau takut jika aku menerkammu”


“Aku hanya ingin bertanya. Bekas apa ini?” tanya Justin seraya menunjuk luka yang kemarin dia lihat.


“Cambukan.”


“Apa? Kau dicambuk dengan siapa?”


“Dengan Tanteku. Dia ingin harta Ayahku hingga orangtuaku meninggal karenanya. Dia menyiksaku dan sungguh menunggu giliranku untuk mati.”


Justin menatap tidak percaya pada Keira. Apakah yang dia dengar sungguh benar?


“Dia akan membunuhku saat aku berumur 20 tahun. Aku takut,” kata Keira lirih. Kali ini makanan yang dia makan sudah tidak lagi membuatnya berselera. Bayangan orangtuanya meninggal karena Tantenya kini menghantuinya.


“Padahal, aku tidak mau harta apapun milik Ayahku, Kak, tapi dia sungguh mengincar nyawaku. Setiap hari aku disiksa tanpa sepengetahuan anaknya karena anaknya sangat dekat denganku.”


“Kenapa kau tidak mengatakan pada dia saja agar kau tidak disiksa lagi dengan Ibunya.”


Keira menggelengkan kepalanya. “Dia mengancam membunuhku secepatnya kalau begitu.”


Justin menghela napas beratnya. Ternyata tebakannya benar. Keira memang anak orang kaya, tapi dia menjadi begini karena Tantenya sendiri. Padahal Justin sudah dijelaskan oleh Safira sejak awal di hari ke dua mereka sedang makan bersama, tapi karena Justin tidak begitu peduli jadi dia melupakannya dan baru tahu kembali ketika tadi Keira menceritakannya.


Justin pun menarik Keira ke dalam pelukannya. Dia jadi tidak tega kalau ternyata apa yang dia alami tidak seberat apa yang Keira alami. Justin yakin bukan hanya trauma kecil yang Keira alami saat dia kehilangan orangtuanya. Keira pasti sangat terpukul ketika dia tahu, tantenya sendirilah yang membunuh orangtuanya. Bahkan iblis itu berani mengancam gadis berumur 18 tahun yang tidak tahu apa dosanya.


“Tenang, ada aku dan Mama yang akan menjagamu.”


Keira pun menumpahkan air matanya. Dia merasa senang karena sekarang ada seseorang yang mau melindunginya. Dia bersyukur pada tuhan karena hari itu Safira datang menjemputnya.