
“Terima kasih sudah datang,” ucap Keira dan Justin menyalami satu persatu orang yang duduk di atas meja besar di rumahnya. Biasanya hanya mereka ber-tigalah yang duduk di meja ini, tapi hari ini rumah sungguh ramai. Kebahagiaan mereka sungguh membuat keluarga Justin ikut bahagia.
“Istrimu terlihat sangat cantik,” puji Tante Sisi pada Justin.
Justin pun menepuk tangan Keira yang berada di lengannya. “Aku tidak salah pilih bukan?” ucap Justin seraya tersenyum dan tentu saja Tante Sisi menganggukkan kepalanya.
Sekali lagi Erik mengakui bahwa dirinya memang kalah pada Justin. Akhirnya, Justinlah yang menikah duluan dibanding dirinya.
“Kak Erik,” panggil Keira pada Erik yang sedang bengong dengan segelas minuman di tangannya.
Erik pun tersenyum ke sumber suara. Dia lihat wajah Justin nampak pucat dan Erik sungguh ingin tertawa melihatnya.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Keira terlihat sangat senang.
Erik pun mengulurkan tangannya pada Justin. “Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Erik namun Justin tidak menyambut salam Erik.
“Aku bisa menjelaskannya,” ungkap Justin tiba-tiba membuat Erik terkekeh. Pria itu malah menepuk bahu Justin pelan.
“Dia cocok dengannmu. Tenang saja, aku tidak marah.” Ucap Erik seraya tersenyum.
Keira yang tidak begitu mengerti pun hanya bisa melirik ke arah Justin seolah meminta penjelasan.
“Aku ingin ke sana dulu ya,” ucap Erik menunjuk di mana sepupu yang lainnya sedang berkumpul. “Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian,” ucap Erik seraya menepuk bahu Justin dan berlalu.
Justin pun menatap kepergian Erik. Dia menghela nafasnya dari mulut membuat Keira yang sejak tadi memperhatikannya benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dengan mereka berdua.
……………………………………………………………
“Hahahaha Kakak geli,” ucap Keira pada Justin yang sejak tadi menggelitik tubuhnya.
Sore tadi acara mereka selesai. Justin dan Keira pun dapat kesempatan untuk beristirahat duluan. Setelah mereka ganti baju pun mereka terlelap bersama di atas ranjang dengan tubuh yang memeluk satu sama lain.
Pukul 8 malam, Safira menuju kamar Justin untuk mengajak mereka berdua makan malam bersama. Ketika Safira yang ingin membangunkan mereka melihat keduanya tidur dengan nyaman dan tenang, akhirnya Safira benar-benar bisa bernafas lega kali ini. Keinginannya sungguh sudah Tuhan permudah dan dia tidak lagi khawatir Justin sendiri karena sudah ada Keira yang menemani anaknya.
“Mama, tolong,” kata Keira pada Safira yang hanya bisa menonton kebahagiaan mereka.
“Sudah dong Justin. Kamu kira, istri kamu ini bayi.” Kata Safira seraya meminum obatnya.
“Gemas, Ma.” Ucap Justin lalu kembali menggelitik tubuh Keira.
“Kalau gemas mending kamu bawa ke kamar gih. Ini kan malam pertama kalian,” ucap Safira membuat Justin yang sedang menggelitik tubuh Keira terhenti.
“Hahaha aku lagi banyak kerjaan Ma.” Kilah Justin.
“Tapi ini kan malam pertama kamu. Bisa-bisanya kamu mikirin kerjaan.”
“Gak papa Ma. Mungkin Kak Justin emang lagi banyak kerjaan. Keira juga mau beresin piring dulu abis itu langsung tidur. Mama ke kamar yuk.” Ajak Keira. Sebenarnya Keira sedih karena Justin tidak mau melalui malam pertama mereka. Bahkan sempat-sempatnya pria itu memikirkan pekerjaannya. Nampaknya Justin memang hanya menganggapnya seperti anak kecil.
“Yasudah terserah kalian. Mama sendiri aja ke kamar. Mama istirahat duluan ya,” kata Safira berdiri dari sofa seraya membawa obatnya.
Keira pun segera melepas tangan Justin yang berada di pinggangnya. Dia langsung berjalan ke dapur sementara Justin memperhatikan kepergian istrinya itu dengan wajah lesu. Dia ingin sekali, tapi mana bisa dia melakukan ini terhadap wanita yang baru saja memiliki KTP satu tahun yang lalu.
Memang cukup rumit mempunyai istri berumur muda.
………………………………………………………
Justin menuruni tangga dengan tangan sibuk mengancingi lengannya. Rumah benar-benar terlihat sangat sepi padahal kemarin dia baru saja menikahi seorang wanita.
“Ma, Keira mana?” tanya Justin. Semalam dia ketiduran setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia tidak tahu Keira kapan tidur dan kembali ke kamar, tapi yang pasti ketika dia bangun. Keira sudah menyiapkan air hangat untuknya dan juga baju kantornya.
Safira yang sedang asyik menyantap sarapannya pun mengerutkan keningnya. “Lah emang Keira gak izin sama kamu?”
Justin pun menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu, izin apa yang Safira katakan padanya.
“Ini hari pertama Keira les masak. Dia benar-benar semangat mau jadi istri loh. Padahal Mama bilang masakannya udah enak banget, tapi dia bilang masih belum puas.”
Justin pun terdiam sejenak. Dia tidak tahu apa yang istrinya itu pikirkan, tapi Justin rasa ada yang aneh dengan Keira setelah semalam mereka berpisah mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
“Udah cepetan makan! Kamu bisa telat! Oh ya, nanti sore Mama ada janji mau ketemu Dokter Rianna. Kamu bisa antar Mama?”
“Iya nanti Justin pulang cepat. Mama di rumah sendirian gak apa-apa?”
Safira menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. “Gak apa-apa. Nanti juga Keira pulang siang. Oh ya, dia udah buatin bekal kamu juga, loh. Dia benar-benar istri yang sigap,” puji Safira tak sadar membuat Justin merasa lega karena Safira benar-benar terlihat bahagia.
“Yaudah Justin makan ini di jalan aja ya.” Kata Justin mengangkat sandwich miliknya dengan tangan di mana bolongan tasnya dia masukkan ke dalam pergelangan tangannya. Lalu tangan lainnya dia buat untuk meraih bekal miliknya.
“Jaga diri di rumah ya Ma. Justin pergi,” ucap Justin mencium pipi Safira meninggalkan senyuman di bibir Safira sendiri.
…………………………………