
Keira bangun pagi-pagi dan melihat dirinya sudah berada di atas sofa kamar. Bukankah semalam dia ada di ruang tamu sedang belajar. Keira pun menurunkan kakinya satu persatu ke lantai lalu berdiri dan mendapatkan Tuannya yang masih terlelap di atas ranjangnya bersama laptop-nya.
Pria itu pasti bekerja semalaman dan sangat kelelahan. Keira pun mendekati ranjang Justin. Dia meraih laptop milik Justin lalu menaruhnya ke atas nakas. Sejenak Keira terdiam ketika menatap wajah Justin. Terakhir kali dia bertemu dengan Justin kan di ruang makan dan Keira meminta Justin panggilkan jika sudah selesai makan karena dia akan merapikan semuanya. Namun Keira ketiduran ketika sedang belajar dan…,
Keira tersenyum ke arah Justin yang masih terpejam. Ternyata, pria ini punya hati juga. Pasti dia yang mengangkat Keira ke atas. Keira pun segera menarik selimut Justin. Dia menutupi tubuh Justin sebatas dada dan tiba-tiba Justin menarik tangan Keira hingga tubuh Keira terjatuh dia atas dada bidang Justin. Wajah Keira sendiri pun tepat sekali berada di hadapan wajah Justin dengan hanya beberapa centi lagi mereka bisa saja berciuman.
“Rachel, aku merindukanmu,” ucap Justin dengan mata terpejam lalu memeluk Keira erat.
Keira terhenyak. Mungkinkah Rachel itu kekasih Justin. Kalaupun iya, kenapa Safira memohon padanya agar mengusahakan Justin jatuh cinta pada Keira. Bukankah itu jahat? Justin mencintai wanita lain dan Keira menjadi wanita perusak hubungan mereka.
Keira bergerak sedikit berusaha lepas dari pelukan dari Justin. Ketika dia berhasil lepas dari Justin. Dia pun segera ke kamar mandi karena ingin mandi air hangat untuk menenangkan pikirannya.
…………………………………………………………………
Safira sangat senang karena Keira terlihat sangat dewasa di matanya. Wanita itu sudah menyiapkan makanan untuk sarapan sejak pagi dan kini Keira sedang merapikan dapur yang terlihat cukup kotor setelah tadi dia pakai memasak.
“Ma,” ucap Keira ketika dia sadar ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang.
Keira segera berlari kecil ke arah Safira lalu membantu wanita itu untuk duduk di atas kursi ruang makan.
“Mama baik-baik saja, Sayang.” Ucap Safira mengelus tangan Keira.
Safira tersenyum dan meraih piring untuk dia ambilkan nasi dan juga lauk pauknya.
“Hari ini kamu masak banyak. Ada apa?”
“Oh ini, sekalian buat Tuan Justin bawa makan siangnya, Ma. Keira gak bisa ke kantor Tuan Justin lagi karena harus daftar kuliah dan mulai belajar. Gak apa-apa kan?” tanya Keira dan Safira menganggukkan kepalanya.
“Tapi Justin alergi sama udang. Lebih baik jangan berikan dia itu. Dia lebih suka dibuatkan telur rebus untuk maintance tubuhnya yang sixpack itu.”
Keira tersenyum. Dia bahkan mengingat kejadian tadi pagi ketika terjatuh ke atas tubuh Justin. Oh tidak! Keira kembali mengingat igauan Justin tadi pagi.
“Ma, Keira boleh nanya sesuatu?” tanya Keira seraya memberikan piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk-pauknya pada Safira.
“Boleh dong.” Ucap Safira seraya menekan pelan nasinya dengan sendok yang dia pegang.
“Rachel itu siapa?” mendengar pertanyaan itu. Safira yang ingin menyuapkan makanannya langsung terhenti.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Safira seraya menaruh kembali sendok yang dia pegang. Inilah yang dia khawatirkan.
Hufttt, terlihat sekali Safira menghela nafas lelahnya dari mulut. Tubuhnya terasa lemas kembali jika mengingat nama itu.
“Dia sepupu Justin dari keluarga Papa. Dia juga cinta pertama Justin sekaligus pacar pertamanya. Mereka berhubungan cukup lama, tapi akhirnya Rachel meninggalkan Justin untuk menikah dengan pengusaha kaya kenalan Ayahnya. Karena itu Justin merasa trauma jika kembali ke Indonesia. Dia selalu takut jika sewaktu-waktu bertemu dengan Rachel rasa cintanya belum benar-benar pudar dan kembali terpuruk. Dia tidak ingin luka lama itu basah kembali. Dia ingin meninggalkan Indonesia selamanya, tapi tidak bisa karena perusahaan kami yang harus dia tanggung jawabkan.”
Keira jadi tidak tega. Sepertinya dia memang benar-benar harus melakukan sesuatu demi membantu keluarga ini, tapi apa yang biasa dia lakukan.
“Karena itu Mama minta bantuan sama kamu, Sayang. Mama benar-benar berharap kau bisa bantu Mama dan Justin.”
“Keira gak tahu harus mulai dari mana, Ma.”
“Yasudah nanti biar Mama bantu pikirkan. Sekarang coba kamu panggilkan Justin dulu. Dia bisa-bisa kesiangan,” kata Safira kembali mengambil sendoknya dan memakan sarapannya.
……………………………………………………………
Keira menghela napasnya di depan pintu kamar Justin. Dia sangat kasih dengan apa yang Justin alami. Itu pasti sulit untuknya karena jika sakit itu terus menderanya. Itu tandanya, dia memang benar-benar mencintai Rachel dengan tulus.
“Baiklah, aku akan mencoba mendekati pria itu,” bisik Keira pada dirinya.
Keira pun membuka pintu kamar. “Kak Justin, Mama sudah me-” ucapan Keira terhenti ketika dia melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat.
“Aaaaaaa sial! Keluar kau dari kamarku!!” Kata Justin mengusir Keira.
Keira pun segera keluar dari kamar. Dia tidak menyangka kembali harus melihat ABS pria itu. Tubuh sixpacknya sungguh membuat semua wanita menyukainya.
“Kau gila!” teriak Justin keluar dari kamarnya sudah memakai pakaian lengkap.
“Kenapa lagi-lagi tidak mengetuk pintu dulu?” tanya Justin dengan nada marahnya.
“Maaf aku tidak tahu. Mama menyuruh Tuan untuk segera sarapan dan berangkat. Tuan bisa telat ke kantor.”
“Ahhh sial sekali pagi ini. Kenapa aku seolah masih tidur dan bermimpi buruk karena melihatmu!” kata Justin mengacak rambutnya sendiri seraya kembali masuk ke kamar.
Keira pun mendapatkan debuman pintu yang sangat keras dari Justin. Mendengar kata-kata Justin tadi. Keira jadi sedikit tersinggung dikatakan bahwa dirinya adalah mimpi buruk Justin. Memangnya dia sejelek itu hingga Justin tidak tertarik? Memang Rachel secantik apa hingga dirinya tidak bisa Justin lihat sebagai wanita yang cantik.
***
lumayan panjang sedikit wkwkwk, jangan lupa like dankomennya^^