Marry Me!

Marry Me!
EXTRA PART



AKHIRNYA KELUARIN EXTRA PART JUGA!! ENJOY^^


JUSTIN POV


Aku pernah bertanya pada istriku. Kenapa dia tidak pernah mau bertemu dengan keluarganya atau membalas perbuatan jahat mereka. Setelah menanyakan itu aku selalu merasa bersalah karena Keira murung dan terlihat sedih. Hingga suatu hari dia kembali mengatakan bahwa dia masih trauma dengan perlakuan keluarganya. Aku tahu luka yang dia dapat selalu membekas dipikiran, tubuh dan hatinya. Karena itu, aku pernah merencanakan untuk menuntutnya. Namun Keira, terlalu baik karena dia tidak mau melakukannya. Dia percaya bahwa Tuhan tidak tidur. Apa yang mereka lakukan pasti akan dapat hukumannya.


Pagi tadi kami melihat berita penangkapan CEO perusahaan Ranxi Group. Mereka terjerat kasus suap dan juga korupsi. Namun lucunya, istriku tetap terlihat sedih. Hatinya benar-benar lembut seperti kapas karena dia bilang bagaimana pun juga, mereka adalah keluarganya. Keira bilang, sekarang dia punya aku dan anak-anak. Baginya untuk kembali pada keluarganya adalah hal yang tidak mungkin. Toh, dia juga tidak membutuhkan harta. Bersamaku, Rey dan Sheila adalah harta yang paling berharga dia miliki. Kami sudah bahagia sebagaimana yang Mama inginkan.


“Papa, Cilla udah bisa jalan dong, Pa!” suara Keira yang masuk ke dalam ruangan kerjaku, menuntun anak ke dua kami yang sudah mulai bisa berjalan.


“Duhh, anak Papa! Pintar ya!” Aku segera turun dari kursiku dan berjongkok di bawah merentangkan tanganku.


Keira perlahan melepas tangan Sheila dan membiarkannya jalan pelan-pelan hingga akhirnya kembali terjatuh di atas lantai.


“Ehh jatuh ya!” ucap Keira yang siaga menjaga Sheila dari belakang.


Aku pun menghampirinya dan mengambil alih gendongannya. “Rey mana?” tanyaku seraya mencium Sheila. Anakku mulai tertawa ketika perutnya aku tiup.


“Ada dibawah sedang menggambar dengan Mbak Nita,” ucap Keira menyebutkan babysitter kami.


Aku pun mengangguk lalu membawa mereka duduk bersama menuju balkon rumah. Sheila mulai belajar bicara. Sejak tadi dia mengoceh tak keruan dan menarik-narik bajuku.


“Pa, lihat!” Keira memberi tahu sesuatu yang dia pakai. Sebuah kalung yang sangat cantik yang tentunya hanya untuknya.


Dia tersenyum lalu mencium pipiku. “Terima kasih ya! Mama suka!” katanya pada diri sendiri membuatku gemas.


Awalnya memang aneh harus menyebut Mama dan Papa, tapi kami sadar bahwa anak kami sudah dua. Tidak mungkin kami memberikan contoh tidak baik dan masih memanggil nama saja.


“Tapi ini bukan sogokan kan buat anak ke tiga?” Keira nampak mengintimidasiku dengan tatapannya.


Jelas aku tertawa terbahak-bahak hingga Sheila nampak terkejut dan menangis.


“Ihh kamu bikin Sheila takut tahu enggak, Pa!” keira langsung mengambil alih gendongannya dan memberikan ASI pada Sheila.


“Ya kamu lagian aneh banget. Kenapa selalu bahas anak ketiga? Lagian kamu ya, dulu ingat enggak, kamu yang minta punya baby? Kamu ngambek gitu sama aku padahal aku yang khawatir kalau kamu tuh masih terlalu muda untuk mengandung anak. Kamu tuh yang ngebet duluan mau lakuin!”


Keira melototkan matanya kesal. Dia memukul punggungku keras dengan wajah kesalnya.


Aku pun tersenyum mencolek dagunya pelan. Menggodanya sampai dia membelakangi tubuhku. “Enggak-enggak atau iya-iya nih?”


“Emang kenapa sih kalau minta anak ketiga? Semakin ramai kan semakin asyik, Sayang. Lagian juga ada babysitter, kita bisa tetap pantau mereka kok!”


“Aku enggak setuju! Hidupku dulu sama babysitter setiap hari, Pa! Kalau begitu anak kita kenapa enggak jadi anak Mbak Nita aja sekalian!”


“Iya sih, maaf deh!” pintaku padanya seraya memeluknya dari belakang. Lalu kami menatap ke arah luar di mana Pak Tono sedang menyiram tanaman. Setelah Mama tidak ada, rumah ini jadi terasa sepi. Kami memanggil beberapa pelayan rumah tangga supaya Keira tidak kelelahan.


“Dulu, aku kecil selalu sama Mama. Mama juga yang jaga dan urus aku. Mungkin karena hanya anak satu. Kami punya waktu lebih banyak sama keluarga. Setelah Papa enggak ada, Mama sibuk gantiin Papa dan kelola perusahaan. Aku juga sekolah di luar negeri. Kita jadi sangat jauh, tapi sebelum Mama pergi, Mama ternyata masih sayang sama aku. Sampai bisa memberikan seorang istri yang hebat seperti kamu!”


“Alah gombal! Kalau hebat beliin aku HP dong!”


“Enggak! Nanti kamu telponan sama si Brandon lagi! Lagian ngapain sih punya HP!”


“Ya aku kan masih ikut les masak. Aku mau kontakan sama mereka!”


“Kan ada telepon rumah!”


“Tahu enggak? Aku berasa lagi hidup di jaman dulu tahu?! Telepon rumah Cuma bisa teleponan doang, enggak bisa kirim pesan.”


“Ya ngapain kirim pesan? Kamu chat-chatan sama Brandon gitu?! Cukup sekali ya kamu ketahuan lagi chat-an sama Brandon!” kataku langsung melipat ke dua tanganku di depan dada dan Keira nampak tertawa.


“Ya Tuhan! Kenapa suamiku pencemburu! Kamu kan baca sendiri, Pa! Dia cuma nanya apa yang biasanya wanita sukai. Dia sekarang tuh udah lulus kuliah dan udah punya pacar!”


Aku hanya diam lalu meninggalkannya.


“Bodo! Pokonya aku enggak suka. Kamu enggak boleh pegang HP lagi!” kataku tidak mau lagi membahas ini karena memang sudah hampir 3 bulan Keira tidak punya HP.


“Dasar nyebelin! Kalau Papa enggak lupa, ini malam jum’at loh! Awas nanti malam enggak dapat jatah!” teriak Keira membuatku terkekeh mendengarnya.


Dia benar-benar penggoda!


Mau tambah extra part lagi tapi ada alasan yang tidak bisa dijelaskan. Jadi sampai di sini dulu!! Terima kasih sudah baca karyaku!! Kalian bisa baca karya2ku yang lain loh! Jangan takut digantungin karena banyak yang sudah end. Jangan lupa like dan komennya ya^^