Marry Me!

Marry Me!
Episode 15



Keira bertemu dengan Brandon di depan tempat kerja Brandon. Setelah pria itu mendapatkan izin untuk bekerja sampai jam 10. Dia pun segera membawa Keira ke kampus yang akan mereka tuju.


“Wahh ini sih salah satu kampus yang aku pengen.”


“Hahah jelaslah. Kamu kan anak pintar. Yaudah yuk masuk. Kamu bawa berkas-berkasnya kan? Nanti kita sekalian tanya-tanya dan daftar online di dalam.”


“Ohh baiklah,” ucap Keira dan mengikuti langkah Brandon.


Karena langkah Keira cukup lama. Brandon pun meraih tangan Keira dan menggenggamnya erat. “Lama-lama kau lelet juga ya jalannya.” Kata Brandon seraya terkekeh.


Keira pun ikut terkekeh dan dia membiarkan tangannya digenggam oleh Brandon.


Di sisi lain Erik yang baru saja keluar dari ruang Rektor melihat seseorang yang dia kenal. Erik menyipitkan matanya dan melihat kalau yang orang yang sedang bergandengan tangan itu Keira.


Kenapa Justin tidak mengatakan kalau Keira sudah punya kekasih?


………………………………………………


Erik langsung ke ruangan Justin. Dia memberikan beberapa berkas yang baru saja dia dapat dari orang yang mau bekerja sama dengannya. Kebetulan client-nya adalah pemilik kampus yang tadi Keira akan daftar. Jadi, Erik kebetulan saja melihat Keira ada di sana bersama kekasihnya.


“Hei, brother. Ngomong-ngomong kau tidak memberitahuku kalau Adikmu sudah punya pacar.”


“Adik?” Tanya Justin. Seingat dia, ia kan anak tunggal. Sejak kapan ia punya adik.


Justin hampir lupa. Dia kan baru saja mengenalkan Keira ke Erik kemarin.


“Ohh Keira, kenapa?”


“Tadi aku liat dia di kampus sama pacarnya.”


Justin mengernyitkan alisnya. “Pacar?” dalam hatinya. Jadi, Keira punya pacar. Kalau begitu kenapa Mamanya kekeuh mau nikahin mereka. Jelas-jelas Keira udah punya pacar atau jangan-jangan…, Keira mau menguras harta keluarga mereka.


“Ohh itu, iya maaf ya. Aku lupa. Maklum udah tua.”


“Huhh giliran gini aja ngakunya udah tua. Yaudah, kalau nanti dia udah nge-jomblo. Kau jangan lupa beritahu aku. Mau aku langsung ajak nikah aja biar tidak ada yang bisa ngambil dia dariku.” Mendengar itu, Justin terperangah. Dia tidak pernah mendengar seorang Erik bicara seperti ini.


“Iya, iya, udah gih sana keluar. Aku sedang kerja nih jangan ganggu,” kata Justin dan Erik pun sebelum keluar dari ruangan Justin mendengus pelan.


Lalu dia keluar dan menutup pintu ruangan Justin rapat-rapat.


Justin terdiam sejenak. Dia melihat ke arah tempat makan tupperware yang tadi Keira siapkan untuknya. Apakah wanita itu sungguh sudah memiliki kekasih? Lalu kenapa Safira menginginkan mereka menikah? Sebenarnya ada apa sih yang terjadi? Kenapa Justin tiba-tiba punya firasat yang tidak enak.


Justin meraih telepon kantornya. Dia memencet sesuatu di sana dan menunggu panggilannya diangkat.


“Halo, tolong lakukan sesuatu untukku.”


……………………………………


Keira berterima kasih pada Brandon karena sudah mengantarkannya dan mau mengajaknya makan di luar. Kini dia merasa lega karena akhirnya masa-masa remajanya kembali meski tidak seperti dulu ketika masih ada Ayahnya.


“Diantar siapa?” tanya Safira seraya melihat motor ninja yang dipakai pria muda tadi.


Keira pun menyalami tangan Safira dan mengecupnya seolah dia benar-benar menganggap Safira adalah Mamanya.


“Teman Keira waktu SMA, Ma. Kita mau sekampus. Beberapa hari lagi kami akan tes ujian masuk, tapi biaya…,”


“Gak usah mikirin biaya,” kata Safira mengibaskan tangannya. “Kan mama udah bilang. Semuanya akan Mama tanggung kalau kamu bisa naklukin ayam jantan Mama.” Mendengar kata jantan. Tiba-tiba wajah Keira jadi memerah. Dia mengingat kejadian tadi pagi saat dia membuka pintu kamar Justin.


“Iya Ma.”


“Oh ya Mama udah tahu cara memikat Justin.”


Keira membulatkan matanya. “Beneran Ma? Apa?”