
“Keira juga akan daftar kuliah di dekat-dekat sini saja supaya tidak terlalu jauh dari rumah. Mama akan menganggap Keira sebagai calon Mama.”
“Ma, aku kan belum bilang setuju!”
“Terserah! Mama suka Keira.”
“Kan aku yang jalani Ma. Mama yang suka Keira. Kenapa gak Mama aja yang nikah sama Keira.” Mendengar itu, Keira dan Safira terdiam. “Aku janji akan mencari calonku sendiri. Aku gak suka dengan cara Mama ini.”
“Baiklah, kamu masih boleh mencari, tapi Keira juga pantas kamu pertimbangkan.” Lagi-lagi Justin hanya mampu menghela nafasnya.
“Untuk urusan perusahaan. Kamu bisa bertanya semuanya dengan Manajer Erik.”
“Erik?” tanya Justin. Dia ingat sahabat sekaligus sepupu dari keluarga Ibunya itu pernah bekerja di perusahaan Ayahnya. Ternyata, sekarang dia sudah jadi kaki tangan Safira.
“Dia yang akan membimbing kamu perlahan-lahan. Jangan jadi orang yang keras kepala, Justin! Cobalah untuk merendah!” kata Safira lagi penuh dengan ketegasan dan Keira seperti bertemu dengan Safira yang pertama kali dia temui.
“Iya,” kata Justin lalu segera menarik sendok yang Keira berikan dengan sopan.
………………………………………………………
Sebuah mobil mewah berhenti di depan gedung bertingkat. Tak lama, seorang supir pun turun dan membukakan pintu sang Tuan yang kini membenarkan tuksedonya agar terlihat rapi.
“Terima kasih,” ucap Justin pada supir pribadi keluarganya dan orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya segera menunduk.
“Apa kabar?” tanya Erik seraya mengulurkan tangannya pada Justin.
Justin pun menerimanya dan seperti layaknya seorang sahabat, mereka tersenyum bersama.
“Baik, bagaimana dengan kau?” tanya Justin seraya melewati jalan tengah di antara semua karyawan yang tengah menundukkan tubuhnya.
“Kau lihat saja bagaimana aku. Masih terlihat sangat tampan bukan?” kata Erik lalu dia terkekeh bersamaan dengan Justin.
“Kau memang selalu jadi pria tampan, Brother. BTW, kau udah ada…,” Justin menaik turunkan alisnya. Sementara Erik hanya mampu terkekeh melihatnya. Justin memang selalu tepat menembak sasaran yang sedang dia hadapi.
“You know me so well.”
“Jadi, belum nih? Lo tuh emang gak pernah berubah ya. Terlalu banyak maunya.” Kata Justin lagi-lagi menimbulkan kekehan dari bibir Erik dan bahasa mereka mulai berubah menjadi menyenangkan.
“Apa bedanya gue sama elo. Elo juga belum kan? Pasti lo masih nginget masa lalu itu.” Kali ini Justin terhenyak. Mungkin apa yang Erik katakan barusan benar. Dia juga masih mengingat masa lalunya dan Justin sangat benci kenyataan itu.
TING!! Lift mereka sampi di lantai 6.
“Yuk, gue yang akan mandu lo,” kata Erik dan Justin pun mengikuti langkah Erik dengan tidak semangat.
Mungkin apa yang Safira katakan benar. Dia memang seharusnya memulai semuanya dari awal dan melupakan masa lalunya itu.
……………………………………………………
Safira tertawa seraya menunjukkan foto lain pada Keira.
“Ini waktu Justin umur 5 tahun. Dia memang sedikit gak bisa diam,” kata Safira menunjuk sebuah foto di mana Justin sedang memakan buah dengan wajah yang sangat blepotan.
“Kalau ini, Nyonya?” tanya Keira menunjuk sebuah foto paling bawah.
Namun Safira melirik ke arah Keira. Wanita itu memperhatikan wajah Keira agak lama membuat Keira tidak nyaman.
“Ada apa Nyonya? Apa ada sesuatu di wajah Kei?”
Safira tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. “Katanya kamu mau anggap saya Mama kamu. Masa manggilnya Nyonya.”
Keira mengenyitkan alisnya tak mengerti.
..........................
Jangan lupa like dan komennya ^^