Marry Me!

Marry Me!
Episode 25



“Baiklah, karena hari ini kau sudah menolongku. Maka kau boleh tidur di ranjang dan aku yang akan tidur di sofa.” Mendengar itu Keira langsung menyingkirkan bukunya dan berdiri.


“Benarkah?” tanya Keira. Justin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Keira senangnya bukan main. Dia langsung berlari ke arah ranjang dan menaikinya. Bahkan Keira tidak tahan untuk tidak merasakan empuknya kasur Justin yang pastinya mahal ini. Sudah berapa lama Keira tidak tidur di atas ranjang empuk seperti ini.


Justin pun tersenyum melihat Keira begitu senang. Dia menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke arah lemari bajunya.


“Kakak cari apa? Ini bajunya udah aku siapkan,” kata Keira turun dari ranjangnya lalu mengambil baju putih polos dan celana boxer yang tadi sudah dia siapakan.


Justin semakin merasa kalau Keira ini sungguh cocok menjadi seorang istri meski umurnya masih muda, tapi… dia kan sudah punya kekasih. Mengingat itu, Justin jadi kesal sendiri. Dia pun mengambil boxer yang Keira pegang lalu melemparnya ke dalam lemari.


“Aku tidak mau memakai celana seperti ini! Kau kira aku murahan!” kata Justin membuat Keira mengernyitkan alisnya.


“Memangnya kenapa dengan celana itu? Bukannya Kakak kemarin pakai celana seperti itu juga. Lagipula, aku tidak mengatakan kalau Kakak murahan,” kata Keira karena aneh sekali Justin membahas kata murahan seolah-olah Justin sedang menghina pakaian Keira kemarin.


“Sutt sudah! Kau keluar dulu! Aku mau ganti baju,” ucap Justin sungguh membuat Keira bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.


Namun Keira mengalah. Dia pun keluar dari kamar Justin dan bermaksud menuju kamar Safira. Siapa tahu saja Safira sedang kesepian butuh seseorang untuk bicara dengannya.


Tok, Tok,


“Ma,” panggil Keira.


Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Keira pun membukanya perlahan. Namun dia tidak menemukan Safira. Keira akhirnya turun menuruni tangga. Dia mencari Safira ke depan tidak ada, dapur juga tidak ada dan Keira mencari Safira ke belakang dekat gudang. Kakinya malah berhenti ketika menyadari bahwa Safira ada di taman belakang.


“Ma, sedang apa?” tanya Keira melihat Safira sedang duduk di bangku taman.


“Ini apa Ma?”


“Mama mau kamu menyimpannya. Supaya nanti kalau kalian menikah. Cucu-cucu Mama bisa melihat Kakek dan Neneknya,” kata Safira membuat Keira tersenyum. Dia jadi penasaran wajah pria yang sudah meninggalkan Safira dan Justin. Apakah dia juga setampan Justin.


“Keira mau lihat almarhum Papa boleh?” tanya Keira.


Safira menganggukkan kepalanya. Dia membuka album itu lalu menunjuk seorang pria dengan jas hitam rapi di dalam sebuah acara pernikahan dan di sebelahnya ada wanita cantik yang Keira yakin kalau itu Safira.


“Ini,” ucap Safira melirik ke arah Keira.


Keira pun menyentuhnya dan dia tertawa melihat wajah pria ini sangat mirip dengan Justin.


“Sangat mirip dengan Kak Justin, Ma.” Ucap Keira.


Safira mengangguk. “Mereka memang sangat mirip,” ungkap Safira.


“Sifat mereka juga cukup mirip. Mereka memang terkadang kekanak-kanakan, tapi di sisi lain. Mereka adalah pemimpin keluarga yang tegas. Dia menyayangi semua orang yang ingin dia lindungi.”


Keira sungguh tidak meragukan itu karena dia bisa melihat pancaran mata Justin tadi saat Justin mengkhawatirkan Keira yang ditampar Rachel.


“Mama titip apa yang Mama punya ke kamu. Mama sangat percaya sama kamu,” ucap Safira sekali lagi lalu menarik Keira ke dalam pelukannya.


Pembahasan Safira memang tidak pernah jauh dari Justin lagi, keluarga ini lagi dan Justin lagi. Dia sungguh takut Justin sendiri.


………………………