Marry Me!

Marry Me!
Episode 24



Safira sudah mendapatkan ceritanya dari Keira sendiri. Safira pun sangat senang karena Keira melawannya dan mendengar Justin baik pada Keira. Maka Safira yakin ini akan menjadi awal yang bagus untuk mereka.


“Mama aku pulang,” teriak Justin.


Safira pun memeluknya dan menepuk pelan bahu anaknya yang dia tepuk.


“Kamu anak kebanggaan Mama,” ucap Safira membuat Justin langsung mengeryitkan alisnya.


Justin tidak tahu kenapa Safira harus memeluknya. Lalu Keira tersenyum pada Justin membuat Justin sedikit ragu untuk membalasnya karena melihat Keira yang cantik sungguh membuatnya sedikit kaku.


Oh! Justin membatin. Kenapa dia harus seperti ini sih! Dia kesal karena perasaannya tidak bisa berbohong kalau dia mulai menyukai Keira.


“Ayo kita makan dulu, Ma.” kata Keira membuat Safira melepas pelukannya dan Safira langsung mengambil posisinya.


“Tidak pulang malam lagi?” tanya Safira mengingat kemarin anaknya pulang malam dan kini Justin pulang sore.


“Emm tidak. Mungkin besok akan pulang malam lagi. Hari ini aku akan istirahat,” ucap Justin melirik ke arah Keira ketika wanita itu mengambil piring miliknya untuk diisikan nasi dan lauk pauk masakannya.


Sialnya, Justin lagi-lagi menatap Keira dengan sangat kagum. Kenapa wanita ini membuat Justin berpikir kalau umurnya bukan 18 tahun. Erik memang benar kalau Keira sangat dewasa. Dia cocok menjadi seorang istri.


“Hemmm,” dehem Safira yang tahu anaknya mengangumi wanita yang dia pilihkan.


“Ahh iya kenapa, Ma?” tanya Justin dengan mata beralih ke Mamanya, tapi Safira sendiri malah terkekeh karena Safira tidak sama sekali bertanya apapun pada Justin kali ini.


“Mama tidak ngomong apa-apa.” Sangkal Safira.


“Sudah, ayo makan dulu Ma. Nanti dilanjutkan ngobrolnya. Kak Justin pasti lapar sekali,” kata Keira menengahi mereka seraya menyodorkan makanan yang dia sudah sediakan untuk Justin.


“Hahaha yasudah,” kata Safira lalu mereka dengan nikmatinya menikmati makan malam ini dengan sunyi.


Justin yang memang tidak bisa fokus sejak tadi melirik ke arah Keira yang duduk di seberangnya. Beruntung tidak ada pembicaraan apapun di atas meja makan karena kalau tidak. Justin pasti tidak akan fokus menjawabnya karena kini dia terkekeh melihat Keira yang sungguh nampak cantik di hadapannya malam ini. Otak dia memang tidak beres sejak pagi tadi.


…………………………………………………………………


Keira mendengar gemercik suara air di dalam kamar mandi. Lalu ketika air itu berhenti terdengar lagi di telinganya. Keira langsung pura-pura membaca bukunya di atas sofa yang dia jadikan tempat tidur.


Lalu Keira mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia mengintip sedikit dari bukunya. Melihat tubuh Justin yang kekar keluar dari kamar mandi membuat Keira mengingat kejadian waktu itu.


“Sudah Kak?” tanya Keira membuat Justin terkejut.


Justin memegangi handuknya agar tidak jatuh lalu menatap intens ke arah Keira. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Justin.


“Ini kan tempat tidurku,” ucap Keira menunjuk sofa yang Justin putuskan kalau itu adalah ranjang Keira.


Justin pun menatap sofa kamarnya. Dia jadi merasa kasihan pada Keira karena sudah dia perlakukan dengan tidak baik.


“Baiklah, karena hari ini kau sudah menolongku. Maka kau boleh tidur di ranjang dan aku yang akan tidur di sofa.” Mendengar itu Keira langsung menyingkirkan bukunya dan berdiri.