
Justin tidak bisa menahan keterkejutannya. Kakinya, tangannya, semua saraf otaknya terasa berhenti ketika melihat wanita yang tiba-tiba datang ke kantornya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rachel memeluk tubuh Justin yang tak bisa pria itu gerakkan.
“Aku sungguh merindukanmu, Justin.” Bisik Rachel seraya memejamkan matanya. Menikmati hangatnya tubuh pria yang dulu dia puja, tapi karena dia dibutakan oleh kekayaan. Rachel akhirnya lebih memilih meninggalkan Justin yang waktu itu belum menjadi pemimpin umum seperti ini.
“Sayang…,” Namun suara lain membuat mata Justin teralihkan. Justin melihat Keira berada di ambang pintu.
“Apa yang kau lakukan!!” teriak Keira langsung masuk ke dalam kantor dan menarik tangan Rachel dengan beraninya. “Kau memeluk kekasih orang lain, hah?” suara Keira menggema.
Rachel pun melirik ke arah Justin. “Justin, dia kekasihmu? Anak kecil ini? Seleramu berubah,” kata Rachel dan kembali memandangi Keira dari atas lalu ke bawah.
Pakaian Keira yang terlihat tidak begitu mahal membuat Rachel mendengus pelan. “Kau pedofil?” ungkap Rachel lagi seolah menahan tawanya untuk melecehkan Justin.
Keira yang melihat Justin seolah mematung akhirnya berdiri di hadapan Justin yang tingginya tak seberapa darinya, tapi Keira berani mencakar wajah wanita ini jika memang Rachel yang memintanya sendiri.
“Daripada kau! Tidak tahu diri, hah?! Kembali karena melihat mantan kekasihmu kaya? Memang yang dulu kemana?! Kau dibuang atau dia selingkuh di belakangmu?!” ucap Keira dengan berani.
PRAK!!! Namun ternyata perkataan Keira sungguh menusuk hati Rachel. Terlihat sekali mata Rachel yang marah. Dia sangat tidak suka dengan kata-kata Keira tadi.
“Kau menghinaku! Memang kau siapa berani-beraninya mengomentari hidupku?!”
“Dia calon istriku,” ucap Justin tiba-tiba. Pria itu kini sudah kembali normal dari rasa kagetnya.
Bahkan Justin kini menarik Keira ke dalam pelukannya. “Aku tidak tahu apa maksud kedatanganmu kesini, tapi aku sungguh tidak suka melihatmu di hadapanku lagi,” ucap Justin lalu dia menelepon seseorang dengan telepon kantornya.
“Tolong seret wanita gila yang masuk ke dalam ruangan saya,” ucap Justin lalu menutup teleponnya dan mengangkat Keira ke dalam ruangan lain di dalam kantornya yang ternyata ada sebuah kamar istirahat milik Ayahnya dulu ketika sakit.
“Justin!!! Dengarkan aku dulu!! Aku datang ingin meminta maaf padamu. Bukan untuk kembali padamu! Justin!!!” Rachel menggedor-gedor kamar itu, tapi Justin tak mempedulikannya. Bahkan pria itu sudah menguncinya dan merebahkan Keira ke atas ranjang.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Justin pada Keira.
Justin mengelus pelan pipi Keira. Pria itu tersenyum dan terkekeh mengingat betapa beraninya Keira menghina Rachel.
“Kenapa Kakak malah tertawa?” tanya Keira heran.
Justin menggelengkan kepalanya.
“Hanya sedikit kaget karena mendengar perkataanmu tadi. Kau sungguh berani dari yang aku bayangkan,” kata Justin.
Keira pun ikut terkekeh. Dia juga tidak tahu kalau dia akan seberani itu.
Tok, tok, tok,
“Justin!!! Buka pintunya!!!” suara Erik sungguh mengganggu moment mereka berdua.
“Kak Erik?” tanya Keira pada Justin.
Justin menganggukkan kepalanya. “Tolong jangan katakan apapun padanya dan…,” Justin menelan salivanya sendiri. “Terima kasih sudah membantuku menghadapi Rachel,” ucap Justin sangat tulus sekali.
Keira pun tersipu melihat wajah tampan pria ini. Pertama kali dia ditawarkan akan menjadi calon istrinya. Dia memang ragu, tapi berulang kali melihat Justin. Dia rasa, dia akan menyesal menolak Justin.
Keira menganggukkan kepalanya dan Justin berdiri dari ranjang. Dia membuka pintu kamar ruangannya dan melihat wajah Erik yang berkeringat.
“Ada apa?”
“Kau tidak bertemu dengan Rachel? Kau bersembunyi?”
“Tidak! Aku mengusirnya,” ucap Justin lalu mendorong tubuh Erik agar menyingkir. Justin harus kembali bekerja.
…………………