Marry Me!

Marry Me!
Episode 22



Erik dan Justin memang sangat berbeda. Kalau Justin tidak berani memulai duluan, tapi Erik justru sebaliknya.


“Ohhh itu bukan pacar aku, Kak. Dia cuma teman biasa kok. Kami akan masuk ke kampus yang sama dan dia sudah membantuku. Tadi juga dia habis belajar di rumah. Kebetulan dia bekerja di café Viola dan aku sekalian berangkat sama dia daripada ngeluarin ongkos lagi,” jelas Keira.


Erik tersenyum semringah. Pria itu mampu melompat dari gedung ini ke bawah karena mendapatkan kabar gembira dari bidadarinya.


“Oh gitu,” Erik mengangguk mengerti. “Ehh minum dulu kopinya,” ucap Erik mempersilakan Keira untuk minum setelah tadi dia bertanya-tanya tentang Keira dan berhasil bertanya apakah pria tadi itu kekasihnya.


“Kalau seandainya ada seseorang yang menyukaimu. Apa kau akan menerimanya?”


Uhuk! Keira terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Erik yang sangat mendadak itu. Erik pun memukul pelan punggung belakang Keira pelan.


“Duhhh kamu giman sih, Kei. Minumnya pelan-pelan dong,”ucap Erik terlihat khawatir.


Keira pun mengibaskan tangannya di depan wajah.


“Tidak apa, Kak. Aku cuma kaget aja Kakak mendadak tanya kaya gitu,” kata Keira karena dia langsung berpikir kalau Justin yang menyukainya. Padahal, Erik bertanya tentang dirinya sendiri.


“A-aku enggak tahu sih, Kak. Aku enggak pernah menerima seseorang.”


“Benarkah?” tanya Erik membuat hatinya terasa senang sekali.


“Mmm Keira, bagaimana kalau-“


Ekhemm!


Belum Erik menuntaskan kalimatnya tiba-tiba dia melihat Justin yang mengganggu percakapannya. “Kau mau gajimu kupotong? Cepat kembali bekerja. Keira, sudah waktunya kembali pulang,” kata Justin yang terdengar sangat galak sekali.


“ERIK!!” Namun sedang asyik berbincang dengan Keira. Erik dibuat kaget ketika dia melihat seorang wanita yang membuat saudara sepupunya itu tidak mau kembali ke Indonesia.


“Aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu?” tanya wanita dengan pakaian yang nampaknya berbanding terbalik dengan Keira. Bajunya sungguh seksi dan membentuk tubuh wanita itu menjadi sangat terlihat elegan.


Keira sendiri sampai terkagum-kagum melihat wanita cantik dan seksi di hadapannya ini. Wanita ini sungguh seperti seorang bidadari yang turun dari kayangan.


“A-aku baik,” ucap Erik.


“Oh ya aku dengar Justin sudah menjadi pemimpin utama?” mendengar itu Erik hanya mampu menganggukkan kepalanya, tapi Keira…, dia sangat ingin tahu siapa wanita ini sebenarya. Kenapa dia menanyakan prianya. Kenapa juga dia terlihat sangat akrab dengan Erik. Kenapa juga dia merindukan Justin? Kenapa dan kenapa?!


Keira mengepalkan tangannya tidak suka.


“Di mana ruangannya? Aku sangat merindukannya?” tanya wanita itu seraya melirik ke arah beberapa tempat di lantai 7 ini.


“Di sana. Kau tinggal belok saja,” kata Erik lalu wanita itu menganggukkan kepalanya dan segera meninggalkan Erik menuju ruangan yang ingin dia tuju.


Keira pun menatap Erik yang nampak tegang. Nampaknya ada yang salah di sini. “Dia siapa? Cantik sekali,” ucap Keira.


Erik yang masih menatap kepergian wanita itu pun seolah berbicara sendiri. “Aku tidak tahu bagaimana reaksi Justin jika melihat Rachel kembali,” ucapnya dan sesuatu yang menghujam jantung Keira tiba-tiba mengoyak isinya.


RACHEL, wanita itu…,


Dengan langkah cepat Keira segera berjalan ke arah ruangan Justin.


“Kei-Keira kau mau kemana?” teriak Erik yang Keira abaikan dan terus berjalan menuju ruangan Justin