
Setelah Keira mengantarkan makanan ke kamar Safira. Dia pun berniat mengantar makan siang milik Justin ke kantor. Kebetulan Brandon yang habis belajar dengan Keira akan berangkat kerja dan tempat kerja Brandon sangat dekat dengan kantor Justin. Jadi Brandon menawari tumpangan pada Keira dengan senang hati.
“Iya betul di sini,” kata Keira ketika Brandon memberhentikan motornya.
Brandon yang sudah diceritakan oleh Keira apa yang terjadi pada dirinya terkecuali tentang permohonan Safira itu hanya bisa menganga lebar ketika dia melihat gedung kantor milik Justin. “Kau selalu dilingkari oleh keberuntungan, Keira.” Kata Brandon seraya terkekeh.
Keira pun memegang pundak Brandok agar bisa turun dari motornya. “Aku pikir juga begitu. Tuhan menyayangiku sampai aku dipertemukan oleh orang-orang baik termasuk kamu,” kata Keira dan Brandon tersenyum ke arah Keira.
“Sini aku bantu,” kata Brandon berniat membukakan helm yang Keira pakai.
Di sisi lain, Erik melihat Keira dari gedung atas melalui jendela. Dia sedang menikmati kopinya dan juga udara di lantai atas. Tak sengaja Erik melihat Keira turun dari motor seseorang.
Erik pun langsung menaruh kopinya dan berlari ke ruangan Justin. “Heii lo harus lihat! Itu pacar Keira,” kata Erik menarik tangan Justin agar berdiri dari kursi kebesarannya dan melihat Keira dari jendela kantornya.
“Lihat itu! Masih tampanan gue kan?” tanya Erik ketika mereka melihat Brandon sedang membukakan helm yang Keira pakai. Mereka sempat bercakap sebentar, tapi tak lama Keira melambaikan tangannya ketika Brandon akan melajukan motornya lagi.
Justin pun menghela napas beratnya. Dia memukul kepala Erik. “Udah gue bilang kan kalau gue lagi kerja!” kata Justin melepas tangannya dari genggaman Erik lalu kembali duduk di bangku besarnya.
Erik pun mengikuti langkah Justin dan merengut. “Maaf deh, tapi menurut lo gimana? Gantengan gue kan?” tanya Erik lagi.
Sementara Justin yang diajak bicara sibuk melihat berkasnya. “Terserah lo!” kata Justin.
Justin melirik kepergian Erik. Lalu kembali berdiri dan melihat ke arah bawah melalui jendela.
“Pacar? Serius itu pacarnya? Iya sih masih muda, tapi kayanya lebih gantengan…,”
“Kak Justin,” suara Keira menggema di telinganya ketika wanita itu menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu kaca ruangan Justin. “Boleh masuk?” tanya Keira.
Justin memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana seraya mengangguk. “Ada apa?”
“Ini makan siang karena tadi aku tidak sempat membuatnya pagi-pagi,” kata Keira menaruhnya di atas meja kerja Justin.
“Oke, terima kasih,” kata Justin dengan nada cueknya lalu dia kembali duduk ke atas bangkunya seraya pura-pura sibuk membaca berkas di tangannya.
“Jangan lupa makan ya, Kak. Aku keluar dulu sebentar karena Kak Erik ingin ngajak aku ngobrol di luar. Nanti aku kembali lagi mengambil tempat makannya sekaligus memastikan Kakak sudah makan bekal dariku atau tidak.” Kata Keira.
Hampir saja Justin berkomentar, tapi Keira kembali melanjutkan kalimatnya. “Ini perintah Mama, Kak. Aku tinggal keluar ya. Nanti aku kembali lagi, dahhh,” Keira melambaikan tangannya dan Justin pun menghela napasnya dari mulut. Dia melihat bekal dari Keira lalu mendengus.
Padahal dia ingin mengatakan kalau dia tidak mau makan sendiri dan tidak suka kalau Keira malah ngobrol di luar sama Erik, tapi dia bisa apa. Dia sudah bilang kalau dia tidak suka anak ingusan seperti Keira. Kalau dia meminta Keira untuk tidak pergi, pasti aneh sekali.