
Satpam itu pun tidak mau kalah dengan Rachel. “Maap Mbak, tapi Pak Justin sendiri yang memerintahkan saya untuk tidak memperbolehkan Mbak masuk.”
Rachel berhenti melangkah. Apa Justin sungguh membenci dirinya? Kenapa rasanya sakit sekali? Mungkin dulu pun Justin merasakan hal seperti ini ketika Rachel meninggalkannya. Tidak! Itu lebih sakit dari ini. Buktinya, Justin sampai harus ke luar negeri untuk menghindarinya.
“Biarkan dia masuk,” ucap seseorang dari belakang mereka.
Rachel membalikkan tubuhnya. Dia menemukan seorang Justin yang tampan dengan jasnya yang berwibawa.
“Baik, Pak.” Ucap sang satpam seraya menundukkan kepalanya dan menyingkir dari sana.
Justin menatap Rachel sejenak lalu menghela nafasnya. Justin tidak begitu suka Rachel kembali lagi ke hadapannya, tapi inilah kenyataan untuk hidupnya. Mau tidak mau, dia memang harus menghadapi wanita ini. Setidaknya Justin harus membuktikan bahwa dirinya tidak seperti Rachel. Dia mau mendengarkan apa yang Rachel katakan padanya.
Mereka sudah berada di ruangan Justin. Justin pun melirik ke arah jam di tangannya. 1 jam lagi, dia harus meeting dengan client dan 3 jam ke depan Keira pasti akan datang mengantar makan siangnya.
“Apa yang ingin kau katakan? Aku akan ada meeting sebentar lagi.”
Rachel mengambil posisinya untuk duduk di hadapan Justin. Dia menautkan jari-jarinya dan meremasnya pelan. Kepalanya terlihat menunduk lalu tiba-tiba Justin mendengar suara tangisan dari bibir Rachel.
“Tuhan pasti sudah menghukumku, Justin.” Ucap Rachel. Rachel terlihat sesenggukan lalu dia mengangkat kepalanya dengan air mata yang berjatuhan.
“Aku bercerai dengan pria itu satu tahun yang lalu. Perusahaan Ayahku bangkrut dan aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain rumah dan juga mobilku. Sekarang aku sedang berusaha memulihkan kantor Ayahku karena aku punya anak yang harus aku tanggungjawabkan hidupnya.”
Sudah Justin duga. Untuk apa juga Rachel datang padanya kalau tanpa penyebab. “Kau kan sepupuku. Aku sadar selama ini keluargaku sangat tamak. Kami memang sangat bersalah dan aku sangat menyesal sudah pernah melukaimu. Aku kesini ingin meminta maaf padamu. Mohon maafkan aku,” ucap Rachel seraya meraih tangan Justin.
“Aku sudah memaafkanmu. Kau tidak perlu khawatir lagi tentang perusahaanmu. Aku akan membantu sesuai dengan permintaan mendiang Ayahku. Aku harus membantu keluarga dari Ayahku tidak peduli seberapa sombongnya orangtuamu.”
Rachel tersenyum semringah. “Terima kasih Justin. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan kebaikanmu.”
“Tapi aku mohon padamu agar tidak terlalu sering datang ke kantorku lagi. Jujur saja aku cukup terganggu apalagi aku sudah punya calon istri. Aku takut dia berpikir…,”
“Apakah kau sungguh mencintainya?” potong Rachel.
Justin menyipitkan matanya. Dia tidak begitu suka dengan pertanyaan Rachel. Suka atau tidak suka, Justin pikir itu bukan urusan Rachel.
“Ohh maaf Justin.” Ucap Rachel seolah tahu apa yang Justin pikirkan. “Aku do’akan semoga kalian berbahagia. Kalau begitu aku pergi dulu Justin.” Ucap Rachel langsung bangun dari duduknya.
Justin pun mengikuti Rachel hingga ke luar kantor dan dia mengeluarkan kartu namanya.
“Ini kartu namaku. Kau bisa menyimpannya,” ucap Justin dengan mudahnya. Entah kenapa pertemuan mereka saat ini terasa biasa saja. Tidak ada perasaan apapun lagi untuk Rachel di dalam hati Justin.
“Baiklah, sekali lagi terima kasih,” ucap Rachel dan wanita itu pergi meninggalkan Justin dengan sangat lega. Akhirnya dia bisa mendapatkan maaf dari Justin.
……………………………………………