
Keira pun terdiam. Kalau dia tidak menyanggupinya. Bagaimana dengan nasib orangtuanya? Dia ingin orangtuanya beristirahat dengan tenang. Kalau nanti makam mereka diratakan. Keira harus menjenguk mereka di mana? Keira sama sekali belum berani ke sana lagi setelah pemakaman Ayahnya satu tahun yang lalu. Selain itu benar yang Safira katakan tentang umur 20 tahun Keira. Dia pasti akan diincar dengan tantenya. Minimal, dia akan disingkirkan juga seperti orangtua Safira yang sudah meninggal.
“Baiklah Nyonya. Saya akan melakukannya.” Kata Keira memantapkan dirinya.
Safira pun meneteskan air matanya. Tiba-tiba wanita itu menarik Keira kepelukannya dan mencium puncak kepala Keira.
“Terima kasih,” ucap Safira dan keira tiba-tiba ingin menangis.
Dia merasakan kehangatan seorang Ibu ketika dia memeluk Safira. Apakah dia sedang merindukan Ibunya?
“Tapi Nyonya, apa saya boleh menganggap Nyonya seperti IBu sendiri?”
Safira pun menganggukkan kepalanya. Dia juga sudah lama menginginkan anak perempuan. Pertama kali dia melihat Keira. Dia sudah sangat jatuh cinta dengan sikap Keira yang lembut dan penurut. Dia juga sangat suka melihat wajah cantik Keira yang seperti boneka dan saat itu Safira tidak akan berpikir dua kali lagi untuk memilih Keira sebagai orang yang tepat untuk anaknya.
“Boleh, sangat boleh,” kata Safira dan Keira pun tersenyum sangat senang. Dia memeluk Safira cukup erat dan Safira pun mengelus pelan kepala Keira.
…………………………………………
Setelah acara pelukan tadi. Safira meminta Keira agar tidak pindah dari kamar Justin karena tidak ada kamar lain yang bisa Keira tempati. Alhasil, Justin kembali memarahi ulah Mamanya yang ingin menyatukannya dengan Keira.
“Kamar ini kan kosong, Ma.” Kata Justin membuka kamar kosong satu-satunya yang kosong di rumah besar ini.
“Justin, dengerin Mama. Kamar ini rusak kamar mandinya, Justin. Atapnya juga sedang bermasalah dan Mama belum sempat manggil orang untuk membenarkannya,” kilah Safira. Sementara kamar lainnya sudah diisi barang-barang tidak terpakai oleh Safira dan kamar sebelah Safira adalah kamar di mana Safira tidur bersama almarhum suaminya. Safira sudah tidak mau mengisinya karena baginya kenangan itu akan terus memenuhi kepalanya.
“Yaudah, tidur di kamar pembantu aja. Kamar pembantu kan aa dua, Ma.”
“Yang satu kan sudah diisi Pak Aryo dan satu lagi sudah Mama isi peralatan yang tidak dipakai juga.”
“Kamu tahu sendiri kan, Mama gak bisa tidur kalau ada orang lain.” mendengar itu, Justin hanya bisa menghela nafasnya.
Dia langsung kembali ke kamarnya dan melihat Keira sedang merapikan bajunya. Keira pun berdiri di hadapan Justin seraya menundukkan kepalanya. Meski Safira bilang, Keira akan menjadi calonnya. Tetap saja, bagi Keira dia hanyalah pembantu yang sedang membantu majikannya. Ya…, membantu dengan gaji yang sangat menggiurkan.
“Kau!! Tidur saja di situ,” kata Justin menunjukan sebuah sofa yang berada di kamarnya. Sofa yang baru saja Keira duduki untuk membereskan bajunya.
“I-iya Tuan,” jawab Keira dan Justin pun segera menuju ranjang besarnya. Dia melepaskan sandalnya dan memasukkan tubuhnya ke dalam selimut yang sangat hangat.
Keira pun hanya bisa menatapnya nanar. Dia juga ingin tidur di dalam selimut yang hangat, tapi ternyata kehidupannya sama saja dengan sebelumnya.
“Kalau tidurmu berisik. Aku tidak akan segan-segan melemparmu keluar,” kata Justin dengan kejamnya.
Keira pun menganggukkan kepalanya. Beruntung dia tidak punya kebiasaan mendengkur. Jadi, dia pasti aman tidur di sini. Tidak apa di atas sofa yang penting dia bisa istirahat dengan tenang.
“Matikan lampunya! Aku akan tidur sekarang juga.” Kata Justin lagi tidak peduli dengan kegiatan Keira yang sedang merapikan bajunya.
“Baik Tuan,” ucap Keira segera berlari ke arah saklar lampu berada dan mematikan lampunya mengingat besok pun dia harus bangun pagi untuk menyiapkan semua kebutuhan Justin di hari pertamanya bekerja.
“Selamat tidur,” ucap Keira pelan lalu kembali ke sofa. Dia pun melepas sandalnya dan menaikkan satu persatu kakinya ke atas sofa. Keira mengumpulkan tumpukan bajunya sebagai bantalan kepalanya dan menutupi sebagian tubuhnya dengan rok panjang yang dia punya.
......................
Jahat banget sih Babang Justin :(