
“Ayo masuk ke dalam,” kata Safira mengajak Keira masuk ke dalam rumah megah miliknya dan Keira pun mengikuti Safira yang menaiki tangga menuju kamarnya.
“Duduk dulu ya,” kata Safira menekan bahu Keira ketika sudah berada di kamarnya agar mau duduk di atas sofa yang persis sekali dengan sofa di kamar Justin.
Lalu Safira sibuk mencari sesuatu di dalam lemarinya dan sesuatu yang mengejutkan membuat Keira terbelalak.
“Ini gaun Mama loh, pasti bagus banget kalau kamu yang pakai.”
“Ma, tapi itu kan potongannya rendah banget.”
“Tidak apa, kita coba saja dulu.”
“Ma…,” Keira menggelengkan kepalanya. Mana bisa dia melakukan ini.
“Ayolah cobain dulu. Pasti cantik banget,” kata Safira tidak sabaran ingin tahu gaun dengan belahan dada rendah ini cocok tidak di tubuh Keira.
“Ayo…,” Safira menarik tangan Keira ke dalam kamar mandi lalu memberikan gaun itu ke arah Keira. “Kita pakai cara ini dulu. Kalau tidak bisa, kita cari cara lain.”
Ya Tuhan, kenapa Keira harus terjebak dengan baju sialan ini. Dia benar-benar malu kalau harus begini.
……………………………………………………
Justin baru saja keluar dari kantor. Dia lihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ternyata pekerjaannya ini lumayan juga. Melelahkannya tidak perlu ditanya lagi, tapi mengerjakan di kantor lebih baik daripada di rumah.
Dia gak mau lagi-lagi harus mengangkat tubuh wanita asing itu lagi ke kamarnya lalu menatap wajah bonekanya lagi hingga dia lupa waktu.
Baru saja Justin mau membuka pintu mobilnya. Dia melihat Erik sedang menendang mobilnya.
“Hei kenapa?” teriak Justin seraya bersandar di depan pintu mobilnya.
“Bocor. Gue nebeng ya sama lo.”
“Boleh sih, tapi gue udah ngantuk banget. Jadi, gak bisa ngantar lo ke rumah.”
“Yahh gue juga udah ngantuk berat nih pengen langsung istirahat.”
“Yehh yaudah pesen taksi aja gih,” kata Justin seraya membalikkan tubuhnya ingin membuka pintu mobilnya, tapi Erik segera menahannya.
“Gue nginep aja di rumah lo. Gue serem kalau harus naik taksi. Nanti kalau gue ketiduran terus tiba-tiba ditodong gimana?” kata Erik dengan sifatnya yang dari dulu tidak pernah hilang yaitu, parno.
…………………………………………………………
Keira menunggu kepulangan Justin dengan gaun yang Safira berikan padanya. Safira tidak lupa mengajarkan sedikit gaya yang elegan dan seksi jika nanti Keira ingin membukakan pintu untuk Justin.
Ting nong…, Ting nongg…,
Itu dia mangsa datang.
Keira langsung berdiri dan merapikan gaunnya. Sekali lagi dia berkaca dari layar TV yang mati di hadapannya. Ibu dari pria tua ini memang cukup berambisi membuat anaknya kembali jatuh cinta pada wanita lain dan kebetulan Keira sangatlah cocok dengan apa yang dia inginkan.
Keira berjalan ke arah depan. Sejenak dia menarik napas dan mengeluarkannya dari mulut. Dia meyakinkan dirinya sendiri pasti bisa.
Ting nongg…, Ting nong…,
“Sebentar,” ucap Keira memutar kunci pintu rumah mewah ini dan…,
Kalau Safira belum tidur dan melihat ekspresi apa yang Justin pasang sekarang. Wanita itu pasti akan bersorak karena misinya berhasil. Justin nampak sedikit menganga lebar karena melihat gadis di depannya menggunakan gaun potongan rendah di bagian dadanya dan juga ada belahan lainnya di sampingnya hingga menunjukkan jenjang kaki Keira yang mulus.
Namun beberapa detik kemudian. Pria itu kembali memasang wajah dinginnya. “Apa yang kau lakukan malam-malam dengan gaun seperti itu? Ingin menjual diri?” Mendengar itu Keira cukup sakit hati, tapi dia berusaha tak mendengarnya.
“Kakak udah pulang?” Rasanya pagi tadi dia memanggil Justin Tuan. Sekarang kenapa berubah lagi, batin Justin.
“Sini aku bantu bawa tasnya.” Kata Keira, tapi langsung Justin tepis.
“Aku bisa sendiri,” kata Justin berjalan masuk.
“Justin!!” namun pria itu kembali mengingat kalau dia membawa seseorang bersamanya.
“Erik,” bisiknya. Bagaimana kalau Erik melihat Keira?
Justin segera mendorong Keira ke dinding, menutupi tubuh gadis itu dari sepupunya. Dia menarik Keira ke dalam pelukannya dan semakin mendekap Keira erat agar Erik tidak melihatnya
“Lo ninggalin gue, sialan. Kenapa enggak bangunin gue!!” kata Erik dengan mata mengantuknya. Dia baru saja bangun tidur dan kakinya sempoyongan.
“Duhh gue ngantuk banget nih. Anter gue ke kamar lo dong,” kata Erik seolah dia tidak melihat kalau Justin sedang memeluk seseorang.
“Iya, iya ayo. Lo jalan duluan,” kata Justin dan Erik yang berjalan sempoyongan pun jalan lebih dulu.