
"diiinn... Kamu enggak nyesel nikah sama aku"
"ini tuh udah pertanyaan yang keberapa yaaa.. Sering banget tau enggk mas nanya begini.."
"habis aku takut nanti kamu ninggalin aku.."
"enggak usah berfikiran jelek tentang aku mas! Jangan berfikir kemana-mana duluu..! Apa aku terlihat tidak setia.."
"enggak seehhh..."
"terus kenapa kamu bilang begitu mas...! Berarti kamu enggk percaya sama aku"
Brama terdiam lagi...
"lama-lama kamu cerewet juga ya din.."
"heheheheh habiss aku tuh kesel sama mas... Gampang putus asa tau enggk!gampang menilai sesuatu dengan mudah.."
"terlalu pesimis yaa.."
"iyaaa... Tapi kok kalau di lapangan tuuh.. Waktu mendidik siswa.. Mas tuh bisa yakin... Gitu meyakini banyak orang kalau mas itu perfect.. Kenapa di rumah melempem gini"
"kalau di rumah itu aku yang sebenarnya, kalau di luar yaaa tuntutan pekerjaan"
Dinda tersenyum dan muka nya mendekati muka brama.. Sambil menyentuh muka brama dengan kedua telapak tangannya..
"lihat aku mas.. Kamu harus yakin.. Ok.. Yakiiinnn! Yakin sama aku yakin sama diri kamu sendiri..! Banyak jalan menuju roma..! Pahit nya kalau emang ALLAH enggak ngasih kita anak.. Setidaknya kita bisa ngadopsi.. Kita bisa ngangkat anak.. Yang bisa nanti di jadikan penerus mas kelak.. "
Brama terdiam, ia menatap dinda dalam..
" sekarang kita ikhtiar dulu.. Kita coba obat dari dokter.. Saran dari dokter.. Ok"
Brama mengangguk.... "cuma kamu yang bisa bikin aku kuat din.."
Dinda mencium bibir brama... "cuma mas yang bisa bikin aku bahagia sampai detik ini"
Brama membalas ciuman dinda..
"mass makan yuk.. Aku tuh lapaaarr dari tadiii"
Brama tersenyum.. "ya udah aku bikinin mie ya.. Aku ajah yang masak"
"serius...!!! Asiiikkk"
Brama pun pergi menuju dapur untuk memasak mie instan untuk dinda dan dirinya....
Selesai memasak..
"enak neeh kaya nyaaaa..." kata dinda sambil menghirup asap ngebul dari panci yang berisi mie instan buatan bramaa
" wong cuma mie instan doang kok..!"
"iiihhh buatan suami tuh biasa nya uenak"
Brama tersenyum sambil memberikan mangkuk untuk dinda
Dinda dan brama menghabiskan 3 bungkus mie instan plus 2 telur plus sayuran dan tak lupa cabai rawit...
"mantaaabbbb udah lama aku enggk makan begini tuh"
"enak yaaa..."
"Bangeettt... Sering-sering ya mas" kata dinda manja..
Dinda pun merapihkan semua alat makan dan panci bekas makan tadi...
Brama pun duduk di ruang tv.. Sambil menonton tv acara pertandingan bola..
Dinda datang membawakan minum untuk brama..
"coba kalau ada dipo pasti seru niihh.."
"harus ya dipo..??"
Dinda terdiam sambil memainkan ponselnya..
Dan ternyata ia menelepon adik nya, dipo
"dee... Lagi apa"
"lagi santai mba.. Piye.. Piye?"
"kapan ke sini lagi..."
"hahhahaha ehmmm minggu depan aku libur.."
"iyaa kalo libur.. Main yaa ke sini! Ada yang nanyain neeh"
"mas bram.. Hahahahaha! Iyaaa nanti kalau aku libur..! Bilang sama mas bram kenalin sama cewek orang sana biar aku sering-sering ke rumah mba"
"modus kamu maaahhh...! Iya ntar aku sampein"
"hahhahaha siippp lah...! Salam karo mas ku.."
"iyaaa.."
Telpon pun di tutup
"kamu beneran hubungin dipo"
"habis, kamu nanyain ajah..."
"hehhehehe dinda.. Dinda.."
Dinda mendekati brama.. Sambil menaruh dagunya di pundak brama..
"jangan lupa minum obat nya..."
"iyaaaa... Apalagi" brama menoleh ke arah dinda, sehingga muka mereka hanya berjarak sekitar 3 cm..
"enggak ada, kata dokter juga jangan sering-sering cukup 3 hari sekali.."
Brama menyubit hidung dinda... " iyaa bawel"
"eehmmm... Aku tidur duluan yaaa..! Obat nya aku siapin di meja makan"
"bawa sini ajah.. Takut lupa.. Biar sekalian aku minum"
Dinda mengambilkan beberapa butir obat dari dokter
"bismillah.."
Setelah brama meminum obat.. Dinda pun masuk ke kamar nya dan tidur lebih dulu.. Tak lama di susul oleh bramaaa...
Hari berganti hariii..
Minggu berganti minggu...
Bulan pun berganti bulan.. Tetapi mereka sama sekali tidak bosen untuk tetap kontrol ke dokter kandungan.. Demi memiliki anak...
Yang selalu mereka idam-idam kan
.
.
.
.
❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa like vote and coment