
Tak terasa sudah pagi..
Posisi brama tidak berubah.. Ia tetap memeluk dinda..
Mereka tertidur berdua, dinda ya bersandar di dipan tempat tidurnya, sedangkan mas bram memeluknya dari arah samping, kepala di sandarkan ke bahu dinda..
"ehhmm.. Mas.. Mas.. Banguuunnn..."
"ehm iya.." mas bram membuka mata nya perlahan
"kamu kerja enggak..!?"
"enggak.. Aku libur dulu.. 3 hari.."
"pelukan kamu bisa di lepasin mas.. Aku mau masak buat sarapan.."
Brama melepaskan pelukkanya...
Dinda pun turun dari tempat tidur dan langsung menuju dapur..
Tampak brama lebih tenang.. Ia merebahkan diri nya di kasur..
Di dapur
"pagi non..! Tumben kesiangan!" kata bi juju
"iyaaa.. Ehmm semalam ada yang ngigau bii"
"ngigau??? Bapak yang ngigau?"
"iya siapa lagi...!"
"kenapa non..."
"enggak tau neeh.. Nanti aku mau ngomong lah ke ibu... Kaya nya ada sesuatu iniih..!"
Bi juju hanya terdiam, ia pun sama bingung nya
Setelah membuat sarapan.. Dinda kembali ke kamar melihat mas bram..
Kali ini mas bram sedang asik nonton TV..
"mas.. Sarapan yuk..??"
"ehmm... Aku mandi dulu yaaa..!"
"kamu jadikan ke rumah ibu?"
"jadi.. Sama kamu juga kan..?"
"iyaaa..! Ya udah mandi dulu sana"
Brama pergi mandi.. Dinda langsung membereskan tempat tidur.. Dan menyiapkan baju yang akan di pakai brama...
Setelah brama selesai mandi, dinda pun bergantian mandi..
"diinn.. Mandi nya jangan lama-lama.."
"iya.."
Dinda mandi secepat mungkin...
Setelah keluar dari kamar mandi, ia melihat mas bram tidak ada di kamar
"aah mungkin di ruang makan atau ruang tv.." gumam nya dalam hati
Dinda berpakaian dan dandan dengan cepat..
Sesudah itu.. Ia keluar dari kamar..
Melihat ke ruang tv tidak ada
ke ruang makan tidak ada..
"bii... Bibi.."
"iya non.. Lihat bapak"
"looohhh tadi bapak keluar bawa mobil"
"haaaah.. Keluar.."
Dinda berlari mengambil handphone nya..
Ia menelepon brama berkali-kali Tetapi tidak di angkat nya..
Ia pun berlari keluar terus masuk ke mobil dan membawa mobilnya
Sesampai di rumah mertua...
Ternyata mobil brama ada di depan rumah orang tua nya...
Legaa..
Dinda berusaha menarik nafas dalam-dalam..
Ia keluar dengan santai, dari mobil nya..
Sesampainya di dalam rumah..
Ia melihat brama sedang menangis sesenggukan di pelukkan bapak nya..
Entah ada apa sebenarnya, dinda benar-benar bingung..
Tiba-tiba ibu menarik dinda ke dapur..
"sini ikut ibu.."
Dinda masih diam, kebingungan..
"brama waktu pulang dari papua kemarin ada gerak gerik mencurigakan?"
Dinda berfikir.. "ada seh bu.."
"gimana.. Nangis atau gimanaaa gitu"
"ehmmm diam ajah..terus sempat ngigau kaya orang ketakutan gitu buu.. Teriak-teriak"
"ehmm gitu.. Kamu mau tahu kenapa dia begitu"
"iya, sebenarnya ada apa seh bu..!? Ada masalah apa"
"brama sempat gencatan senjata sama pemberontak di sana.. Jadi ibu denger dari temen ayah nya.. Sampe kehutan-hutan.. Trus salah satu temen nya ketembak dan meninggal di sana.."
Dinda pun terdiam... Ia bingung harus bilang apa..
"setelah beberapa jam.. Baru dapat bantuan keadaan brama sama tim nya tuh udah acak-acakan lah pokoknya.. Temen nya meninggal 1, luka-luka termasuk brama ada 4 orang gitu.. Dari pemberontak seh 3 tewas di tempat.. Ketembak.."
"kok enggak ada kabar ya.. Bu.."
"di rahasia kan jadi cuma pihak mabes dan BIN ajah yang tau.."
Dinda lemas.. Ia terduduk di bangku meja makan.. Ibu pun berusaha menenangkannya..
"jalan satu-satunya bawa brama ke psikiater ya.. Dia harus di terapi.. Biar enggak terlalu parah nanti nya.."
"dinda kok bodoh ya bu.. Sampe enggak tau kalo mas bram seperti itu di sana"
"jangan begitu ini bukan salah siapa-siapa..!yang penting pemulihan pasca perang nya ini.. Harus ekstra.. Kaya nya yang meninggal teman dekat brama atau orang yang brama percaya"
Dinda terdiam..
Tak lama kemudian.. Bapak datang
"buu.. Bikinin teh manis hangat buat brama.."
"iya pak.."
"biar dinda ajah bu"
Dinda bergegas membuatkan teh manis hangat untuk mas bram dan bapak..
Dinda datang membawa teh manis hangat ke ruang tengah..
Ia meletakkan teh hangat itu di meja.. Sambil melirik ke arah brama.. Yang sedang tertunduk..
Seperti orang frustasi..
Tak ada kata-kata yang bisa ia ucapkan.. Dinda hanya sedih melihat suami nya ternyata punya trauma yang parah sepulang dari papua..
.
.
.
.
❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa like vote and coment