Luka Duchess

Luka Duchess
Bab 55



Keyna menahan semua urat malunya, lagi-lagi dia merasa di hina. Padahal sangat jelas Metteo mengatakan agar menjaga kesehatannya. Namun, bagi Keyna nasihat itu pengabaian Metteo.


Keyna menghenttakan kedua kakinya dan masuk ke dalam. Sesampainya di atas, dia melihat Duchess Natalien yang keluar dari kamarnya.


"Duchess, aku ingin berbicara."


Keyna melihat kanan kiri, di rasa aman. Dia mulai pembicaraannya. "Apa Duchess sudah puas membuat Metteo menghindari ku?"


"Keyna, aku memang tidak menyukai mu, tapi kamu tahu sendiri kan. Selama ini aku sudah tidak lagi membuat masalah dengan mu. Adelien sudah pergi, kini perjuangan mu meyakinkan Metteo."


"Bohong!"


"Duchess senang, bukan. Melihat musuh mu menderita."


"Aku memang senang, tapi tidak sekarang. Aku ingin kamu dan Metteo memiliki awal yang baru," ujar Duchess Natalien. Sejujurnya dia ingin menertawakan Keyna. Namun, ia tahan. Karena saat ini, ia melihat Keyna naik pitam. "Apa aku salah berubah?"


Keyna menangkis tangannya, seakan jijik pada sentuhannya. "Kamu bohong! aku tahu, kamu pasti senang."


Duchess Natalien menggeleng, dia melewati Keyna. Tadi, dia merasa haus. Tidak tega membangunkan tidur Duke, akhirnya dia memilih keluar dan mengambilnya sendiri.


Keyna menangkap lengan Duchess Natalien, meremasnya dengan kuat. Namun, Duchess Natalien tidak meringis.


"Aku tidak percaya."


Tak hanya itu, Keyna kembali menarik tangan Duchess Natalien. Mendorongnya ke lantai. "Keyna! apa yang kamu lakukan?!" teriak Duchess Natalien. Dia memegangi perutnya. Di dalam rahimnya sedang tumbuh seorang anak. Buah cintanya dengan Duke Marcello. "Kamu...."


Duke Marcello yang berada di kamarnya langsung beranjak mendengarkan teriakan Duchess Natalien. Dia menyibak selimutnya, tanpa menggunakan sandal. Dia berlari keluar dan melihat sang istri yang berada di lantai. Sedangkan Keyna seperti wanita yang sedang di rasuki iblis. Nafasnya naik turun penuh dengan kebencian.


"Keyna!"


Wanita itu mendongak dan melihat Duke Marcello yang merangkul tubuh Duchess Natalien. "Sayang."


"Dia, aku tidak tahu apa maksudnya. Tiba-tiba meminta berbicara pada ku dan aku menurutinya. Dia malah menuduh ku, bahwa aku senang karena Dia di abaikan oleh Metteo. Duke tahu sendiri kan, aku tidak mengganggunya dan menjauhi Keyna walaupun sebenarnya aku tidak suka. Aku membiarkannya tinggal di sini setelah apa yang Dia lakukan pada Adelien."


Duke Marcello, menarik lengan Keyna. Dia menghempaskan tubuh wanita itu sampai jatuh ke lantai. "Kamu ingin membunuh anak ku, hah? kamu menyakiti Duchess." Duke Marcello mencengkrma dagu Keyna dan menghempaskannya.


"Aku sudah berbaik hati menuruti permintaan mu untuk tetap tinggal, tapi apa nyatanya kamu masih menuduh istri ku?"


"Duke, apa yang kamu lihat tidak sama dengan hatinya. Tadi, dia memang benar-benar mengatakan bahwa dia tidak suka pada ku."


"Dia memang tidak suka pada mu karena cemburu, tapi Duchess tidak pernah menyelakai mu." Bentak Duke Marcello. Ia tidak terima istrinya di perlakukan kasar, apa lagi sedang mengandung anaknya. Duke Marcello melayangkan tangannya. Namun, di cegah oleh Duchess Natalien. "Sudah! biarkan dia menjalani hukuman. Jangan kotorkan tangan Duke. Keyna sepertinya tertekan. Hingga ingin mencelakai ku."


"Sebaiknya, aku masukkan saja dia kerumah sakit jiwa."