Luka Duchess

Luka Duchess
Penyerangan Balik



Seorang wanita yang bersembunyi di balik dinding kokoh itu sedang menunggu mangsanya. Dia mengintip saat kedua telinganya mendengarkan langkah kaki, saat mangsanya ingin membuka pintu. Secepat kilat, dia keluar dari tempat persembunyiannya dan menarik lengan itu secara kasar.


"Sakit!" Adelien menghempaskan tangan yang mencengkram lengannya itu. "Apa maksud mu bersikap kasar pada ku?!" Entahlah, dia ingin mengeluapkan emosinya tadi.


"Apa kamu masih memiliki urat malu?" Keyna tak bisa berhenti memikirkan pelukan tadi. Seolah kode untuk keduanya bersama. "Kalau kamu memiliki urat malu, kamu seharusnya menjauhi laki-laki yang sudah memiliki kekasih."


Adelien berdecak, ia memandang sebalah mata wanita di hadapannya. Bertanya tentang urat malu, seharusnya kata itu lah yang pantas di tanyakan padanya. "Baiklah, aku bertanya pada anda Nona Keyna kekasih Tuan Metteo, wanita yang ingin merebut kakak Tuan Metteo, Duke Marcello. Sekaligus suami dari Duchess Natalien. Apa anda masih mempunyai urat malu?" tanya balik Adelien. Ia bukan wanita yang mudah di tindas begitu saja.


"Jangan memutar balikkan fakta. Aku teman masa kecil Duke, jadi jangan menanyakan sesuatu yang membuat mu malu."


"Yang malu siapa? anda," Adelien menunjuk dada Keyna. "Apa anda memiliki urat malu? Padahal Duke adalah bekas dari Duchess Natalien, berarti anda sangat menyukai barang bekas."


Tangan yang terkepal erat itu siap melayang. Namun tangan Adelien dengan cepat menahannya. "Jangan coba-coba menyentuh tubuh ku dengan tangan kotor mu ini."


Adelien membuang dengan kasar tangan Keyna. "Aku ingatkan pada mu, jangan main-main pada ku."


Adelien tertawa, perkataan Keyna bagaikan suara lalat yang mengganggunya. "Dengar! aku Adelien tidak mudah di ancam. Kita lihat saja, siapa yang akan menang?"


"Kamu salah bermain-main dengan ku." Keyna keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berjalan dengan mengangkat dagunya, matanya menyorot kekejaman.


Adelien menatap langkah kaki yang semakin menjauh itu, ia menghembuskan nafasnya. Membenturkan punggungnya dengan kasar. "Keyna wanita yang licik, sangat tidak mudah di hadapi, tapi aku akan buktikan. Bahwa aku bisa mendapatkan Metteo."


"Adelien!"


Hah


Adelien terkejut, ia memegang dadanya yang seakan melompat. "Duchess, kamu mengagetkan ku."


"Emm, Jam segini kamu masih berkeliaran?" tanya Duchess Natalien. Di saat jam 12 semua orang seharusnya sudah tidur.


"Di jam segini, dia masih berkeliaran."


Adelien mengangguk dengan jantung yang tak berhenti berdetak lebih cepat. "Lalu kamu menjawab apa?"


"Dia sudah tau aku mendekati Metteo, mengancam ku, bahkan dia bertanya apa aku memiliki urat malu atau tidak?" Gerutu Adelien.


"Lalu,"


"Aku bertanya padanya, dia memiliki urat malu atau tidak yang berniat merebut Duke dari mu."


"Adelien, jangan sampai lengah. Keyna wanita yang licik. Meskipun kita bersatu, tapi kita tidak boleh meremehkan satu lawan."


"Apa kamu ingin melihat kehebohan besok pagi?"


"Duchess memiliki rencana?"


Duchess Natalien melihat lengan Adelien yang terlihat memar sedikit. "Sebaiknya, memar di lengan mu itu di tambahi atau kamu berikan goresan kuku mu. Menangislah dan mengadulah pada Duke,"


"Dan aku akan menyiapkan satu bukti pelayan. Bahwa pelayan itu melihat Keyna mengancam mu, bahkan melukai tangan mu."


Adelien tersenyum, ide dari Duchess Natalien memang luar biasa, tapi ia heran kenapa harus Duke bukan Metteo. "Duchess mengapa aku harus mengadu pada Duke?"


"Karena Duke orang yang berbuat adil. Dia tidak pandang bulu kalau menyangkut sebuah kesalahan."


"Benar, besok kita akan melihat apa reaksi dari Duke dan Metteo."