Luka Duchess

Luka Duchess
Memulai



"Aku butuh waktu, berikan aku waktu."


Waktu pun terus bergulir, Duke Marcello setiap harinya mengirimkan berbagai macam warna bunga mawar. Setiap saat ia pun membawakan makan malam atau sarapan jika Duchess tidak hadir di ruang makan. Ia akan bersabar sampai hati yang kecewa itu memaafkan dirinya, walaupun tidak bisa melupakannya. Duchess pun tidak pernah menolak bunga mawar itu, membuatnya memiliki harapan besar. Setidaknya masih memiliki kesempatan.


tok


tok


tok


Duke Marcello tidak langsung memasuki kamar itu, ia menghargai Duchess Natalien yang masih belum bisa menerimanya.


"Duchess, aku masuk."


Duke Marcello memasuki ruangan itu, di atas paha terdapat sebuah nampan. Roti berlapis keju dan segelas susu. Tak lupa ada setangkai mawar merah.


Pelayan Bella menghentikan aktivitasnya yang menyisir rambut Duchess Natalien saat sebuah tangan memberikan kode untuk menghentikannya.


"Apa Duke tidak lelah mengantarkan setiap saat sarapan atau makan malam?"


"Tentu saja tidak, makan lah."


Duchess Natalien tersenyum, ia mengambil roti itu dan mengunyah. "Apa Duke sudah sarapan?"


"Belum, setelah Duchess sarapan."


Duchess Natalien menyodorkan sisa kue yang telah ia kunyah. Duke Marcello memandang Duchess Natalien, ia tersenyum dan membuka mulutnya. Saat roti itu menyatu dengan air liurnya. Begitu manis dan lezat, bahkan memabukkan di lidahnya itu. "Sangat enak."


"O iya Duke, emm masalah kemarin, aku sudah memikirkannya."


Duke Marcello menelan roti yang ia kunyah, jantungnya berdebar-debar, takut Duchess Natalien akan menolaknya.


"Mari kita memulai dari awal. Aku akan mencoba, memahami dan menerima Duke, tapi jangan pernah mengulanginya lagi, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua lagi."


Duchess Natalien mengambil nampan itu, ia menaruh di atas meja rias itu. Senyumannya tercetak dengan jelas dan langsung memeluk Duke Marcello.


"Maka jangan mengecewakan ku." Duchess Natalien mencium bahu Duke Marcello. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, anggap saja ia akan merawat Duke Marcello sampai sembuh dan merasakan kebahagiaan yang pernah dia dapatkan dari Duchess sebelumnya.


"O iya, terima kasih bunga mawarnya. Jangan membeli lagi, bisa-bisa di kota ini tidak ada bunga mawar lagi."


Duke Marcello terkekeh, kemudian mengecup dahi Duchess Natalien." Aku mencintai mu."


"Ya, ya, ya, aku sudah tahu Duke mencintai ku."


Keduanya pun mengobrol ringan dan bercanda bersama.


Di tempat lain.


Metteo duduk di atas pagar pembatas teras itu, pikirannya hilang entah kemana. Semenjak ia jujur, ia tidak lagi menampakkan dirinya pada Duke atau pun Duchess. Ia takut perasaannya tak bisa di kendalikan. Kini ia hanya duduk dan merenungi perasaannya. Sudah lama ia tidak menemui Keyna. Bahkan ia tidak tahu mengenai kabar wanita itu.


"Tuhan, matikan perasaan ini." Metteo menatap ke arah langit, rembulan memancarkan cahaya keindahannya. Memberikan senyuman terindahnya.


"Aku merindukan Duchess, aku ingin menemuinya. Setidaknya aku ingin melihat senyumannya, sebentar saja."


"Metteo."


Metteo terkesiap, saat mengetahui siapa yang datang. "Keyna."


Wanita itu tersenyum, "Aku merindukan mu, maka dari itu aku ke sini. Di Villa ini aku bisa melihat bayangan mu."


Metteo tertawa, ia tidak akan menampilkan wajah kesedihan dan kerapuhannya.


"Apa ada masalah?"


"Tidak ada, aku hanya merindukan tempat di mana aku tumbuh dan di kurung.."


Tanpa rasa curiga, Keyna mengangguk. Untung saja ia datang kesini dan melihat Metteo. Ia sangat merindukan laki-laki yang berada di hadapannya ini dan untuk saat ini, ia akan menghabiskan waktu bersama.