
Kedua mata itu terbuka, mengerjap pelan menyesuaikan penglihatannya. Silau cahaya itu membuat kedua matanya menyipit.
Emmm
Duchess Natalien berusaha bergerak, namun ia melihat seorang laki-laki yang memeluknya dengan selimut sampai di dadanya. Ia pun sadar, tadi malam, untuk pertama kalinya ia melakukan itu dengan seseorang dengan tubuh asingnya.
Huft
Duchess Natalien menarik selimut itu, sampai selimut putih dan polos itu menutupi tubuh Duke Marcello sampai ke lehernya.
"Duke....."
Tangannya bergerak mengelus pipi halus dan putih itu.
Duke Marcello membuka matanya, ia merasakan sentuhan hangat di pipinya. Kemudian tersenyum, kepalanya ia telungsupkan ke leher Duchess Natalien.
"Sudah bangun."
"Tidurlah." Duchess Natalien mengelus punggung Duke Marcello yang di bungkus oleh selimut itu.
"Aku masih ngantuk Duchess." Duke Marcello pun tak mau menunda kesempatan. Ia ingin bermanja-manja dengan Duchess Natalien, istri tercintanya itu.
"Nyonya!" panggil seorang pelayan di iringi ketukan pintu. "Di luar ada Tuan Metteo."
Seketika Duke Marcello membuka matanya, ia beranjak dan merasa heran dengan kedatangan adiknya. "Apa terjadi sesuatu?"
"Ada Metteo, Duke bersiap-siaplah, aku akan segera menyusul Duke."
Duke Marcello mengangguk, ia bergegas turun tanpa memperhatikan tubuhnya yang terpajang polos. Hingg kedua mata Duchess Natalien melihat benda malam itu yang membuatnya menggeliat tak karuan.
"Ya ampun, dia memang tidak bisa menjaga tubuhnya." Gumam Duchess Natalien.
Beberapa menit kemudian.
"Metteo!" Pria itu bangkit dan memberikan hormat. Awalnya ia terkejut melihat sang kakak yang sudah berdiri, seperti sedia kalanya. Ternyata cinta sangat ampuh menyembuhkan apa pun.
Metteo membalas pelukan sekejap itu, kemudian Duke Marcello mempersilahkannya duduk.
"Ada apa Metteo? apa terjadi sesuatu pada mu?"
Metteo tersenyum tipis, lebih dari itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kedatangannya kesini hanya merindukan sosok Duchess Natalien. "Aku hanya ingin menjenguk kakak," ujarnya berbohong.
"Aku baik-baik saja Metteo." Duke Marcello bersyukur, tidak terjadi apapun dengan adiknya itu.
"Emm, dimana Duchess?" tanya Metteo.
"Dia ada di kamarnya, sebentar lagi akan kesini."
"Oh, begitu."
Keduanya saling terdiam, menampakkan ekspresi yang tak mudah terbaca. Hingga ketukan langkah kaki itu membuat keduanya menoleh. Terlihat seorang wanita memakai gaun berwarna hijau dengan rambut yang di kuncir kecil, membentuk lingkaran di pucuk kepalanya itu.
"Oh Metteo." Duchess Natalien duduk di samping Duke Marcello, sejujurnya ia masih canggung berhadapan dengan Metteo. Apa lagi semenjak kebenaran itu terungkap. Ia sadar, sepenuhnya bukan salah Metteo. Hanya karena cinta, adik iparnya terlibat.
"Sebaiknya kita sarapan, ini sudah waktunya sarapan kan," ujar Duchess Natalien memecahkan keheningan.
"Ah iya benar, ayo Metteo. Kita sudah lama tidak sarapan bersama," ujar Duke Marcello. "Ayo sayang," Duke Marcello menggenggam tangan Duchess Natalien.
Metteo pun mengikutinya, ia berjalan tepat di belakang Duchess Natalien. Karena rindu, ia melupakan waktu dan tak bisa membuatnya menolak keinginan Duke Marcello.
Duchess Natalien menoleh sejenak kemudian menjajarkan langkahnya dengan Duke Marcello. Hingga sebuah tangan menyentuh lengannya, ia melihat tangan itu, kemudian pandangannya mengikuti tangan itu.
Metteo tersenyum lembut, kemudian melepaskannya. Duchess Natalien merasa risih, ia melihat pelayan Lilly yang juga menatapnya kemudian menunduk.