Luka Duchess

Luka Duchess
Kerapuhan



Kesatria Erland pun memilih diam, ia tidak menanyakan lebih jauh. Namun satu hal yang ia yakini, ia merasa Metteo telah melampaui batasnya.


Sepanjang perjalanan, ia memandang ke punggung Metteo. Meskipun laki-laki itu menyangkalnya, ia yakin Metteo sudah memiliki rasa. Namun sekarang masih belum ada bukti.


Kedua kuda itu memasuki kediaman Duke. Metteo dan Kesatria Erland turun dari kudanya.


"Duke!"


Metteo menghentikan langkahnya. "Bisa kita bicara sebentar, saya ingin berbicara dengan Tuan di halaman samping."


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama. Aku lelah,,"


Metteo berjalan lebih dulu, kemudian di susul oleh Kesatria Erland.


"Tuan Metteo, apa Tuan memiliki perasaan pada Nyonya?"


Metteo tidak menjawab, bibirnya terasa kelu untuk menyangkalnya.


"Saya harap tidak, jangan mengkhianati kepercayaan kakak Tuan, Duke Marcello. Selama ini Duke, selalu melakukan apa saja untuk Tuan. Duchess Natalie, hanya Nyonya yang di miliki Tuan Duke."


Metteo tertawa sumbang, ia mencoba membuat gelak tawa. Menelan ludahnya sebelum mengucapkan sebuah kata yang bertolak belakang dengan hatinya. "Ka-kamu bisa saja Sir, mana mungkin."


"Hanya itu kan yang kamu katakan, aku kembali." Metteo melangkah dengan air mata menggenang.


"Tuan, jika pun Tuan memiliki perasaan itu. Tolong, hapus perasaan itu. Lihatlah Duke Marcello, saudara Tuan sendiri."


Kamu pikir aku mau, kamu pikir aku menginginkannya. Aku tidak menginginkan semua ini. Andai aku bisa meneriaki semuanya, aku akan berteriak bahwa aku tidak mendorong hati ku untuk menyukainya.


"Hah, jangan khawatir. Semua pemikiran mu salah, Sir Erland," ujar Metteo.


"Kenapa hubungan kalian sangat rumit, semenjak kecil kalian sudah terpisah. Seandainya itu terjadi, aku tidak tahu, hati siapa yang paling terluka." Gumam Sir Erland.


Ia membayangkan saudara kembar itu berada di posisi yang sulit. Seandainya Duchess memilih salah satu di antara mereka, entah siapa yang akan paling sakit.


"Nyonya," Kesatria Erland memberikan hormat. Ia melihat rentengan buah tangan pada pelayan Lily. "Kota?!"


"Ah, iya aku memang dari kota," ujar Duchess Natalie tersenyum.


"Ini untuk mu," Duchess Natalie menyodorkan paper bag.


"Untuk saya Nyonya."


"Iya, aku lagi bahagia. Ya sudah, aku masuk dulu."


"Silahkan Nyonya." Kesatria Erland mempersilahkan Duchess Natalie memasuki kediamannya. Ia menengok isi di dalam Paper bag itu dan tersenyum.


"Duchess, anda tidak berubah." Kesatria Erland mengambil kotak plastik itu, mengambil beberapa potong kue di dalamnya, rasanya sangat manis dan pas di lidahnya. Sangat menyenangkan, menikmati kue sambil melihat ke atas langit.


Sedangkan Duchess Natalie


ceklek


"Nyonya saya akan.... "


"Nyonya ada Tuan." Duchess Natalie terkejut, baru kali ini ia melihat Duke Marcello memasuki kamarnya. Duduk santai di sofa itu.


"Kamu taruh saja di atas tempat tidur, nanti aku yang akan membereskannya."


"Baik Nyonya." Setelah menyelesaikan tugasnya, pelayan Lily keluar dari ruangan itu.


Duchess Natalie menggeleng pelan, ia mengambil beberapa gaun di dalam paper bag itu, kemudian menaruhnya di dalam lemari. Ia berpura-pura seakan tidak ada Duke Marcello.


"Duchess."


Duchess mendongak, kemudian melanjutkan kembali menaruh gaun yang ia beli.


"Maaf, aku tidak meminta ijin memasuki kamar mu."


Masih tidak peduli, Duke Marcello di anggap patung lalu oleh Duchess Natalie.


"Untuk apa Duke datang ke sini?"


"Aku..."


"Apa mau membahas penceraian kita?"


"Tidak.. Aku tidak ingin membahasnya." Duke Marcello tak habis pikir dengan dirinya yang datang sendiri ke kamar Duchess. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya dan sampailah ia duduk menunggu kedatangan Duchess


"Apa ini tentang nona Keyna?"


Deg


"Apa maksud mu?" tanya Duke Mercello, "Seharusnya aku bertanya, Duchess dari mana saja sampai larut malam seperti ini?"


"Menikmati kota, o iya tadi aku bertemu dengan Nona Keyna. Sebenarnya aku tidak mengerti mengenai kisah hidupnya, tapi anehnya dia mengatakannya pada ku. Seperti diriku saja yang memisahkannya."


"Apa Duke tadi tidak bersama Keyna?"


Duke Marcello langsung melotot tajam. "Kamu bicara apa Duchess? kamu mau menuduhku bersama Keyna. Aku hanya menolongnya dan iya, tidak ada hubungan apa-apa?"


"Lalu kenapa Duke ke rumah sakit?'


"Apa maksud mu aku tidak sakit? siapa yang sakit? jangan mengarang cerita dan mengalihkan pembicaraan."


"Marquess Helton mengatakan pada ku. Dia bertemu dengan mu di rumah sakit pas waktu Duke di rawat di rumah, tapi anehnyaa...." Duchess Natalie bersendekap kemudian mengetuk dagunya dengan jari telunjuknya. "Apa dia kembaran Duke? kalau begitu aku ingin bertemu dengan kalian."


glek