Luka Duchess

Luka Duchess
Ciuman



Pagi Harinya.


Seorang wanita berpakaian warna putih dan topi dengan hiasan bunga dan pita berwarna biru yang mengikat di bawah dagunya, di sampingnya seorang laki-laki dengan memakai jas berwarna merah. Kedua orang itu menatap seorang laki-laki berkursi roda.


"Bagaimana? apa Tuan Metteo sudah memikirkannya?"


"Aku akan datang, mungkin besok atau dua hari lagi."


"Aku berharap Tuan Metteo secepatnya pulang." Duchess Natalie melirik Duke Marcello "Bagaimanapun juga, rumah itu juga rumah tuan Metteo."


"Iya... Terima kasih atas waktunya Duchess."


"Ehem, kami pamit."


Duchess Natalie dan Duke Marcello memasuki kereta itu, sebelum keluar Duchess Natalie menyingkapi gorden jendela itu, senyuman terakhir untuk Metteo yang telah menemani hari-harinya.


"Apa Duke tidak akan bertemu dengan nona Keyna?"


"Keyna? aku tidak perlu meminta ijin siapa pun," ucap Duke Marcello.


"Aku merasa Duke sangat menyukai nona Keyna, sampai dia rela datang kesini."


"Hanya pikiran Duchess, sebaiknya jangan membahasnya."


"Kalaupun suka, bilang saja. Aku tidak masalah jika Duke menginginkannya." Ejek Duchess Natalie, salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Apa maksud mu Duchess?" tanya Duke Marcello yang pura-pura tidak mengerti.


"Aku tahu, Duke mengabaikan ku kerena dia kan, tapi alangkah baiknya kalau anda adalah Metteo."


Duke Marcello mengepalkan tangannya di atas lututnya itu, ia seakan ingin meremas sesuatu sampai hancur. "Jangan menyulut emosi Duchess,


"Pertengkaran itu, bukankah itu adalah Duke dan nona Keyna."


Deg


Duke Marcello tergagap, ia meyakini sesuatu. Percakapannya dengan Keyna telah tercium oleh Duchess Natalie. Seandainya semuanya terbongkar, apa yang harus ia lakukan?


"Jangan menuduh ku, Keyna adalah kekasih Metteo."


"Bisa saja kalian memiliki hubungan dengan di belakang Tuan Metteo." sarkas Duchess Natalie. "Aku semakin yakin, kamu bukan Duke Marcello yang aku kenal. Tuan Metteo lebih memahami ku dari pada anda."


"Duchess!" tegas Duke Marcello. "Aku lebih memahami dari pada Metteo karena aku adalah suami mu."


"Dan aku tidak membutuhkan suami yang menyakiti istrinya, bersikap lah sewajarnya, hanya itu yang aku harapkan."


"Aku tidak ingin bertengkar dengan mu, Duchess!"


"Kita akhiri saja pernikahan ini."


"Aku tidak akan mengakhirinya, camkan itu."


Emosi Duke Marcello atau Metteo mulai tak terkendali, ia sudah mengeklaim dirinya sebagai suami dari Duchess Natalie. Duke Marcello atau Metteo pun menarik tangan kiri Duchess Natalie, hingga tubuh Duchess Natalie menabrak dada bidang Duke Marcello. Dengan ******* kecil, Duke Marcello mencium bibir Duchess Natalie. Menarik tengkuk dan pinggang Duchess Natalie begitu erat, hingga Duchess Natalie tidak bisa meronta.


Hah


"Aku adalah suami mu, aku suami mu dan aku akan tetap menjadi suami mu, camkan itu."


Duchess Natalie membeku, ia syok dengan perlakuan Duke yang tiba-tiba menyerang bibirnya.


Duke Marcello mendorong tubuh Duchess Natalie, ia menumpu tubuhnya.


"Kamu gila Duke,"


Duke Marcello tertawa, ia memang gila karena dirinya bukan Marcello yang asli melainkan Metteo. Biarkan ia gila, bukan salahnya mencintai Duchess Natalie selaku kakak iparnya. Lagi pula, semua salah dari kakaknya membiarkannya bersama Duchess Natalie. Ia sudah berusaha menepis, bersikap dingin dan mengabaikannya, namun usahanya sia-sia. Duchess yang dulunya datang menghampiri, kini ingin menjauhinya dan perubahan itulah yang membuatnya tertantang dan ingin mendapatkannya.


"Kamu gila!"


"Salahkan dirinya, ini salahnya."


"Apa maksud mu?" tanya Duchess Natalie.


Seketika Metteo tersadar, ia langsung kembali duduk dan melihat ke luar jendela. Sungguh, cinta membuatnya kehilangan kendali. Ia tidak bisa berfikir dan malah ingin membongkar semuanya.