Luka Duchess

Luka Duchess
Permintaan Maaf Duke



"Maaf, ini bukan keinginan ku. Kakak tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Metteo berusaha tegar, ia tidak akan menyalahkan siapapun, hatinya tidak bisa menahan adalah kesalahannya. "Maafkan aku..."


"Kamu tidak salah, akulah yang salah. Bagaimana jika suatu saat nanti aku meninggal, apa kamu akan menjaganya?"


"Aku akan menjaganya, tapi aku yakin, Kakaklah yang akan menjaganya. Aku pamit kak, maafkan aku mengacaukan semuanya." Metteo memeluk Duke Marcello, kemudian melerainya.


Duke Marcello merangkup kedua pipi Metteo, "Maafkan kakak mu yang tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku mengerti kak," Metteo melenggang pergi, sebelum langkahnya keluar dari pintu. Ia menoleh, " Aku yakin Duchess akan memaafkan Kakak."


Duke Marcello mengangguk tersenyum, ia akan berusaha mendapatkan maaf dari Duchess, apapun yang terjadi. Ia akan berusaha mendapatkan wanitanya kembali. Biarpun Duchess memarahinya, ia tidak akan melawan sedikit pun.


Pada malam harinya.


Duke Marcello menatap kamar Duchess Natalien, saat bertunangan, Duchess Natalien akan tidur di kamar itu, kamar yang Duchess Natalien hias sendiri. Ia sangat merindukan kejadian di masa lalu, di mana ia dan Duchess Natalien berbagi dalam segala hal, seandainya ia tidak bodoh, Duchess Natalien tidak akan kecewa padanya.


"Duchess."


"Tolong buka pintunya." Duke Marcello memohon, sejak pertengkaran itu, ia tidak melihat lagi Duchess Natalien, sejujurnya ia tidak ada keberanian untuk menemuinya, tapi mendengarkan Duchess Natalien tidak keluar dari kamarnya. Ia pun takut terjadi sesuatu.


Seluruh penghuni kediaman itu pun sudah tahu, sehingga mereka menghormati Duke Marcello sama seperti sebelumnya, walaupun ada kesedihan di hati mereka karena telah mengetahui Duke Marcello sakit dan Metteo berperan sebagai dirinya demi kediaman Duke dan Duchess. Namun para pelayan pun tak mendukung peran Metteo yang semena-mena pada Duchess. Kini mereka mengerti, orang yang berbuat kasar itu bukanlah majikan mereka yang asli.


"Tuan, sudah waktunya meminum obat Tuan," Kesatria Erland mengingatkan, Duke Marcello belum meminum obatnya.


"Aku masih ada urusan dengannya Erland, jadi biarkan aku menjelaskannya."


"Tapi kesehatan Tuan."


"Diamlah!" Duke Marcello kesal, ia tidak ingin beribut masalah obat. Baginya, Duchess lebih penting dari kesehatannya.


Pintu itu terbuka lebar dan menampilkan seorang wanita, aura di ruangan itu pun keluar, sunyi dan gelap. Seakan tidak berpenghuni.


"Duchess, aku sudah membawakan makan malam untuk mu. Aku tahu Duchess masih belum makan malam, jadi aku membawanya untuk Duchess."


"Aku ingin berbicara dengan mu, Duke. Masuklah..."


Duke Marcello tanpa ragu menggerakkan kursi rodanya, ia masuk kemudian pintu itu tertutup rapat kembali.


"Masalah itu aku bisa menjelaskannya Duchess." Duke Marcello menatap kosong, kemudian menoleh. "Maafkan aku Duchess." Ia meraih tangan kiri di sampingnya. "Maafkan aku." Ia mencium tangan itu sambil meneteskan air mata.


Duchess Natalien menarik tangannya, kemudian melihat ke arah lain. "Aku tidak berhak memarahi Duke, tapi masalah seperti ini Duke tidak mau berbagi dan malah melakukan sebuah hal yang tak pernah aku bayangkan, apa Duke kira pernikahan kita pernikahan palsu sehingga kita tidak perlu terbuka dalam segala hal apapun?"


"Iya ini salah ku, bisakah Duchess memaafkan ku."


"Maaf! aku bisa memaafkan tapi hati ku masih kecewa."


"Maafkan aku Duchess, aku sangat mencintai mu, tapi aku tidak bisa, aku takut kamu sedih."


"Janji pernikahan itu telah memutuskan bahwa kita saling mempercayai, mencintai, menyayangi dan menghargai."


"Duchess!"


"Apa Duke pikir semuanya sudah selesai? Duke aku butuh istirahat, taruh saja makan malam itu di atas nakas."


"Duchess! aku mohon maafkan aku." Duke Marcello tak putus asa, ia sangat takut kehilangan Duchess Natalien dan berharap wanita itu mau memaafkannya.