Luka Duchess

Luka Duchess
Hal Yang Lebih Gila



Bukannya pergi, Keyna malah menuju ke arah pasangan suami istri itu. Ia malah ingin masuk ke dalam kediaman Duke dan mengawasi kekasihnya. "Duke aku ingin menginap di sini, biarkan aku menemani kekasih ku," ujar Keyna memelas.


Mata Duchess Natalien sejenak berseru tatap dengan Metteo.


"Tidak, Kak. Aku akan pulang." Metteo kembali menarik tangan Keyna. Ia tidak akan membiarkan kekasihnya membuat keributan di kediaman Kakaknya.


"Metteo, kamu mau kemana? Tinggalah di sini, seharusnya kamu sudah kembali."


Smirik kecil keluar dari sudut bibir Keyna. Akhirnya, Metteo kembali dan ia bisa mengawasinya. "Benar! Apa kamu tidak merindukan Duke Marcello, Metteo?" tanya Keyna menimpali.


"Aku akan kesini setelah membawanya pergi, Kak."


"Metteo, jangan bersikap kasar pada perempuan. Biarkan Keyna tinggal di sini," Duke Marcello menoleh, "Bagaimana Duchess?"


Ah


"Terserah Duke," ujar Duchess Natalien santai, ia ingin tahu, seberapa besar kebencian Keyna padanya. Ia bukan wanita bodoh yang tidak mengerti keterdiaman itu, entah apa yang akan di lakukannya? ia harus waspada dan hati-hati.


"Ya, sudah. Masuklah Keyna, kamu bisa menginap di sini selama seminggu. Anggap saja kediaman mu sendiri."


Duke Marcello merangkul pinggang ramping Duchess Natalien, kemudian memutar tubuhnya. Ia begitu senag, setidaknya, hubungan Keyna dan Metteo kembali terjalin seperti sedia kala.


"Sayang, apa kamu tidak ingin sesuatu?" tanya Duke Marcello. Dia mengetuk koran yang berada di atasnya, sedangkan kepalanya berada di atas pangkuan Duchess Natalien.


"Tidak juga, kita sudah lama tidak keluar. Bagaimana kalau besok pagi kita Kota Havley, sudah lama kita tidak kesana. Aku ingin kita kembali bersama mengenang kenangan itu."


Duke Marcello kembali mengingat kejadian dulu, dimana ia dan Duchess Natalien pernah menghabiskan waktu bersama di sana saat Fastival.


"Duke! kesehatan Duke jauh lebih penting. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Duke." Duchess Natalien mengingat sisa kejadian pada pemilik tubuh itu. Apa lagi sekarang akhir bulan, biasanya Fastival itu akan di peringati beberapa hari lagi untuk menyambut bulan baru.


"Aku sudah sehat," Duke Marcello beringsut duduk, ia meraih tangan Duchess Natalien. "Kamu lihat, aku sudah sehat."


Duchess Natalien mengelus dagu Duke Marcello. "Ya, kamu akan selalu sehat. Duke Marcello akan sehat seperti sedia kala."


Duke Marcello kembali tidur di atas pangkuan Duchess Natalien, kemudian memejamkan matanya. Merasakan elusan yang lembut dan membuat matanya berat.


"Kami lihat! apa kamu tega untuk menghancurkan mereka?!" Keyna memang sengaja menarik Metteo untuk melihatnya. Biarkan kekasihnya itu merasakan sakit dan secepatnya melupakan Duchess Natalien.


"Apa kamu gila? aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Duchess, untuk apa kamu memperlihatkannya pada ku." Metteo langsung menarik tangannya, hatinya panas dan hancur, sudah pasti ia cemburu. Namun rasa itu di tahan sekuat mungkin, karena Duchess Natalien tidak mungkin ia jangkau.


"Aku tidak percaya Metteo."


Metteo berbalik, "Seharusnya kamu pergi saja dari sini dan jangan membuat onar."


"Apa aku harus percaya pada mu? aku yakin kamu akan memilih tinggal di sini dan aku akan selalu mengawasi mu," ujar Keyna. Sejujurnya hatinya sangat sakit, Metteo telah banyak berubah. Ia seakan tidak menemukan Metteo kembali. Saat ini sebenarnya ia rapuh, ia hanya bersikap mengancam padanya. "Kamu tahu, Metteo. Aku sangat mencintai mu dan aku akan melakukan apapun, bahkan sekalipun itu adalah hal yang lebih gila."