
Metteo atau Duke Marcello, ia duduk memandangi sebotol anggur di hadapannya. Menuang cairan merah itu ke dalam gelas, kemudian menaruh sebotol itu dengan kasar.
Hahaha
Metteo tertawa, ia menertawai hidupnya sendiri. Berapa kali ia yakin untuk tidak terbawa dalam alunan nada kehidupan kakaknya, namun ia justru terbawa dan malah menikmatinya.
krek
Secarik cahaya pintu yang terbuka itu menerangi ruangan itu. "Tuan."
Wajah laki-laki yang terlihat rapuh itu mendongak.
Sang Kesatria yang mengerti keadaan itu menghela nafas. "Besok pagi Tuan Marcello akan berangkat."
"Baguslah, aku sudah tidak sabar menantinya."
"Sebaiknya Tuan melupakan perasaan Tuan."
"Kamu menyalahkan ku?!" sarkas Metteo. "Seenaknya saja kamu katakan aku harus melupakan. Kamu tidak tahu semenderitanya aku. Aku sudah mencoba dan kamu malah menyalahkan diri ku, salahkan dirinya yang sudah menjebak ku ke dalam perasaan ini. Salahkan dirinya!"
prang
Botol berisi cairan merah itu terhempas ke lantai, kaca dan cairan itu berserakah di mana-mana.
"Sudah ku duga semuanya akan seperti ini, tapi Tuan tetap harus mengalah, karena Duchess istri sah Duke Marcello."
Kesatria Erland pun memberikan hormat, sampai di ambang pintu ia melihat Duchess Natalie berdiri. "Duchess!"
"Ada apa?" Duchess Natalie menaikkan salah satu alisnya saat melihat Kesatria Erland yang terkejut. "Kamu seperti melihat hantu saja."
"Ah, maaf Nyonya. Aku sempat terkejut, apa Nyonya ingin menemui Tuan."
"Iya," ujar Duchess Natalie. Ia ingin membahas tentang Metteo yang akan di bawa ke kediamannya.
Kesatria Erland pun melirik, ia bingung harus menjawab apa. "Emm itu,, Duke sepertinya sibuk."
Duchess Natalie mencium bau-bau mencurigakan, ia langsung menerobos masuk. "Duke!"
Metteo berdiri, ia langsung berlari dan memeluk Duchess Natalie.
"Duke.."
Duchess Natalie membalas pelukan Duke Marcello, ada sesuatu yang mendorongnya untuk membalas pelukan itu.
"Duke.."
Duchess Natalie mengurai pelukannya, ia melihat kedua mata Duke Marcello mengeluarkan air matanya. "Duchess! apa aku salah."
Duchess Natalie merasa iba, ia tidak pernah melihat Duke Marcello serapuh ini.
"Katakan pada ku, dimana letak kesalahan ku?"
Duchess Natalie mengusap punggung Duke Marcello, ia membiarkan Duke Marcello mengeluarkan beban pikirannya, sampai saatnya tenang dan bisa menceritakannya.
Tidak ada yang mengeluarkan suara, Duchess Natalie tetap merengkuh tubuh tegap itu. "Duke ada apa? sebenarnya apa yang terjadi?"
"Katakan aku tidak bersalah, aku mohon."
"Aku mohon, aku mohon." Suara itu semakin melemah.
Duchess Natalie menepuk punggung Duke Marcello. "Iya kamu tidak bersalah, aku akan mendukung apa pun keputusan Duke, selama itu benar," ucap Duchess Natalie. pikirannya melayang pada Keyna, entah mengapa? ia merasa keterpurukan Duke ada kaitannya dengan Keyna.
"Duchess, bolehkah malam ini kamu temani ku tidur, aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku mohon..." Metteo mempererat pelukannya.
"Ba-baiklah," ujar Duchess Natalie tampak ragu.
Duchess Natalie membawa Metteo ke arah ranjang, sebelumnya itu, ia membuka jas yang melekat di tubuh Duke Marcello. Kemudian menaruhnya di gantungan pakaian. "Duchess temani aku sampai tidur, jangan pergi."
"Emm, baiklah." Duchess Natalie menurut, ia membaringkan Duke Marcello, kemudian ikut menjatuhkan kepalanya ke bantal empuk itu. Saling menghadap dan menatap, Duke Marcello tersenyum kemudian menutup matanya. "Terima kasih Duchess, aku mencintai mu."
#Maaf yaa jarang update, biasa ada masalah.😊