
"Metteo!"
Laki-laki yang tengah menikmati indahnya sore di teras depan itu membuka matanya, semenjak kecil, ia selalu menikmati waktu sore, memejamkan matanya dan merasakan angin sejuk. "Duchess!"
"Menikmati waktu sore sangat nyaman, bukan." Duchess Natalien memutar tubuhnya, ia melihat matahari yang mulai tenggelam. "Bawa Keyna pergi, aku tidak suka dengannya."
"Apa Keyna membuat masalah?" tanya Metteo khawatir.
"Iya, keberadaannya membuat ku tak nyaman," ujar Duchess Natalien. "Aku merasa ada sesuatu yang aneh padanya. Tatapannya seolah mengatakan dia sangat mengenal Duke. Aku khawatir hubungan ku akan merenggang."
"Jangan khawatir, aku akan membujuk Keyna."
Sedangkan di halaman depan.
Keyna tersenyum licik, ia akan memanfaatkan momen ini. Dimana ia akan memberikan keraguan pada Duke Marcello tentang istrinya, Duchess Natalien. Ia akan menghancurkan setiap deburan kebahagiaan di antara mereka.
"Duke, coba kamu lihat di teras," ujar Keyna. Duke Marcello mendongak. Ia melihat istrinya bersama adiknya.
"Mereka akrap sekali," ujar Keyna dan tentunya membuat Duke Marcello menoleh. "Sebelumnya mereka memang sudah berpura-pura menjadi pasangan," imbuhnya lagi, ia melirik Duke Marcello yang sudah mengalihkan penglihatannya. "Apa Duke tidak menegur mereka? jujur saja, aku takut Duchess akan menaruh perasaan. Bagaimana pun juga, keduanya pernah bersama entah itu berbagi tempat tidur atau...." Keyna menjeda.
"Tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka dan aku mempercayai Duchess. Dia wanita yang jujur."
"Tapi melihat mereka tertawa."
Seketika Duke Marcello dadanya terasa sesak, Duchess Natalien tertawa lepas bersama adiknya, entah apa yang mereka bicarakan. Namun ia merasa Duchess Natalien seperti sangat mengenal Metteo, apa lagi Metteo tidak pernah tertawa seperti itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa di antara mereka Keyna, aku percaya pada mereka. Keduanya adalah orang yang aku cintai." Duke Marcello menggerakkan kedua roda itu. Hatinya terasa di himpit, ada sesuatu yang memanas. Namun ia yakin, semuanya akan baik-baik saja. Tetapi yang ia khawatirkan bukanlah Duchess, melainkan adiknya, Metteo.
Di lantai atas.
Duchess Natalien tidak menyadari sesuatu yang terjadi di bawah sana, setelah mengatakan dengan serius, entah ucapan mana. Kedua tertawa tanpa alur yang benar di setiap perkataan itu.
"Duchess, kamu tahu kakak ku pernah naik pohon dan dia bukannya jatuh malah di kerumunin semut."
Duchess Natalien menggeleng, ia memegang perutnya yang terasa kram karena tertawa.
"Nyonya, Tuan Duke sedang menunggu Nyonya di kamarnya," ucap seorang pelayan.
"Hah, Duke.. Aku akan kesana. Tolong kamu ingat perkataan ku, aku tidak mau rumah tangga ku merenggang."
Metteo mengangguk, meskipun ada seribu duri yang menancap di dadanya.
Sedangkan Duchess Natalien, langkahnya memasuki kamarnya, melihat seseorang yang tak lain suaminya tengah menghadap ke luar jendela.
"Duke."
Duchess Natalien berjongkok, Duke Marcello menggerakkan tangannya, menyelipkan anak rambut yang mengganggu wajah Duchess. "Aku rindu," lirih Duke Marcello, sejujurnya ia takut, perkataan Keyna menjadi nyata. Ia takut kehilangan Duchess, sama seperti kebodohannya dulu yang tak bisa menghargai cintanya.
Duchess Natalien memeluk Duke Marcello, "Peluklah aku saat kamu merindukan ku, Duke."
Duke Marcello tersenyum tipis. "Aku takut kehilangan mu Duchess."