
Sepanjang perjalanan, Duchess Natalie membuang muka, seakan begitu jijik melihat Duke Mercello. Hal itulah yang membuat Duke Marcello bertanya-tanya.
"Duchess, apa kamu tidak enak badan?"
"Aku baik-baik saja," ujarnya tanpa melihat ke arah Duke Marcello.
"Hais.."
"Jika Duchess tidak enak badan, kita tidak perlu…"
"Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa." Duchess Natalie melihat ke arah Duke Marcello, kemudian memutar lehernya kembali.
Duke Marcello pun menghela nafas, ia bingung dengan sikap perempuan. Dikit-dikit marah, dikit-dikit saja baik dan segalanya ia bingung, termasuk Duchess Natalie. Wanita itu terlalu unik, saking uniknya ia tidak bisa menebak pikiran Duchess Natalie. Lain dengan Keyna, wanita itu lebih mudah di bujuk dengan hadiah atau hal lainnya.
Kereta kuda itu sampai di sebuah kediaman yang tak jauh dari Kota. Duchess Natalie turun, namun hatinya berdetak tak karuan.
"Ada apa Duchess?" Tanya Duke Marcello khawatir, ia mengkhawatirkan Duchess Natalie terdiam.
Tap
Tap
Tap
Duchess Natalie melangkah lebih dulu, seperti ada magnet yang menariknya untuk memasuki kediaman itu.
Duke Marcello terdiam dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu telah melangkah lebih jauh darinya dan saatnya tiba. Ia harus melepaskannya, wanita yang telah mengusiknya.
Krak
Deg
Duchess Natalie menghentikan langkahnya, kedua mata itu saling adu pandang, ada aliran listrik cinta yang membuat keduanya tak bisa mengkedipkan matanya. Sebuah gelanjar aneh di dalam tubuhnya. Duchess Natalie mendekat, ia menatap Duke Marcello yang berpura-pura menjadi Metteo.
Tanpa terasa air mata Duchess Natalie mengalir, bersamaan itu dengan air mata Duke Marcello. Ada sebuah rasa rindu yang tak mampu keduanya ucapkan.
Dukr Marcello menahan bibirnya agar tidak mengucapkan kata-kata indah yang selalu ia ucapkan saat bertemu dengan Duchess Natalie. Setiap ia bertemu hanya tiga kata yang selalu ia ucapkan 'Aku Mencintai Mu'
Namun sekarang, bibir bawahnya ia gigit agar tidak mengatakan apapun.
"Duchess!" Panggilan Duke Marcello atau Metteo asli membuyarkan lamunan keduanya. Sejujurnya ia merasa tidak suka, namun ada tembok yang menghalangi keduanya.
"Ah, iya. Maaf atas ketidak sopanannya Duchess," ujar Duke Marcello berkata lirih. "Silahkan masuk," seorang pelayan mendorong kursi rodanya.
Duchess Natalie menyapu seluruh ruangan yang di tempati oleh Duke Marcello, rasanya aneh. Ia merasa nyaman berada di ruangan itu, ruangan yang membuatnya tenang.
"Silahkan duduk Duchess dan Duke."
"Maaf, kami datang tanpa memberitahu lebih dulu." Duchess Natalie memang tidam tahu perihal Duke Marcello yang telah mengetahui jika Duchess Natalie akan datang.
Suara itu, aku merindukannya.
"Tidak apa-apa," ujar Duke Marcello.
Keduanya pun kembali adu pandang.
Ehem
"Maaf kak, maksud ku Adik. Kedatangan kami terburu-buru. Jadi belum sempat memberitahukan adik," ujar Metteo berusaha tenang.
"Aku baru tahu, Adik tinggal tidak jauh dari Ibu Kota. Maaf kami baru datang menjenguk mu."
Adik? Aku suami mu Duchess. Tuhan.. Aku merindukannya, aku ingin memeluknya.
Duke Marcello kembali membatin dalam-dalam.
"Ah, iya.. Tidak masalah."
Saling diam, ruangan itu menjadi hening. Ketiganya terasa canggung untuk memulai kembali pembicaraannya.
"Duke, bagaimana kabar Duke?" Tanya Duke Marcello yang berpura-pura menjadi Metteo.
"Aku baik sangat baik."
"Oh, syukurlah. Aku merasa senang. Sebaiknya Duke dan Duchess menginap di sini. Anggap saja rumah sendiri," ujar Duke Marcello.
Metteo yang ingin menolak, namun ia tak bisa mengatakannya.
"Baiklah, tidak ada salahnya kita di sini," ujar Duchess Natalie. Setidaknya ia harus akrap dengan Metteo, adik dari Duke Marcello.
Diam-diam, hati Duke Marcello berbunga-bunga. Akhirnya, ia bisa melihat Duchess Natalie kembali. Akhirnya ia bisa melihat senyumannya dan kehangatan hubungannya.
Sedangkan Metteo, ia merasa panas. Ia takut, Duchess Natalie akan menyadarinya. Bukankah, cinta lama bisa tumbuh kembali.
Setelah mengahbiskan waktu bersama, Duchess Natalie memasuki ruangan yang di khususkan olehnya. Ruangan yang luas bernuansa putih dan harum, sangat nyaman untuk bersantai apalagi membaringkan tubuhnya di kasur empuk di hadapannya itu.
"Uh,, enaknya…"
Sedangkan di tempat lain, kedua laki-laki tengah bersi tegang. Ada yang tersenyum senang dan tulus, ada yang senyum di balik kepahitan.
"Terima kasih, telah membawanya."