Luka Duchess

Luka Duchess
Berpura-pura sedih



"Duchess!" Duke Marcello menggerakkan kursi rodanya ke arah meja rias. Dengan cekatan tangan wanita itu melepas antingnya satu per satu, melepaskan jepitan rambut yang menghiasi kepalanya. "Maaf! aku tidak tau Duchess menanyakan kesehatan ku."


"Sudah kewajiban ku," Duke Marcello sadar, perkataan Duchess Natalien terlalu datar, ia tau wanita itu sedang marah padanya.


"Ini obat mu, Duke." Duchess Natalien menggeser obat di hadapannya. Kemudian menoleh, demi kesembuhan Duke. Ia tidak boleh terlalu keras pada laki-laki di hadapannya.


"Minumlah obat ini."


Duke Marcello menggeleng. "Maaf! aku tidak akan meminum obat itu sebelum amarah Duchess menghilang. Apa yang di inginkan Duchess? aku akan menurutinya."


"Kalau aku meminta Duke untuk mengusir Keyna. Apa Duke sanggup?"


"Aku tidak menyuruh Duke mengusirnya dengan kejam, tapi aku... Sebaiknya aku yang mengalah. Aku yang akan pergi dari kediaman ini. Maaf aku egois, tapi aku butuh kenyamanan."


Duchess Natalien melenggang ke arah lemari, ia mencari baju tidur untuk ia pakai.


"Baiklah!" Duchess Natalien menoleh. Ia merasa tak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Aku akan menyuruh Keyna keluar bersama Metteo atau mereka hidup dalam satu atap, Bagaimana?"


"Demi Duchess."


Duchess Natalien tersenyum, ia berlari dan memeluk Duke Marcello. Tangan Duke Marcello mengusap surai hitamnya. "Terima kasih Duke."


Duke Marcello sangat senang, bibir itu kembali mekar seperti bunga mawar. Walaupun Keyna adalah teman masa kecilnya, ia tidak mungkin lebih mementingkan kebahagian Keyna dari pada kebahagiaan istrinya.


"Aku mencintai mu, Duchess."


"Maaf Keyna."


Sedangkan di ruangan lain.


Metteo tengah menyuruh seorang pelayan untuk membantu membereskan pakaian Keyna ke dalam koper. Laki-laki itu berdiri seraya bersendekap. Tekadnya telah bulat, besok ia dan Keyna akan meninggalkan kediaman Duke. Perkataan Natalien ada benarnya, ia takut Keyna malah jatuh cinta pada sang kakak. Bukan karena ia meragukan Keyna, tapi perasaannya juga berubah setelah bertemu dengan Duchess Natalien. Bisa saja Keyna juga seperti dirinya.


"Metteo, apa yang kamu lakukan?" tanya Keyna. Ia menghentikan pelayan yang memasukkan gaun ke dalam kopernya. "Apa maksud mu, Metteo."


"Besok kita akan kembali," ujar Metteo dengan santai.


"Kembali?! aku tidak mau!" Tukas Keyna. Metteo menatap selidik.


"Kenapa? kenapa tidak mau?" imbuh Metteo.


Keyna gelagapan, ia tidak mau Metteo tau dirinya teman masa kecil Duke Marcello. Bisa-bisa Metteo malah semakin bertekad menjauhkan dirinya dengan Duke Marcello. "Ya, ya karena Duke Marcello masih belum sembuh. Jadi kita harus menunggu kesembuhan Duke Marcello." Keyna berusaha tenang dan tak membuat Metteo curiga.


Metteo mendekat, secepat kilat Keyna memeluk Metteo. "Metteo, kamu tahu. Aku sangat mencintai mu, jadi aku melakukannya untuk dirimu. Demi kita, aku ingin di hadapan Duke Marcello di pandang wanita baik-baik." Keyna merangkup kedua pipi Metteo. "Kamu percaya, demi hubungan kita."


Entah percaya atau tidak, namun Metteo sedikit mempercayai dan tidak mempercayai. Pikirannya di ambang kebingungan. "Tapi tetap saja, kita harus pergi."


"Apa Duchess membenci ku?" Keyna mulai menangis. "Aku akan meminta maaf padanya," ujarnya dengan wajah iba.


Metteo memeluk Keyna, sedangkan Keyna tersenyum licik. "Bukan, Duchess tidak membenci mu. Hanya saja, dia ingin memiliki waktu berdua dengan Duke. Aku harap kamu mengerti."