
Dada Adelien bagaikan kapas yang terbang tanpa tersisa. Metteo, hanya menganggapnya saudara jauh. Jadi bagaimana ia bisa menaklukkan Metteo?
"Kamu hanya peduli padanya kan?" Keyna menunjuk Adelien. "Dan kamu seakan lupa bahwa..."
"Cukup! kamu membuat ku kecewa Keyna." Metteo menarik tangan Adelien keluar dari Restauran itu. Adelien melepaskan cekalan Metteo, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya. "Maaf, sebaiknya paman selesaikan dulu urusan paman dengannya."
"Maaf, karena sudah membuat Paman dan nona Keyna salah paham."
"Kamu bicaraa apa Adelien, hubungan paman dan Keyna memang sedang tidak sehat."
"Kita pulang saja, biar nanti kusir kuda yang menyampaikan pada Duchess dan Duke kalau kita pulang lebih dulu."
Adelien mengangguk, ia kecewa. Rasanya menembus hati Metteo, jauh lebih kokoh dari pada betton, tapi ia tidak akan menyerah sebelum Keyna dan Metteo menikah.
"Maaf, Keyna mempermalukan dirimu." Metteo mengusap pipi putih itu. Adelien tersenyum, ia menggenggam tangan Metteo kemudian melanjutkan langkahnya. "Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Pada malam harinya.
Duchess Natalien melihat Adelien berada di teras depan, wajah wanita itu kusut, seperti benang yang akan patah. Duchess Natalien mendekat. "Udara yang dingin," ujarnya sekedar basa-basi.
"Ya, udaranya sangat dingin. Namun ada sesuatu yang membuat ku panas."
"Hati mu?" Tebak Duchess Natalien. "Tidak mudah untuk memindahkan hati."
"Apa dia masih mencintai mu?"
"Jangan tanya pada ku, aku tidak mau memasuki hatinya. Aku hanya memasuki hati Duke."
Adelien melirik, wanita anggun di sampingnya memanglah menjadi idaman setiap para lelaki, pantas saja. Duchess Natalien di kenal ke anggunannya, kecerdasannya dan juga cantik. "Duke beruntung,"
"Jadilah orang yang mau beruntung."
"Maksud Duchess?" tanya Adelien ambigu.
Adelien menunduk. "Dia hanya menganggap ku tidak lebih dari saudara."
"Hanya sekarang, kesempatan masih ada." Sanggah Duchess Natalien. Setiap orang mengejar cinta, tak ada kata menyerah sebelum menikah, masih banyak kesempatan. Hari, bulan dan tahun bukan hanya sekarang. Jadi hanya bisa memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Duchess! bagaimana perasaan mu saat Metteo berpura-pura menjadi Duke?"
"Sakit hati, kecewa, sedih semuanya tidak bisa di ungkapkan, tetapi aku tau. Duke melakukannya demi diriku, meskipun itu kebohongan. Aku tidak bisa hanya melihat sisi keburukannya. Sama halnya dengan kita, kalau kita ingin membenci seseorang. Lihatlah kebaikannya pada kita." Tutur Duchess Natalien.
"Ya, Duchess benar."
Dari arah pintu, terlihat seseorang yang menggunakan tongkat menghampiri keduanya. "Sayang, aku mencari mu. Ternyata kamu di sini."
Duchess Natalien mengelus dada Duke Marcello. "Maaf, aku hanya mengobrol sebentar. Kenapa tidak tidur?"
"Kamu tau sendiri, aku tidak bisa tidur tanpa mu. Jauh dari mu, aku harus bergantung pada obat."
"Nona Adelien, maaf! aku harus menemani Duke."
Adelien mengangguk, ia iri melihat sepasang kekasih itu saling membutuhkan. Duchess Natalien bagaikan nyawa Duke. Laki-laki itu sangat bergantung pada Duchess Natalien. Lalu kapan dirinya akan ada orang yang membutuhkannya.
"Adelien, aku mencari mu. Ternyata kamu di sini."
Adelien mengusap kedua lengannya dengan menyilang.
"Haih." Metteo memberikan jubah hangatnya, memakaikannya ke tubuh Adelien. "Soal tadi, maaf!" Metteo berkata tulus. Ia merasa bersalah atas sikap Keyna yang semaunya sendiri.
"Aku sudah memaafkan Paman! sebaiknya kita menjauh, aku takut.."
"Hey, aku minta maaf Adelien." Metteo memeluk Adelien, mendekapnya dengan erat.
Sedangkan tak jauh dari keduanya, ada sepasang mata yang merasa panas.