
Pada malam harinya.
Seperti biasa, hidangan makan malam itu selalu istimewa menurut Duke, bukan tertuju pada hidangannya melainkan pada wanita di sampingnya. Senyumannya menjadi penguatnya setiap ia menghembuskan nafasnya.
Hari ini pun, meja makan itu penuh canda tawa Duchess dan Adelien, ia bisa melihat. Istrinya jauh lebih nyaman bersama Adelien.
"Adelien, tinggal lah di sini lebih lama, istri ku sepertinya nyaman dengan mu."
Metteo menoleh, ia membenarkan perkataan sang kakak. "Benar Adelien, tinggalah di sini," ujar Metteo tersenyum. Ia sangat bahagia jika ada Adelien di rumah ini.
"Em iya," jawab Adelien canggung.
"Bagaimana kalau nanti kalian keluar?" usul Duke.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Keyna. Keduanya menatap memelas dan Duchess Natalien memandang enyah. "Bukankah nona Keyna sakit, kenapa langsung tiba-tiba sembuh. Orang sakit itu butuh waktu untuk sembuh."
"Aku, aku sudah sembuh." Dia menunduk. "Aku tidak merepotkan Duchess, kalau Duchess tidak suka. Aku tidak akan ikut."
"Bukannya aku tidak suka dengan mu, tapi aku lebih nyaman dengan Adelien, mungkin karena kita sudah kenal lebih lama."
"Aku ingin dekat dengan Duchess."
"Duchess apa sebaiknya kamu dekat dengan Keyna? alangkah baiknya kalau kalian mengakrapkan diri."
"Baiklah," ujar Duchess Natalien. "Metteo dan Duke juga ikut."
"Baiklah." Duke Marcello mengangguk senang, selama menjalin kekasih. Biasanya ia dan Duchess selalu keluar bersama.
Duke Marcello, Duchess Natalien dan Adelin duduk di kereta yang sama. Sedangkan Metteo dan Keyna duduk di kereta yang berbeda. Kedua kereta itu pun beriringan keluar dari kediaman Duke. Tepat di salah satu Restaurant, kereta kuda itu pun berhenti.
"Sayang hati-hati." Duke Marcello pun tak menggunakan kursi rodanya, dia berjalan menggunakan tongkat sebagai penegak tubuhnya.
"Sayang, maaf aku merepotkan mu. Seharusnya aku tidak ikut, biar kamu dan Adelien saja."
"Aih, siapa yang merasa di repotkan. Justru aku sangat senang. Duke mau ikut dan menemani kita."
"Benar, Paman. Kita sudah lama tidak keluar bersama," ujar Adelien. Namun matanya terasa perih melihat Metteo yang membantu Keyna turun.
Duchess Natalien menggenggam tangan Adelien. Sebelumnya, ia telah menasehati Adelien bahwa jangan menampakkan kesukaannya pada Metteo.
Adelien tersenyum samar, ia melangkah maju ke arah Metteo. "Paman, eh nona Keyna," ujar Adelien tersenyum ramah. "Paman ayo kita ke toko gaun, sudah lama Paman tidak mengajak ku berbelanja."
Adelien pun menarik lengan Metteo, dan laki-laki itu tanpa sadar menuruti langkah Adelien. Sedangkan Duchess Natalien tersenyum kecil melihat Keyna yang memanggil Metteo. Namun tidak di perdulikan.
"Sepertinya sangat senang membuatnya kesal."
"Kenapa sayang? Hem Metteo malah meninggalkan Keyna."
"Metteo!"
"Sayang!" tegur Duchess Natalien. "Biarkan mereka bersama. Sudah bertahun-tahun Adelien tidak menghabiskan waktu bersama dengan Metteo."
"Tapi...,"
"Sudah, ayo kita masuk." Duchess Natalien melingkarkan tangannya ke lengan Duke Marcello. Keduanya masuk ke dalam Restaurant.
"Sial! kenapa aku malah di tinggal sendiri."
"Duchess tunggu! aku ikut."
Dia ini, wanita yang tidak punya urat malu.
Duchess Natalien membiarkan Keyna ikut, selain untuk mendekatkan Adelien dan Metteo, ia juga ingin membuat Keyna tau akan posisinya.
Keyna duduk di antara keduanya, meskipun dengan tersenyum terpaksa. Ia tidak akan membiarkan Duchess bersama dengan Duke Marcello.
Seakan tidak ada Keyna, keduanya bermesraan, Duchess Natalien meniupkan teh yang masih panas itu, lalu membantu Duke Marcello meminumnya. Bahkan, tangan Keyna gemetaran melihat kemesraan itu.
"Ah, maaf Nona Keyna kalau tidak membuat mu nyaman. Aku tidak bisa jauh dengan Duke, apapun yang Duke inginkan dan segala aktivitasnya, aku ingin selalu berada di sampingnya.
"Ah, tidak apa-apa. Duke beruntung menjadikan dirimu sebagai istrinya."
"Tentu saja."
Sedangkan di bawah meja itu, tangan Keyna meremas taplak putih itu. "Aku ke toilet."
"Ya, silahkan."
Duchess Natalien melirik Duke, ia jengah dengan ulat lintah yang menempelinya. "Sayang, ayo kita keluar. Aku sudah kenyang," ujarnya.
Duchess Natalien buru-buru berdiri, lalu membantu sang suami berdiri. Keduanya keluar tanpa menunggu Keyna yang masih di dalam toilet.